Rabu, 10 Februari 2010
HORIZON
MENANG-KALAH DIPERHITUNGKAN

Rabu, 1 Juli 2009 | 05:35 WIB

 SUHARTONO

Sebelas jam setelah mendeklarasikan sebagai calon presiden dan calon wakil presiden bersama Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Jenderal (Purn) Wiranto, Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (2/5) subuh, pulang ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ia ditemani istrinya, Ny Mufidah Jusuf Kalla, dan seorang putrinya disertai rombongan terbatas. Tujuan utamanya, kunjungan kerja sebagai wapres.

Wajahnya terlihat cerah dan tebersit kelegaan. Ya, Kalla memang telah melewati ”ujian” untuk mengambil keputusan penting dan berat: sebagai calon presiden. Ia telah melewati masa- masa sulit, mengambil keputusan untuk menjadi pesaing mitranya sendiri, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah ia dampingi hampir lima tahun ini.

Ia juga baru saja lolos dari ”rongrongan” internal partainya, yang mempersoalkan sikapnya mundur dari koalisi dengan Presiden Yudhoyono sebagai wapres untuk jabatan yang kedua kalinya. Sebaliknya, ia memilih menantang dengan segala risiko yang tidak kecil secara politis dan ekonomi.

Sambutan masyarakat Makassar yang dimulai dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin hingga kediamannya di Jalan Haji Bau, Makassar, semakin memberikan kelegaan dan kepastian diri untuk melangkah sebagai capres.

Ia juga berdoa di Masjid Raya, yang pernah dibangun ayahandanya, almarhum Haji Kalla bin Tuppa, serta pertemuannya dengan sejumlah ulama yang berkumpul di Wisma Haji, Bontoala, sebelum ia menyekar makam ayahanda dan ibunya, Hajah Athirah binti Muhammad, di Taman Pemakaman Umum Bontoala. Kunjungannya itu ia tutup dengan berdoa di Masjid Al-Markas, masjid yang pernah dibangun almarhum Jenderal (Purn) M Jusuf.

Berikut petikan wawancara dengan Kompas.

Anda sekarang kelihatan lebih tenang dan lega?

Tentu, sekarang sudah lebih jelas dan arahnya jelas setelah deklarasi.

Mengapa?

Karena sudah ada keputusan. Awalnya memang desakan teman. Karena masih mendua (menunggu lamaran cawapres atau mencalonkan diri sebagai presiden). Akan tetapi, setelah keputusan dan deklarasi capres dan cawapres, sekarang kita punya arah dan lebih fokus,.

Tapi, masih ada yang keberatan Anda maju dan tak bergandengan dengan Presiden SBY?

Yang saya putuskan itu adalah fakta. Apa yang saya lihat, saya rasakan, dan saya telah putuskan.

Terkesan deklarasi JK-Wiranto dipercepat, ada apa sebenarnya? Pada waktu itu, sejumlah fungsionaris Partai Golkar tidak terlihat hadir dan mendukung?

Tetapi, semuanya mengetahuinya (adanya keputusan itu). DPD Partai Golkar Tingkat I juga mengetahuinya. Fungsionaris Golkar juga sudah tahu. Beberapa memang ada yang tidak datang. Akan tetapi, seperti Pak Muladi sudah memberi tahu.

Apa mungkin mereka masih punya ganjalan?

Itu yang saya jelaskan, mengapa saya berpisah (dengan Presiden SBY). Memang banyak harapan untuk itu (bergandengan lagi). Saya sudah jelaskan mengapa posisi Partai Golkar seperti itu. Golkar sendiri sudah banyak bekerja untuk proses ini.

Sekarang, bagaimana bentuk tantangannya setelah deklarasi capres dan cawapres?

Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan efektivitas pasangan bersama Pak Wiranto agar elektibilitasnya dapat lebih tinggi lagi.

Jika gagal membangun efektivitas dan kepercayaan, lalu akhirnya kalah?

Dalam negara demokrasi, menang kalah adalah risiko. Kalau kalah, berarti ada yang lebih baik lagi.

Konflik internal Partai Golkar sekarang bagaimana?

Saya kira akan semakin berkurang. Memang masih ada, tetapi akan berhenti karena deklarasi itu, kan, sudah sesuai dengan keinginan mereka bahwa Partai Golkar harus mencalonkan capres. Saya yakin tidak akan ada persoalan lagi.

Bagaimana dukungan keluarga dan kerabat?

Semuanya komitmen mendukung. Seperti istri, anak, dan keluarga lainnya juga ikut mendukung. Mereka mendorong dan menyetujui apa yang telah saya putuskan. Mereka tidak banyak mencampuri. Mereka hanya memberikan semangat.

Sudah diperkirakan implikasinya dengan pencalonan presiden?

Pasti, kalah menangnya sudah dihitung. Karena, kan, tidak mungkin semuanya menang atau semuanya kalah. Pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Semua risiko besar kecilnya juga sudah dihitung, baik dari sisi politik maupun lainnya. Kita menyadari risiko seperti itu.

Kalau menang, tentu kita akan menjalankan amanah dan tentu akan mendapat dukungan semuanya untuk melaksanakan pemerintahan baru. Kalau saya tidak berhasil, ya semuanya akan mendoakan saya untuk tetap tegar. Saya sendiri akan kembali menekuni hal-hal yang selama ini saya jalani, seperti di bidang kemasyarakatan, perdamaian, dan juga mengurus mesjid.

Kenapa sih Anda tidak menunggu saja dilamar sebagai wapres oleh Presiden SBY?

