
Sabtu, 27 Juni 2009 | 03:16 WIB
BRE REDANA
Jakarta, Kompas -
Di jantung New York yang berarti juga jantung dunia hiburan dunia, Times Square, para turis dan pejalan kaki melihat di layar televisi raksasa tulisan: ”Michael Jackson meninggal di usia 50”. Hampir seluruh layar televisi beralih ke berita mengenai Jackson. Kabar duka itu menyebar ke seluruh dunia, memancing komentar para pesohor dari kalangan hiburan sampai ke tokoh-tokoh pemerintahan.
Michael Jackson, yang praktis menyepi sejak tahun 2005, pingsan di rumah sewaannya di lingkungan eksklusif Los Angeles, Holmby Hills, sebelum dilarikan ke rumah sakit Los Angeles
Menambah daftar artis besar yang mati muda, perhatian dunia yang tersedot oleh meninggalnya Jackson barangkali hanya bisa dibandingkan dengan meninggalnya Elvis Presley, John Lennon, dan Putri Diana. Bagi sejumlah penggemar, meninggalnya
”Ini panggilan layar terakhir dan saya akan ketemu Anda Juli,” kata Jackson bulan Maret lalu di depan para penggemar yang hanya bisa melihat sekelebatan bintangnya itu. Ucapan tadi disambut histeria, dari teriakan sampai tangisan.
Nyatanya, layar panggung tak bakal pernah terbuka lagi. Ia telah meninggalkan penggemarnya dan siapa saja makhluk di zaman ini yang mustahil bisa menghindarkan diri dari persentuhan dengan industri pop.
Lahir 29 Agustus 1958 di Gary, Indiana, Amerika Serikat, sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara, Jackson boleh dikata telah menyerahkan seluruh totalitas hidupnya bagi industri pop. Pada usia dini, 6 tahun di tahun 1964, ia telah bergabung dengan saudara-saudaranya (Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon) dalam kelompok yang dikenang orang sebagai The Jackson 5. Di kelompok itu sebagian orang barangkali bisa mengingat, dua bocah cilik, yaitu Jackson dan Marlon, masing-masing bermain conga dan tambourine. Pada perkembangannya, keduanya menjadi lead vocal dengan aksi yang pada masanya sangat menggemaskan.
Michael Jackson melesat bagai meteor setelah berkarier secara solo dan bersama produser Quincy Jones pada tahun 1982 melahirkan Thriller—album terlaris sepanjang masa, dengan angka penjualan sejauh ini melampaui 41 juta. Dari perjalanan kariernya, Jackson tidak hanya melahirkan terobosan dari segi musik dengan campuran pop, R&B,
Seluruh penampilan Jackson dikenang sebagian manusia di planet ini dengan gerak elektriknya yang seperti mengandung paradoks, ”maju ke belakang”
Perjalanan dari usia dini masuk dunia hiburan sampai kemudian ke takhta ”King of Pop”, pada akhirnya bukan tidak menuntut bayar pada Jacko—begitu dia disebut. Industri pop secara perlahan tapi pasti telah mengadopsi Jacko menjadi ”anak kandung”-nya.
Gemerlap dan manipulasi citra industri pop telah membawa ”sang raja” itu pada dunia gadungan, di mana yang nyata dan tidak nyata tak lagi bisa dibedakan. Kaburnya batas antara yang nyata dan tidak nyata berikut rekayasa industrial menyatu utuh dalam Jackson: wajahnya dipermak lewat operasi plastik, kulitnya diputihkan, dan seksualitasnya jadi kacau. Berkali-kali dia terkena dakwaan pelecehan seksual terhadap anak-anak.
Ia membangun tempat tinggal yang disebut Neverland, pulau pengembaraan tokoh fiktif yang menolak menjadi dewasa, Peter Pan. Transformasi fisik, kekacauan perkembangan kepribadian, keterasingan, sementara di pihak lain intrusi pers yang kejam
Beberapa artis yang akan tampil bersama Jackson bulan Juli mendatang bersaksi, kaget melihat penyanyi itu. Katanya, Jackson pucat, tubuhnya seperti kertas yang angin pun akan menerbangkannya. Raja pop itu menjelang ujung tragedi: mati dalam sepi.