Rabu, 10 Februari 2010
AFP/TIMOTHY A CLARY
Bintang penyanyi Amerika Serikat, Michael Jackson, dalam salah satu aksinya pada konser amal Democratic National Committee bertajuk A Night at the Apollo di gedung terkemuka Apollo Theater, New York, 24 April 2002. Jackson (50) dilaporkan meninggal, Kamis (25/6), akibat serangan jantung di Los Angeles.
Jacko Telah Tiada
Dijadwalkan Konser Juli

Sabtu, 27 Juni 2009 | 03:16 WIB

BRE REDANA

Jakarta, Kompas - Dunia terkejut. Pemusik yang telah menyerahkan seluruh hidupnya bagi industri pop, Michael Jackson, meninggal dunia di Los Angeles, Kamis (25/6) pukul 14.26 (Jumat pagi waktu Indonesia). Kabar meninggalnya sosok yang ditabalkan sebagai ”King of Pop” ini di Amerika segera melindas berita lain, dari berita politik sampai berita apa pun.

Di jantung New York yang berarti juga jantung dunia hiburan dunia, Times Square, para turis dan pejalan kaki melihat di layar televisi raksasa tulisan: ”Michael Jackson meninggal di usia 50”. Hampir seluruh layar televisi beralih ke berita mengenai Jackson. Kabar duka itu menyebar ke seluruh dunia, memancing komentar para pesohor dari kalangan hiburan sampai ke tokoh-tokoh pemerintahan.

Michael Jackson, yang praktis menyepi sejak tahun 2005, pingsan di rumah sewaannya di lingkungan eksklusif Los Angeles, Holmby Hills, sebelum dilarikan ke rumah sakit Los Angeles County Coroner—semacam rumah sakit jantung setempat. Juru bicara rumah sakit mengumumkan, Jackson meninggal pukul 14.26 karena serangan jantung. Dari berbagai kantor berita, otopsi akan dilakukan hari Jumat (26/6) yang berarti hari Sabtu ini waktu Indonesia.

Panggilan layar

Menambah daftar artis besar yang mati muda, perhatian dunia yang tersedot oleh meninggalnya Jackson barangkali hanya bisa dibandingkan dengan meninggalnya Elvis Presley, John Lennon, dan Putri Diana. Bagi sejumlah penggemar, meninggalnya Jackson pasti lebih mengagetkan lagi karena terjadi menjelang rencana konsernya setelah absen sekitar satu dekade. Jackson merencanakan rangkaian konser ”penghabisan”, dijadwalkan dimulai tanggal 13 Juli mendatang di London.

”Ini panggilan layar terakhir dan saya akan ketemu Anda Juli,” kata Jackson bulan Maret lalu di depan para penggemar yang hanya bisa melihat sekelebatan bintangnya itu. Ucapan tadi disambut histeria, dari teriakan sampai tangisan.

Nyatanya, layar panggung tak bakal pernah terbuka lagi. Ia telah meninggalkan penggemarnya dan siapa saja makhluk di zaman ini yang mustahil bisa menghindarkan diri dari persentuhan dengan industri pop.

Lahir 29 Agustus 1958 di Gary, Indiana, Amerika Serikat, sebagai anak ketujuh dari sembilan bersaudara, Jackson boleh dikata telah menyerahkan seluruh totalitas hidupnya bagi industri pop. Pada usia dini, 6 tahun di tahun 1964, ia telah bergabung dengan saudara-saudaranya (Jackie, Tito, Jermaine, dan Marlon) dalam kelompok yang dikenang orang sebagai The Jackson 5. Di kelompok itu sebagian orang barangkali bisa mengingat, dua bocah cilik, yaitu Jackson dan Marlon, masing-masing bermain conga dan tambourine. Pada perkembangannya, keduanya menjadi lead vocal dengan aksi yang pada masanya sangat menggemaskan.

Pucat

Michael Jackson melesat bagai meteor setelah berkarier secara solo dan bersama produser Quincy Jones pada tahun 1982 melahirkan Thriller—album terlaris sepanjang masa, dengan angka penjualan sejauh ini melampaui 41 juta. Dari perjalanan kariernya, Jackson tidak hanya melahirkan terobosan dari segi musik dengan campuran pop, R&B, rock, dan soul, tetapi juga melumerkan batas antara musik dan presentasi video. Pada Jackson, keduanya hadir serentak memukau pemirsa televisi di zamannya—atau sebutlah, pada masa itulah lahir generasi MTV.

Seluruh penampilan Jackson dikenang sebagian manusia di planet ini dengan gerak elektriknya yang seperti mengandung paradoks, ”maju ke belakang” lewat moonwalk. Sebagian orang Indonesia menyaksikan penampilan itu di Singapura beberapa tahun lalu. Pada waktu itu negeri tetangga tersebut dibanjiri orang Jakarta sampai seperti Pasar Baru—orang menyeberang jalan sesukanya dan membuat petugas di Singapura kewalahan belaka.

Perjalanan dari usia dini masuk dunia hiburan sampai kemudian ke takhta ”King of Pop”, pada akhirnya bukan tidak menuntut bayar pada Jacko—begitu dia disebut. Industri pop secara perlahan tapi pasti telah mengadopsi Jacko menjadi ”anak kandung”-nya.

Gemerlap dan manipulasi citra industri pop telah membawa ”sang raja” itu pada dunia gadungan, di mana yang nyata dan tidak nyata tak lagi bisa dibedakan. Kaburnya batas antara yang nyata dan tidak nyata berikut rekayasa industrial menyatu utuh dalam Jackson: wajahnya dipermak lewat operasi plastik, kulitnya diputihkan, dan seksualitasnya jadi kacau. Berkali-kali dia terkena dakwaan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Ia membangun tempat tinggal yang disebut Neverland, pulau pengembaraan tokoh fiktif yang menolak menjadi dewasa, Peter Pan. Transformasi fisik, kekacauan perkembangan kepribadian, keterasingan, sementara di pihak lain intrusi pers yang kejam terhadap kehidupan pribadi boleh jadi membawa orang-orang dalam posisi seperti ini sampai pada titik yang disebut death wish.

Beberapa artis yang akan tampil bersama Jackson bulan Juli mendatang bersaksi, kaget melihat penyanyi itu. Katanya, Jackson pucat, tubuhnya seperti kertas yang angin pun akan menerbangkannya. Raja pop itu menjelang ujung tragedi: mati dalam sepi.

 

Share on Facebook
A A A
Ada 2 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Andi @ Sabtu, 27 Juni 2009 | 19:36 WIB
Kuasa Yang Ilahi tak mampu ditandingi oleh kehebatan dan keperkasaan raja musik dunia. Tapi Jackson telah memberikan yang terbaik dari dirinya untuk dunia. RIP
liasta ginting @ Sabtu, 27 Juni 2009 | 19:31 WIB
Kematian raja pop dunia pada usia 50 tahun, mengingatkan kepada kita bahwa dunia gemerlap, banyak duit n harta kekayaan, tidak membuat manusia bahagia n damai.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: