
Minggu, 21 Juni 2009 | 03:53 WIB
Gelar juara Djarum Indonesia Open Super Series 2009 pun lepas dari genggaman. Ini kegagalan keempat berturut-turut ganda putra nomor satu dunia pada turnamen bulu tangkis terbesar di Tanah Air ini. Kido/Hendra, yang kini masih menyandang gelar juara dunia 2007 dan juara Olimpiade Beijing 2008, baru satu kali menjadi juara saat masih bernama Grand Prix Indonesia Terbuka tahun 2005.
Duel kedua pasangan menjadi suguhan menarik lebih dari 6.000 penonton yang memberikan dukungan penuh kepada Kido/ Hendra. Smes keras dilancarkan dari dua sisi, berhadapan dengan pertahanan ketat masing-masing yang sulit ditembus. Pukulan cepat dan refleks luar biasa cepat dari keempat pemain mengundang decak kagum dan membuat penonton sempat kewalahan mengikuti laju
Pasangan Indonesia lebih dulu mengambil inisiatif menyerang di
Perlahan tetapi pasti, Kido/Hendra menipiskan ketinggalan dan menggagalkan tiga
Pasangan Korsel semakin percaya diri di
Selain pertahanan ketat lawan yang sulit ditembus, Hendra mengatakan servis Yong-dae menjadi kunci kemenangan pasangan Korsel. ”Servis Yong-dae susah sekali dikembalikan, terlalu tipis di atas net. Awalnya kami masih bisa membuka pertahanan mereka, tetapi pengembalian servis kami itu selalu tanggung dan memudahkan mereka menyerang,” ujar Hendra.
Jung Jae-sung mengatakan, mereka sudah yakin bisa menang karena memiliki rekor bagus melawan Kido/Hendra. ”Setelah Kido/Hendra menjuarai Olimpiade, kami malah selalu menang lawan mereka. Kido/Hendra pasangan yang bagus, tetapi mungkin beberapa kekalahan itu membuat secara psikologis mereka tertekan,” ujar Jae-sung.
Di partai final, Jae-sung/ Yong-dae akan menghadapi pasangan China, Cai Yun/Fu Haifeng, yang menundukkan ganda putra Malaysia, Koo Kien Keat/ Tan Boon Heong, 18-21, 21-11, 21-15. Laga ini diwarnai aksi kurang simpatik penonton yang terus mencemooh pasangan Malaysia setiap kali mereka meraih angka.
Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PB PBSI Lius Pongoh mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi penampilan pemain-pemain pelatnas pada dua turnamen
Namun, Lius belum bisa memastikan pada turnamen mana sanksi akan diterapkan karena tidak ada turnamen besar yang digelar antara Indonesia Super Series dan Kejuaraan Dunia di India, Agustus mendatang.
Sementara itu, sebanyak 17 pemain pelatnas yang telah didaftarkan ke turnamen berkategori Grand Prix Gold di Malaysia, 23-28 Juni, batal bertanding. Pembatalan ini berlangsung mendadak ketika nama-nama pemain justru telah muncul dalam undian. Beberapa pemain mengatakan, mereka menerima kabar pembatalan pada Kamis malam, tetapi tidak disertai dengan alasan yang jelas.
Atas pembatalan ini, Sekretaris Jenderal PB PBSI Jacob Rusdianto juga tidak memberikan penjelasan. ”Nanti saya cari kenapa bisa menjadi seperti itu. Mungkin ada salah pengertian,” kata Jacob, yang disampaikannya melalui layanan pesan singkat (SMS).
Dari daftar undian yang dirilis BWF, pemain-pemain pelatnas yang seharusnya bermain di Malaysia di antaranya Aprilia Yuswandari, pasangan Muhammad Rijal/Debby Susanto, dan Fran Kurniawan/Pia Zebadiah. (iya/was)