Oh, tidak, karena tiga kali dipanggil, tidak pernah ada jawaban yang tegas. Hanya, ya-ya-ya....

Anda membeberkan peranan sebagai wapres yang lebih dominan daripada presiden. Bagaimana sebenarnya?

Sebagai wapres, memang saya harus tahu diri dengan posisi itu. Saya tentu tidak boleh melebihi kewenangan presiden. Namun, dalam pekerjaan, saya sering mendapat tanggung jawab lebih, misalnya dalam perdamaian dan program lainnya. Bukan hanya gagasan, tetapi juga keputusan, pelaksanaan, dan pengawasan minggu per minggu, saya yang melakukan itu semua.

Dilemanya, jika saya tidak boleh melebihi kewenangan presiden, saya harus menunggu keputusan yang lama. Jika kita tidak segera mengambil keputusan yang cepat, negeri ini akan terus berada dalam krisis. Sekiranya ada keputusan wapres, tentu saya sudah memutuskan sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik.

Presiden tidak marah dengan langkah yang bisa berada di luar kewenangan presiden?

Tidak. Semua yang saya lakukan ada perintahnya dan ada suratnya. Sebagai wapres, saya juga bukan ban serep. Semuanya sudah dibicarakan sebelumnya. Setelah menjadi wapres, saya sudah mendapatkan surat dari presiden untuk menjalankan bidang infrastruktur, seperti listrik, jalan tol, bandara dan pelabuhan, selain program konversi minyak tanah ke elpiji.

Dalam pemilihan umum legislatif, Partai Demokrat unggul dan sebaliknya Partai Golkar merosot, apa itu karena peran Anda tidak terlihat?

Itu memang pandangan masyarakat yang menurut saya tidak salah. Tentu, itu efek dari sikap saya yang tidak mau menonjolkan diri selama ini. Biarlah, rakyat yang menilai apa yang saya lakukan. Saya yang penting bekerja. Saya sendiri tidak pernah menyatakan apakah itu infrastruktur, program konversi, atau lainnya merupakan gagasan yang saya rencanakan dan putuskan serta saya laksanakan. Dengan begitu, tentu efeknya, kapitalisasi citra itu ada pada presiden, bukan pada saya. Bagi saya, yang penting bekerja secara ikhlas saja. Saya tak punya kepentingan apa- apa.

Akan tetapi, dalam pilpres nanti, saya berharap rakyat bisa lebih tahu yang yang telah saya lakukan. Saya memang akan menyatakan apa yang telah saya kerjakan.

Apakah Anda akan mengubah cara pencitraan?

Itu akan dilakukan oleh para ahlinya. Melalui misi dan visi yang saya paparkan, termasuk juga program apa yang akan saya kerjakan lima tahun mendatang. Tentu, saya akan kerjakan semua pemerintahan dengan cara yang lebih cepat dan lebih baik dengan hati nurani. Dan, itu akan saya sampaikan.

Usia Anda sudah 67 tahun dan kini semakin tua?

Usia berhubungan dengan kesehatan. Bukan pada kemampuan bekerja. Saya mampu untuk bekerja keras. Selama ini, saya berani bertarung dengan mereka yang lebih muda-muda. Karena saya bisa banyak melakukan kegiatan dalam sehari (9-12 kegiatan). Dan, tugas saya selama lima tahun ini tidak terlalu berbeda dengan tugas yang dijalankan presiden.

Jadi, apa yang Anda cari?

Saya tidak mencari kemuliaan dan kehormatan. Saya justru mencari kemuliaan dan kehormatan rakyat yang selama ini kurang mendapat kehormatan sebagai bangsa yang mandiri di bidang perekonomian. Saya juga akan melewati batas-batas presiden yang tidak hanya dikenal dari tempat kelahirannya, tetapi kemampuannya bekerja.

Bagaimana dengan gambaran pasangan JK-Wiranto?

Pertama, dalam beberapa hal, saya dan Pak Wiranto memiliki kesamaan, terutama sikap sebagai pimpinan yang tegas dan bertanggung jawab. Kami juga memiliki sikap yang sama-sama terbuka. Itu sangat penting dalam pemerintahan nanti. Yang lebih penting lagi, kami memiliki pengalaman yang sama di pemerintahan selama ini.

Apa kelebihan Wiranto?

Pengalaman saya di bidang ekonomi tentu akan dipadu dengan pengalaman Pak Wiranto di bidang politik dan keamanan. Kami akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan pemerintahan nanti.

Bagaimana dengan kampanye negatif terhadap Wiranto yang dituduh terlibat pelanggaran HAM?

Oh, ya. Itu sudah saya perhitungkan. Dia memang banyak disudutkan di luar negeri, bukan dari dalam negeri. Padahal, pilpres yang akan diadakan ini untuk dalam negeri. Jadi, dari sisi itu, saya kira tidak akan menjadi soal. Kalaupun ada pengaruh dari luar, saya yakin tidak besar. Apalagi dari sisi hukum, Pak Wiranto tak pernah ada tuntutan apa-apa. Lagi pula, sekarang ini, masyarakat melihatnya dalam konteks waktu yang sekarang, bukan konteks waktu dulu.

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
HN. Darwis @ Rabu, 1 Juli 2009 | 22:10 WIB
Ukuran kehormatan suatu bangsa tdk cuma kemandirian di bdg ekonomi. Banyak aspek penting lainnya yg tdk boleh diabaikan sehingga bangsa itu layak dihormati.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: