Rabu, 10 Februari 2010
EKSEKUTIF AS
Bermewah-mewah Menggunakan Uang Rakyat

Sabtu, 21 Maret 2009 | 02:53 WIB

Joice Tauris Santi

Bank of the Ozarks di Arkansas menerima dana talangan 75 juta dollar AS dari pemerintah. Namun, manajemen bank itu membayar biaya asisten pribadi sebesar 43.400 dollar AS atau Rp 520 juta untuk mengoordinasi sebuah acara amal di rumah George Gleason, CEO bank itu.

International Bancshares of Texas menerima dana talangan sebesar 216 juta dollar AS. Namun, CEO-nya, Dennis Nixon, beserta keluarganya masih terbang menggunakan pesawat jet perusahaan.

Kisah-kisah tadi merupakan bagian dari kebiasaan hidup mewah para eksekutif perusahaan jasa keuangan di Amerika Serikat. Kebiasaan ini tak hilang sekalipun perusahaan mereka menerima dana talangan dari pemerintah. Dana para pembayar pajak. Uang rakyat.

Equilar, perusahaan jasa penyusun struktur gaji dan kompensasi di New York, mencatat, sebanyak 61 persen atau 121 bank rata-rata membayar biaya country club sebesar 10.835 dollar AS atau Rp 130 juta untuk para eksekutifnya tahun 2008.

Sedangkan 74 persen bank mengeluarkan dana mobil dan parkir rata-rata 20.668 dollar AS atau Rp 250 juta. Pengeluaran besar lain adalah biaya pensiun para eksekutif yang rata-rata mencapai 3,5 juta dollar AS atau Rp 42 miliar.

Kasus AIG

Menjadi eksekutif pada perusahaan-perusahaan sektor keuangan memang bergelimang fasilitas. Tidak hanya gaji dan bonus fantastis, tapi juga berbagai fasilitas. Mulai dari sopir dan asisten pribadi, pesawat jet mahal, hingga keanggotaan klub kebugaran mahal.

Salah satu alasan memanjakan para eksekutif itu adalah agar mereka tidak kabur dibajak perusahaan pesaing. Dalam industri keuangan, bajak-membajak eksekutif dengan iming- iming fasilitas lebih mewah sudah biasa. Banyak perusahaan yang merahasiakan rapat-rapat berapa mereka memberikan bonus atau fasilitas kepada eksekutifnya karena khawatir pesaing akan menawarkan kompensasi yang lebih besar.

Hanya saja, industri keuangan di AS yang sedang terpuruk karena krisis ekonomi ternyata tidak mengubah kebiasaan bermewah-mewah tersebut. Dan, perilaku ini bukan saja didominasi lembaga keuangan raksasa di AS, tetapi juga bank atau lembaga keuangan ukuran kecil.

Dalam keadaan perekonomian sehat dan normal, pemberian bonus fantastis masih dapat diterima. Namun, dalam suasana krisis seperti sekarang ini, pemberian bonus besar di kala perusahaan merugi, bahkan mendapatkan kucuran dana talangan dari pemerintah, bukanlah hal yang bijaksana.

Masalah pemberian bonus perusahaan asuransi raksasa AIG, misalnya, menjadi topik hot dalam dua pekan ini, baik di Gedung Putih, di Kongres, maupun di jalan. AIG membagikan bonus hingga 165 juta dollar AS atau hampir Rp 2 triliun.

Padahal, AIG yang merupakan perusahaan terbesar ke-18 di dunia sebelumnya menerima dana talangan sebesar 180 miliar dollar AS dan merugi 61,7 miliar dollar AS hanya pada periode kuartal keempat tahun lalu.

Persoalan bonus dalam kasus AIG memang seperti buah simalakama. Menurut CEO AIG Edward Liddy, bonus itu sudah tertera dalam kontrak dan melanggar kontrak membawa konsekuensi hukum. Selain itu, AIG memerlukan tenaga andal yang dapat membantu perusahaan asuransi itu keluar dari masalah. Iming-iming bonus besar sekali lagi menjadi senjata ampuh untuk menahan mereka tetap bekerja di AIG.

Rakyat AS berang karena dana talangan dalam Program Penyelesaian Aset Bermasalah (Troubled Asset Relief Program), semacam Badan Penyehatan Perbankan Nasional di Indonesia saat krisis finansial Asia 10 tahun lalu, itu berasal dari uang pembayar pajak.

Di Bank of America, CEO Kenneth Lewis mendapatkan manfaat pensiun yang cukup fantastis, 51 juta dollar AS atau Rp 612 miliar. Bank tempatnya bekerja juga memberikan asuransi dengan nilai pertanggungan sekitar 10 juta dollar AS atau Rp 120 miliar yang dapat diwariskan kepada keluarganya.

Pesawat jet perusahaan, yang saat ini merupakan sasaran empuk kemarahan Washington, merupakan salah satu pos paling besar biayanya. Biaya rata-ratanya 102.216 dollar AS (sekitar Rp 1,2 miliar) dalam satu tahun.

Bank UCBH, yang nasabahnya komunitas China dan AS, jelas tak seberapa besar dibandingkan dengan Bank of America. UCBH hanya menerima dana talangan 300 juta dollar AS, tetapi tetap mengeluarkan biaya 43.700 dollar AS atau Rp 526 juta untuk biaya mobil dan sopir bagi CEO Thomas Wu.

Selain itu, dikeluarkan 20.000 dollar AS atau Rp 236 juta untuk biaya istri Wu yang selalu menemaninya dalam perjalanan bisnis. Ada juga biaya 3.300 dollar AS atau Rp 40 juta untuk keanggotaan klub kebugaran.

Pantaslah jika bonus dan fasilitas pada masa sulit ini membuat berang sejumlah pihak. DPR AS bersiap dengan RUU pengenaan pajak hingga 90 persen atas bonus yang diberikan dari perusahaan penerima dana talangan. Uang rakyat harus balik lagi. (IHT/AP/AFP)

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: