Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/AGUS HERMAWAN
Kejuaraan Sepeda Gunung dan Lintas Alam (MTB XC Champhionship) berlangsung semarak di Jalur Pipa Gas (JPG), Tangerang, Minggu (26/4). Acara Komunitas Sepeda Gunung JPG itu diikuti sekitar 100 peserta dari Jakarta dan sekitarnya, Bandung, Malang, maupun kota-kota lainnya dan terbagi dalam berbagai kelas. Selain sebagai gaya hidup, olahraga sepeda gunung kini semakin populer di masyarakat dengan komunitas yang tersebar di berbagai kota dan provinsi.
HOBI DAN KOMUNITAS
Gowes, Persaudaraan Dengkul...

Sabtu, 27 Juni 2009 | 04:22 WIB

Udara masih sejuk, surya pagi masih malu-malu bersinar tatkala gowesan terpaksa harus terhenti. Rangkaian sepeda pun langsung mengular di trek tunggal sawah menjelang tanjakan sumur itu. ”Tahan, tahan, ada yang jatuh,” teriak dari depan.

Di kejauhan tampak sebuah sepeda teronggok di pematang sawah. Penggowes-nya sedang berusaha bangkit dari lumpur sawah. Ketika bangkit dia tertawa dan meneruskan perjalanannya. Teman satu kelompoknya menunggu si bapak separuh baya yang badannya berlepotan lumpur. ”Enggak apa-apa, saya senang kok,” kata si bapak. Penggowes yang lain memberi semangat. ”Makanya Pak, kalau lagi gowes jangan liat pemandangan. Liat jalan aja,” teriak yang lain, ”Pemandangannya memang bagus, tetapi kalau mau menikmati berhenti dulu, jadi enggak meleng,” kata yang lain.

Suasana itu terekam hari Minggu (21/6) pagi di JPG, Tangerang Selatan. JPG ? Yup! JPG atau Jalur Pipa Gas memang jalur tempat pipa gas mengular. Trek sepeda yang lokasinya di kawasan Jombang di bilangan Bumi Serpong Damai atau Bintaro Tangerang Selatan itu boleh dibilang salah satu trek favorit bagi penggemar sepeda gunung.

Setiap akhir pekan, selalu saja ramai para penggemar olahraga sepeda berdatangan ke situ. Para penggowes berasal dari berbagai kalangan.

Danang Kemayan Jati, seorang profesional yang bekerja di PT Lippo Karawaci Tbk, selalu menikmati akhir pekan dengan bersepeda seperti yang dia lakukan pada Sabtu (13/6) lalu.

Mereka yang tinggal di sekitar Bintaro, Ciledug, Pamulang, atau BSD bisa langsung menggowes ke JPG. Namun, tidak jarang pula, goweser dari Bekasi atau kota-kota lain sengaja datang untuk mencicipi trek sepanjang 6,5 kilometer tipe cross country itu

Trek dengan tanjakan dan turunan variatif selalu menarik untuk dinikmati. Pemula (newbie) bisa menikmati trek ”setengah porsi”. Para senior atau master bisa melalap sampai beberapa putaran dan menyiksa sepedanya di Tanjakan Sumur, Turunan S, atau memacu adrenalin di ”Roller Coaster”. Berbagai hambatan sepanjang trek itu baik sekali untuk melatih keterampilan. Trek berupa tanah dengan vegetasi bervariasi dari alang-alang hingga bambu.

Sebenarnya, selain treknya, banyak orang merindukan JPG untuk menikmati nasi uduk telor dadar atau nasi ketan kelapa muda di Mpok Cafe. Warung sederhana itu seperti posko, tempat pertemuan para penggowes. Tidak usah ragu-ragu untuk datang dan bertemu di sini. Siapa pun akan dengan senang hati bergabung dan mempersilakan kita untuk menggowes sepeda bareng. Atau, silakan saja menguntit rombongan yang akan pergi off road ke jalur lain.

Biasanya setelah berkumpul dari Mpok Cafe, para goweser berkelompok melanjutkan perjalanan ke arah Cihuni, Puspitek, Suradita, Parung, Bogor, Hutan UI di bilangan Depok, Gunung Sindur hingga Gunung Bubut, Leuwiliang, Cijambe, Bogor.

Selain JPG dan sekitarnya, masih banyak jalur sepedaan MTB lain di seputar Bekasi atau Bogor. Orang juga mengenal Jalur Jati Asih, Hambalang, Nawit, Pondok Pemburu Gunung Pancar, Sentul, hingga Rindu Alam atau Talaga Warna di kawasan Puncak yang dingin. Juga, Gunung Manglayang Bandung Selatan, Burangrang atau Situ Lembang, Jaya Giri, Cikole, atau Tangkuban Parahu di utara Bandung.

Setiap akhir pekan, jalur-jalur tersebut selalu saja ramai oleh rombongan atau komunitas pesepeda. Beberapa di antaranya memberi nama kelompok mereka, mulai dari MTB-Rokers, Compound, Tahu Cocol, Blepotan, hingga nama-nama unik lain seperti Cinecys, SaCyC Ubur-Ubur, atau Gebraker. Banyak di antaranya memiliki milis atau blog sendiri sehingga di antara mereka bisa saling bertegur sapa atau bertukar pengalaman mengenai trek-trek atau kiat-kiat bersepeda. Situs mengenai sepeda juga ramai dikunjungi untuk saling berkirim kabar atau menjual barbek alias barang bekas..

Rasa solidaritas juga terasa kental jika jalan bareng dengan mereka. Jadi tidak usah khawatir jika Anda memulai bersepeda dan belum mempunyai teman jalan, bergabunglah dengan komunitas terdekat, mereka biasanya menyambut dengan tangan terbuka.

Akan menjadi aneh jika ada komunitas sepeda yang merasa eksklusif serta paling gaya dan berjasa sendiri.

Jika berpapasan, para penggowes biasa saling bertegur sapa atau melambaikan tangan. Apa pun sepedanya, dari onthel hingga sepeda high end dengan harga puluhan juta rupiah, semua menyadari indahnya persaudaraan.

Bolehlah diistilahkan, kedekatan di antara para penggowes itu sebagai persaudaraan dengkul!

(Agus Hermawan/Tjahya Gunawan)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: