
Minggu, 19 April 2009 | 04:00 WIB
Trinidad-Tobago, terletak di lepas pantai Venezuela, menjadi saksi luluhnya ketegangan dan hubungan ”penjajah dan terjajah” yang berlangsung puluhan tahun. Presiden Obama menjadikan babak baru hubungan AS dan kawasan Amerika, yang sering dilanda ketegangan.
”Namun, hal yang mengejutkan hadirin adalah jabat tangan Obama-Chavez yang tak disangka-sangka. Ini kejutan bagi mereka yang hadir,” demikian ditulis harian Inggris, The Telegraph, Sabtu (18/4).
KTT 34 negara yang berlangsung dua hari itu sarat dengan afeksi. Chavez memuji dan senang dengan tindakan AS memulai hubungan baru dengan Kuba, yang sejak 1962 bermusuhan dipicu kedekatan Kuba dengan Uni Soviet saat itu.
Setelah itu Chavez mendatangi Obama, berlanjut dengan aksi saling melempar senyum. Momen ini membuat hadirin terbelalak dan menyemburkan kilapan cahaya kamera bertalu-talu. Obama tak kalah memukau, menyapa Chavez dalam bahasa Spanyol, ”Como estas?” (Apa kabar).
”Saya berjabat tangan dengan Bush delapan tahun lalu. Saya ingin jadi sahabat Anda,” kata Chavez kepada Obama menyinggung George W Bush, pendahulu Obama.
”Terima kasih,” jawab Obama.
Setelah itu, Chavez menyerahkan buku berjudul Menguak Tabir-tabir Amerika Latin: Lima Abad Perampasan Sebuah Benua dalam bahasa Latin karya Eduardo Galeano berisikan esai soal campur tangan AS dan Eropa di kawasan.
”Saya kira ini ada sebuah momen yang menyenangkan. Saya kira Presiden Obama seorang intelijen, dibandingkan Presiden AS sebelumnya,” kata Chavez, yang selalu menghujat Bush, menuturkan perasaannya. Chavez berkali-kali menuduh AS ingin mendongkelnya dari kekuasaan, terutama saat AS berada di bawah Bush.
Hubungan AS dengan Amerika Latin tergolong pahit, menambah rasa pahit masa penjajahan Eropa pada masa lalu, yang masih membekas. Di era Perang Dingin, kawasan menjadi rebutan politik antara Barat (dipimpin AS) dan Timur. Kapitalis AS pun dikenal hanya ingin meraup kekayaan alam kawasan, ditambah sikap politik Washington yang mendukung para diktator penindas warga, terkenal dengan ”Operasi Condor” pada dekade 1970-an.
Saat berpidato Obama menegaskan, dia ingin memulai hubungan baru. ”Saya memiliki banyak hal untuk dipelajari dan ingin mendengar,” kata Obama dalam pidato pembukaan. Dia menjanjikan sebuah agenda baru baru Amerika, sekaligus sebuah gaya baru dalam berhubungan.
”Kita pernah lama tercerai dan pernah lama saling mendiktekan kehendak. Namun, saya berjanji kepada Anda, saya menginginkan kemitraan yang setara. Tidak ada mitra senior dan yunior dalam hubungan kita,” kata Obama, yang elokuensinya juga mampu meluluhkan ketegangan pertemuan puncak G-20, 2 April lalu di London.
Obama juga menyapa Presiden Nikaragua, yang selama bertahun-tahun pernah dicoba dijungkalkan AS di bawah Presiden Ronald Reagan. Ortega terjungkal lewat pemilu tahun 1990 sekaligus mengakhiri perang sipil. Namun, pada 2006 Ortega kembali berkuasa.
Ortega kemudian memberi pidato selama 50 menit dengan mengecam kapitalisme dan imperialisme AS, termasuk menyinggung invasi Teluk Babi, Kuba, tahun 1961. Namun, Ortega mengatakan Presiden baru AS tidak bersalah atas semua itu.
”Saya senang Presiden Ortega tidak mempersalahkan saya atas kejadian di kala saya masih berusia tiga bulan,” kata Obama yang membuat hadirin tertawa dan bertepuk tangan. Namun, tepukan tangan terpanjang adalah ketika Obama menyerukan hubungan baru Washington-Havana. Dia juga menginginkan Kuba kembali menjadi anggota OAS, yang terputus sejak 1962
”Saya sadar kita masih harus melewati jalan panjang untuk mengikis ketidakpercayaan di antara kita, tetapi ada banyak langkah penting yang bisa kita lakukan menuju era baru,” katanya.
”Saya tidak tertarik untuk membicarakan hal yang tidak berguna. Saya sungguh yakin sebuah arah baru bisa tercipta antara AS dan Kuba,” kata Obama soal Kuba. Pekan ini AS telah mengizinkan transfer uang dan pergerakan warga kedua negara.
Kepada kawasan Amerika Latin, Obama menjanjikan sebuah dana pembangunan, inisiatif untuk meningkatkan keamanan, dan kemitraan baru, termasuk upaya bersama memerangi pemanasan global dan pencarian energi alternatif.
”Saya tidak mau mendebat masa lalu, saya datang untuk sebuah masa depan. Kita harus belajar dari sejarah dan sebaiknya jangan terjebak pada sejarah,” kata Obama tentang Amerika Latin.
Kawasan ini pernah menderita secara ekonomi karena resep ekonomi yang salah dari Dana Moneter Internasional (IMF), termasuk kesalahan fatal ”Chicago boys”, kelompok konsultan ekonomi asal University of Chicago, yang memiskinkan warga tetapi memperkaya kaum oligarki di kawasan.
Peter DeShazo dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) AS mengatakan, ”Ini adalah langkah awal, tetapi signifikan.”
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan, kebijakan AS harus berubah karena pola kebijakan lama gagal.
Pemerintahan AS di bawah Presiden Obama menjanjikan pertumbuhan bukan perang, persahabatan bukan permusuhan.