Rabu, 10 Februari 2010
Blora Minus Pekerjaan
Program Habis, Menganggur Lagi

Jumat, 3 April 2009 | 10:50 WIB

BLORA, KOMPAS - Kabupaten Blora yang terkenal sebagai kota minyak dan jati, minim peluang kerja dan lapangan pekerjaan. Data Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial Kabupaten Blora menunjukkan, peningkatan tenaga kerja jauh lebih tinggi ketimbang jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Pada 2006, penawaran atau peningkatan tenaga kerja berjumlah 2.103 orang, adapun jumlah lapangan kerja 479. Pada 2007, penawaran tenaga kerja meningkat dua kali lipat lebih menjadi 5.328, sementara lapangan kerja yang tersedia menurun menjadi 236.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial Kabupaten Blora Waluyo, Kamis (2/4) di Blora, mengatakan, tenaga kerja di Blora meningkat karena tenaga kerja lulusan SLTA melonjak. Pada 2006, tenaga kerja lulusan SLTA 365 orang, tetapi pada 2007 membengkak menjadi 2.492 setara dengan 583 persen.

"Salah satu faktor penyebabnya, kemampuan ekonomi masyarakat Blora dan semakin tingginya biaya masuk perguruan tinggi. Hal itu menyebabkan masyarakat hanya mampu menyekolahkan anaknya hingga SLTA," kata Waluyo.

Waluyo mengatakan, untuk menambah jumlah lapangan kerja, Pemkab Blora menggalakkan program padat karya produktif. Program itu berbasis sumber daya alam masyarakat sekitar yang dikelola secara berkelompok, bukan perorangan.

Pada 2009, Pemkab Blora mendapat alokasi dana dari APBN 2009 senilai Rp 4,2 miliar untuk mewujudkan program itu. Pemkab menghibahkan dana itu ke kelompok-kelompok di 16 desa di 16 kecamatan yang lolos penjaringan proposal.

"Tahun 2008, Pemkab Blora menjadikan Desa Ngampel, Kecamatan Blora, sebagai desa percontohan program padat karya produktif. Program budidaya perikanan itu menyerap 150 tenaga kerja di desa itu," ujar Waluyo.

Pengangguran lagi

Peneliti Muda Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana Blora, M Hamdun Maulana, mengatakan, program padat karya produktif dapat menambah lapangan kerja. Namun, jangan sampai tenaga kerja program itu menjadi setengah pengangguran atau menganggur lagi setelah program itu selesai. Pelaksanaan program itu harus diimbangi dengan pengelolaan manajemen yang ketat.

Misalnya, pemilihan program yang berkesinambungan dan sumber daya manusia yang membuka peluang-peluang pasar dan kerja sama baru terkait bidang garapan kelompok. (HEN)  

 

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: