
Sabtu, 13 Juni 2009 | 03:52 WIB
Stefanus Osa
Bukan sekali jadi. Begitulah perjalanan pengusaha muda Sapto Prayitno yang bermimpi mengembangkan usaha dari jerih payahnya menuntut ilmu di perguruan tinggi. Usahanya terbilang unik, yaitu budidaya dengan metode hidroponik.
Soal tanaman hidroponik awalnya diperoleh dari belajar di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Tahun 2006, penelitian tanaman hidroponik menjadi ”mainan” bagi Sapto (23). Sambil belajar, Sapto terus meneliti, bagaimana tanaman cepat berkembang tanpa media tanah.
Air saja rasanya juga tidak cukup. Seperti manusia, tanaman juga membutuhkan nutrisi yang seimbang untuk pertumbuhannya. Di sela kesibukan kuliahnya, lelaki kelahiran Lampung, 10 Mei 1986, ini meneliti kandungan kimia yang memperkaya nutrisi bagi tanaman.
Tahun 2006, ia sibuk menciptakan nutrisi sekaligus uji coba di lingkungan rumahnya. Satu per satu pertumbuhan tanaman, dari yang gampang seperti tanaman selada, diamati. Tingkat kecepatan pertumbuhan menjadi target agar pembudidaya hidroponik pemula bisa langsung melihat hasilnya.
Keinginan Sapto sederhana, yakni memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang budidaya hidroponik sebagai masa depan pertanian perkotaan. ”Saya memperkenalkan hidroponik dengan 3M, yaitu mudah, menyenangkan, dan menguntungkan,” katanya.
Sapto terjun ke bidang hidroponik semester lima, dari mata kuliah Hidroponik di Fakultas Pertanian UGM. Di luar jam kuliah, Sapto membentuk kelompok yang bertekad menciptakan produk hidroponik berkualitas di Indonesia. Dimulailah riset soal nutrisi hidroponik.
Produk pertamanya Hidrogroup Indonesia. Februari 2007, Hidrogroup Indonesia resmi memasarkan nutrisi hidroponik karena ada dana hibah Pendidikan Tinggi Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan.
Respons pasar sangat baik sehingga Hidrogroup Indonesia meraih juara pertama Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XX Bidang Kewirausahaan.
Sapto pun mengembangkan produk lain. Per Januari 2009, dia meluncurkan dua produk baru, yaitu Kit HyFlo (rakit apung) dan VCD Panduan Budidaya Hidroponik. Dua produk ini direspons baik oleh pasar.
Sapto pun masuk 10 besar level atas Shell LiveWire Business Start Up 2009 yang diselenggarakan Shell Indonesia. Juli 2009, Sapto berupaya melepas lagi produk terbarunya, nutrient film technique (NFT).
Alat pemutar nutrisi setipis film, dengan ketebalan tiga milimeter. Dengan metode ini, pemenuhan kebutuhan oksigen tanaman lebih tercukupi. Sudah sesuai standar internasional.
Bangku kuliah tak berarti bagi Sapto jika pengabdian penelitiannya hanya berhenti di kampus. Bulan Mei lalu, hasil penelitian itu sudah diuji coba oleh sejumlah kelompok tani.
”Saya mengembangkan program goes to farmer. Saya memberikan edukasi dan pelatihan bagi kelompok tani yang meminati budidaya hidroponik. Saya ingin membuka pintu rezeki bagi banyak orang,” ujar Sapto.
Uji cobanya cukup mudah. Dari pengenalan nutrisi, semua peralatan yang disiapkan berupa rakit apung menjadi salah satu bagian andalannya. Rakit apung terdiri dari plastik kotak untuk menampung air, gabus steroform, dan pot-pot mungil untuk bertumbuhnya bibit hidroponik.
Steroform
Dengan takaran yang ditentukan, nutrisi dicampurkan ke air dan dimasukkan ke wadah. Bibit yang berusia dua pekan tumbuh. Akar tanaman yang menyerap air pun berkembang.
Dari penelitian, tanaman yang menjadi sasaran bisnisnya adalah sayuran, seperti selada, sawi, pak choy, kangkung, dan bayam. Ada juga tanaman hias, seperti adenium, anthurium, euphorbia, aglaonema, dan bunga kol hias. Tak ketinggalan sayuran buah, seperti tomat, cabe, paprika, melon, dan semangka.
Hitungan bisnisnya? Dari satu paket berupa bibit, cairan nutrisi, dan perlengkapan hidroponik senilai Rp 250.000, Sapto bisa menanam 18 bibit.
Selada, misalnya, membutuhkan masa tanam 30-40 hari. Saat panen, jika selada dijual