
Minggu, 28 Juni 2009 | 04:11 WIB
Dalam usianya yang hari ini genap 44 tahun, masuk akal jika harian Kompas
Perikehidupan masyarakat dan karena itu juga perikehidupan warga, termasuk pembaca surat kabar, berkembang dan berubah. Lantas bagaimanakah posisi dan peran surat kabar? Tentu saja sosok dan peran media juga terpengaruh karena hubungan media dan khalayaknya (audience-nya) merupakan interaksi aktif dan dinamis. Apalagi jika masalahnya dikontekskan dengan kondisi dewasa ini, dinamika dan intensitas perubahan adalah fenomena yang amat nyata, tampak, dan terasa. Perubahan yang berlaku dalam media dewasa ini amat mendasar, komprehensif, dan menantang. Perubahan itu bukan saja menyentuh peran media, tetapi juga menggugat eksistensi berbagai media itu sendiri.
Bukan saja wartawan, karyawan, dan penerbit, melainkan juga khalayak pun tahu dan menyaksikan perubahan yang menyangkut seberapa jauh eksistensi media cetak di tengah muncul dan berperannya media elektronik. Perubahan itu terbatas hanya pada naik-turunnya beragam media itu saja ataukah menggugat dan mengakibatkan, misalnya berakhirnya media cetak? Selama dasawarsa belakangan ini, masalah itulah tema sentral setiap pertemuan para penerbit dan para ahli media massa. Di sejumlah negara, koran-koran besar yang punya nama dan sejarah panjang sudah berhenti terbit. Topik masa depan media cetak adalah isu yang masih tetap aktual dan relevan dewasa ini.
Terhadap masalah yang menyangkut eksistensi media cetak, kita digugat pertanyaan retorik, apakah mungkin orang tidak lagi memerlukan membaca karena kebutuhannya cukup dipenuhi dengan nonton. Lebih lunak posisi pertanyaan, apakah orang tetap membaca, tetapi lewat media elektronik belaka? Apa boleh buat, itulah persoalan kemajuan atau modernisasi yang dalam hal ini adalah modernisasi teknologi baca dan nonton. Prosesnya berjalan terus. Proses itu menarik, tidak hanya karena menyangkut masa depan budaya baca dan budaya nonton, tetapi juga karena perkembangan itu disertai berbagai hal yang sarat kemungkinan intrik berikut provokasi serta simplifikasinya. Persoalannya lebih lagi sarat daya tarik karena perkembangan dan perubahan itu akan membawa berbagai akibat dan pengaruh yang nyata dalam peradaban dan kebudayaan baca tulis dan nonton.
Ketika sebuah surat kabar memperingati, berintrospeksi, serta mensyukuri hari jadinya, masuk akal jika konteks perubahan zaman nyelonong masuk dalam refleksi. Surat kabar bersosok un journal c’est un monsieur, koran bersosok pribadi, bahkan dalam ungkapan Perancis disebut sebagai un monsieur, yang dipertuan, jika surat kabar itu lewat kehadiran dan perkembangannya sempat dipandang memiliki sosok. Sosok yang berpribadi memerlukan beragam syarat yang diekspresikan juga dalam atribut. Atribut itu di antaranya yang sentral adalah falsafah yang membentuk sosok itu memiliki kepribadian. Surat kabar memerlukan pandangan agar bisa membentuk dan mengembangkan pribadinya. Pandangan dan falsafah itu merupakan kerangka acuan sekaligus salah satu inspirasi bagi eksistensi, perkembangan serta perannya. Surat kabar, seperti halnya berbagai media lain, memiliki visi dan misi. Substansi visi itu kiranya memiliki kualitas yang permanen, tetapi tetap dinamis dan terbuka.
Bukan maksudnya mengganggu rasa syukur kita kepada Yang Maha Rahim dan kepada khalayak ramai, masyarakat pembaca Kompas pada Hari Ulang Tahun Ke-44 Kompas hari ini. Tulisan ini terutama ekspresi rasa syukur secara vertikal dan horizontal dan pangkal tolak refleksi terhadap perubahan dan perkembangan yang berlangsung dinamis dan penuh tantangan pada dunia media massa. Karena media senantiasa berkomunikasi dan karena itu selalu memiliki rekan komunikasi, termasuk khalayak pembacanya, dialog inilah yang kita sampaikan.
Bisa dipahami karena sosok, pribadi, dan tabiatnya berkomunikasi, falsafah koran yang berakar pun memerlukan dialog dengan khalayak pembaca dan zamannya.