
Rabu, 29 April 2009 | 03:31 WIB
Solo, Kompas
Penyair Raudal Tanjung Banua yang mengantar acara
”Hari Sastra Nasional bisa menjadi perayaan bagi para kreator sastra untuk terus berkarya,” ujarnya. Ditambahkan, dengan HSN, pemerintah terdorong untuk lebih memasyarakatkan sastra, antara lain menyebarluaskan buku-buku sastra di sekolah- sekolah. Untuk itu, penerbitan buku-buku sastra perlu disubsidi.
Raudal menilai, pemerintah berstandar ganda terhadap bidang budaya di Tanah Air. Di satu sisi pemerintah ingin agar masyarakat mengapresiasi sastra, tetapi tidak ada kebijakan yang mendukung ke sana, seperti pembebasan pajak kertas, pajak buku, serta keringanan pajak bagi penulis buku.
Dalam pandangan Sapardi Djoko Damono, HSN mungkin diperlukan, tetapi jangan menjadi kegiatan rutin. ”Kalau minta kepada pemerintah untuk menetapkan Hari Sastra Nasional, jangan sampai hanya menjadi kegiatan rutin, apalagi sekadar seremonial. Peringatan Hari Sastra Nasional diadakan kalau memang ada permasalahan yang perlu diangkat,” ujarnya.
Di bagian lain, Sapardi menekankan bahwa pendidikan sastra yang paling efektif adalah dengan menyodorkan sebanyak mungkin karya sastra kepada anak didik, bukan dengan teori sastra. ”Berikan mereka buku-buku sastra untuk dibaca, apa saja,” kata Sapardi, yang mengaku tidak khawatir akan kecenderungan remaja sekarang yang lebih suka membaca komik.
Menurut dia, kesalahan dalam pendidikan sastra, baik di sekolah maupun hingga perguruan tinggi, adalah terlalu banyak memberikan teori. Dalam kesempatan itu, Sapardi (69) meluncurkan buku antologi puisinya yang mutakhir, ”Kolam”.