
Sabtu, 27 Juni 2009 | 03:11 WIB
Ahmad Arif
Sepeda kumbang tua, setua penunggangnya, Amin (70). Sepeda karatan itu masih liat menyusuri jalanan dari Kampung Pondok Petir, Sawangan, Depok, hingga Jakarta.
Sepeda itu dibebani singkong dan sayur mayur seberat 2 kuintal lebih.
Diterangi nyala obor dari kaleng bekas yang dipasang di keranjang sayurnya, tiap malam, Amin mengayuh sepeda sejauh sekitar 80 kilometer pergi-pulang. ”Sepeda ini buatan RRT (China), Phoenix,” kata Amin, menyebut merek sepeda yang telah lama akrab dengan rakyat kecil negeri ini.
Sepeda itu dibeli Amin tahun 1970-an ketika dia baru memulai usaha jualan sayur. Awal 1980-an, sepeda itu dijual Rp 35.000 dan 10 tahun kemudian dibelinya kembali.
”Saya beli lagi dari teman Rp 400.000. Kalau sekarang, Rp 1 juta tidak boleh,” katanya. Sepeda itu ibarat hidupnya. Amin tak akan mudah melepasnya.
Menurut dia, hingga 10 tahun lalu, hampir semua penjual sayur bersepeda. ”Waktu itu, tiap malam lebih dari 50 orang turun dari Parung. Sekarang tak sampai 10 orang,” tutur Amin. Sebagian pedagang sayur beralih menggunakan sepeda motor atau naik angkutan umum.
”Orang kampung kalau punya uang langsung beli motor. Apalagi anak-anak muda, malas naik sepeda,” lanjut Amin. Namun, dia tetap bersepeda karena bisa menghemat ongkos angkutan umum Rp 10.000 sekali jalan.
Sarmad (52), penjual sayur dari Kampung Serua, Sawangan, juga tetap bersepeda. Sepedanya juga Phoenix, dibelinya tahun 1977. ”Ban dan rantai sudah ganti-ganti, tapi rangkanya tetap kuat,” kata Sarmad.
Tiap pagi penjual sayur ini bersepeda mencari sayur-mayur dari petani di Parung dan sekitarnya. Sekitar pukul 21.00 mereka membawa dagangan ke pasar-pasar di Jakarta dan baru pulang ke rumah saat dini hari.
Ritual itu, menurut Sarmad, dilakukan dalam segala kondisi cuaca. ”Hujan juga tetap harus jualan karena kalau kagak jualan, anak bini bisa kagak makan,” ujar Sarmad.
Jika para penjual sayur bersepeda untuk hidup karena tidak punya pilihan lain, tidak demikian banyak pesepeda yang kini meramaikan Jakarta.
”Selain lagi tren, bersepeda ternyata juga lebih sehat,” kata Dimas (33), karyawan swasta yang setahun terakhir bersepeda ke kantor dengan jarak tempuh sekitar 35 km pergi-pulang.
Tak hanya alasan kesehatan, banyak alasan orang untuk bersepeda. Sebagian karena kesadaran untuk menjaga lingkungan, seperti dilakukan Lucy Iskandar (29). ”Awalnya karena harga BBM naik pada tahun 2005, keluarga saya iseng mencoba bersepeda ke kantor. Di samping menghemat bahan bakar, kami ingin ikut berpartisipasi menjaga lingkungan,” tutur Lucy, karyawati perusahaan swasta yang ikut merintis berdirinya komunitas bersepeda ke tempat kerja atau B2W di Indonesia ini.
Dari coba-coba, Lucy kemudian ketagihan. Kini hampir setiap hari Lucy bersepeda pergi -pulang dari rumahnya di Tanah Kusir, Jakarta Selatan, ke Jalan Majapahit di Jakarta Pusat.
”Biasa ganti-ganti sepeda. Kadang naik seli (sepeda lipat), sepeda gunung, atau sepeda onthel yang ada keranjang belanjanya itu,” kata Lucy.
Di mata Lucy, sepeda tidak harus mahal. ”Sepeda saya yang termurah onthel, Rp 600.000, dan termahal seli, Rp 4 juta. Yang penting, praktis dan enak dipakai,” katanya.
Berbeda dengan Lucy, Aco Andiansyah (40) berprinsip, sepeda juga bagian dari gaya hidup. Oleh karena itu, untuk menyalurkan hobi bersepeda, dia rela mengeluarkan uang Rp 70 juta untuk mendandani sepedanya, Specialized Epic Marathon Carbon. Padahal, sepeda itu hanya dipakai seminggu sekali. ”Dipakai saat libur saja. Kalau untuk ke tempat kerja terlalu jauh, rumah saya di Bogor, tempat kerja di Mampang, Jakarta,” kata eksekutif muda ini.
Banyak orang seperti Aco. ”Kalau punya uang, kenapa tidak? Banyak teman yang sepedanya lebih mahal lagi, di atas Rp 100 juta. Sepeda sekarang juga bagian dari gaya hidup. Selain itu, ada harga pasti ada kualitas. Sepeda yang berkualitas bantingannya pasti beda,” kata Aco.
Dunia para pedagang sayur bersepeda dengan penggemar sepeda mahal memang tidak bisa diperbandingkan, ibarat siang dan malam.
Dan, malam itu Amin, sang pedagang sayur itu, tidak sampai ke Pasar Palmerah. Dagangannya dicegat pedagang sayur lainnya di Pasar Ciputat dan diborong Rp 200.000. Kerja kerasnya malam itu menghasilkan untung Rp 75.000.
Dengan menjual sayur di Palmerah, yang selisih jarak dengan Ciputat sekitar 20 km, Amin dan para penjual sayur ini biasa mendapat selisih harga lebih mahal Rp 10.000-Rp 20.000. ”Rp 10.000 artinya bisa untuk sekali makan seluruh keluarga,” kata Amin.