
Rabu, 1 Juli 2009 | 05:36 WIB
Wiranto hampir selalu tampil mengedepankan pentingnya pengabdian dan pelayanan, seperti yang ia nyatakan dalam Jakarta Press, Jumat, 19 Juni 2009. ”Jadi, pemimpin itu harus tahu masalah yang dihadapi rakyatnya. Bukan sebaliknya, menunggu apa yang diminta rakyat. Sebab, pemimpin adalah pelayan masyarakat.” Pada Pemilu Presiden 2009, ia ingin berkiprah sebagai pemimpin; ingin mewakafkan sisa hidupnya untuk kepentingan bangsa dan negara (Berita Sore
Meski tidak menjadi capres, pencalonan Wiranto sebagai cawapres menunjukkan keinginan itu, menginginkan dirinya sebagai pemimpin berarti juga menyediakan diri untuk mengabdi dan melayani masyarakat. Pensiunan jenderal yang pernah diduga terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia ini tetap konsisten menampilkan diri sebagai pengawal yang ingin melindungi.
Setelah kalah dalam Pemilu Presiden 2004, Wiranto sering berkeliling Nusantara untuk mengetahui fenomena yang terjadi di masyarakat. Dari sana, ia menyimpulkan, masih banyak persoalan bangsa yang belum beres. Ia merasa terpanggil membenahi ketidakberesan itu dan tak bisa menghindarinya.
”Prinsip saya, siapa pun yang terpanggil untuk memperbaiki nasib bangsa, ya harus bersedia,” kata Wiranto dikutip Soehartoreview.com Sabtu, 27 Juni 2009.
”Kita sudah menyimpang dari apa yang dijanjikan kepada rakyat ketika kita merdeka.... Kita gagal memenuhi amanat pendiri negeri ini untuk melindungi seluruh tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.”
Kata-kata Wiranto ini menunjukkan ia sebagai orang yang menganggap penting menepati janji. Nilai kesetiaan masih dipegangnya kuat-kuat dan menjadi salah satu pemandunya untuk mengawal negara Indonesia.
Karakteristik kepribadian Wiranto yang menjadikannya seorang pengawal setia masih tetap menonjol. Ditempa kehidupan masa kecil yang serba pas-pasan, ia terbiasa menghadapi situasi sulit dan bertahan menghadapi pasang surut kehidupan. Ketika usianya baru sebulan, putra pasangan RS Wirowijoto, guru Sekolah Rakyat, dan Suwarsijah dibawa hijrah dari Yogyakarta ke Surakarta setelah agresi militer Belanda.
Setelah itu, menurut pengakuannya yang dikutip Merdekanews.com Jumat, 15 Mei 2009, hidupnya sangat susah. Ia berjualan koran untuk membiayai sekolah dan membeli singkong guna mengisi perut laparnya. Jika ada sisa uang keuntungan jualan, ia sedekahkan kepada saudara-saudaranya.
Kehidupan keluarganya membentuk Wiranto sebagai pribadi sederhana dan tangguh menghadapi tantangan. Keadaan serba pas-pasan juga membentuk pribadi Wiranto mudah bersimpati terhadap penderitaan rakyat miskin. Seperti sumur di depan rumah masa kecilnya, ia ingin menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang. Seperti sumur itu, ia selalu siap sedia memberikan manfaat, siap mengabdi untuk masyarakat.
Menjadi tentara adalah cita- citanya sejak kecil. Dalam bukunya
Seperti umumnya orang dengan tipe kepribadian pengawal (David Keirsey, 1998), Wiranto menunjukkan ciri bangga terhadap dirinya sebagai orang yang dapat diandalkan, penolong, pekerja keras, setia, peduli kepada keluarga, dan bertanggung jawab sebagai orangtua. Sebagai pimpinan, ia mampu menstabilkan keadaan dan orang yang dipimpinnya, taat dalam menjalankan tugas, waspada, rendah hati, serta fokus pada konstitusi dan tradisi.
Adapun sebagai bawahan, ia taat dan patuh kepada atasan. Ini membuat penampilan Wiranto mengesankan adanya ketegasan. Persepsi sosial terhadapnya (N> 2198), kesan adanya sifat tegas dan setia kepada diri Ketua Partai Hanura ini.
Dalam menjalani peran sebagai warga negara, Wiranto menampilkan kepedulian terhadap masyarakatnya, percaya pada otoritas, senang bergabung dalam kelompok, mencari keamanan, suka memberi dan memperoleh penghargaan, dan bermimpi untuk mencapai keadilan.
Seorang pengawal seperti Wiranto juga selalu berpenampilan tenang, terampil, praktis, membumi, disiplin, dan berorientasi pada penyelesaian tugas. Ia senang berada bersama teman- temannya meski sering tampak serius dan jarang tersenyum.
Para pengawal umumnya tak suka mencoba hal baru yang terlalu berisiko. Ini juga tampak pada Wiranto. Ia sangat hati-hati terhadap perubahan, bahkan ketika ia tahu itu bisa menyehatkan organisasinya. Ia lebih memilih perubahan perlahan-lahan, sesuai dengan konstitusi, dan terkendali. Dalam pekerjaan, ia lebih suka bekerja dengan sistem yang pasti, memiliki prosedur yang ajek dan rinci, serta jadwal yang jelas.
Ciri-ciri otoritarianisme menonjol pada orang tipe pengawal. Demikian juga pada Wiranto. Indikasi sifat konvensional, tunduk/patuh, menerima tanpa syarat moral otoritas yang dianut kebanyakan orang, tidak terlalu suka pada perbedaan prinsip, oposisi terhadap yang subyektif, menolak hal-hal imajinatif, serta menilai pikiran lentur (
Ciri lain yang indikasinya juga kuat adalah sifat agresi otoritarian, mencakup kecenderungan menjaga dan mempertahankan, menyerang, menolak, serta menghukum orang yang melanggar nilai-nilai konvensional.
Orang dengan karakter kepribadian pengawal mudah terusik oleh situasi yang mereka nilai sebagai tidak tenteram, tidak aman, dan tidak sejahtera. Wiranto pun demikian. Di hadapan massa kampanye di Gunung Kidul tanggal 2 April 2009, ia menilai saat ini Indonesia sedang berada dalam masa
Dengan ciri yang terbentuk menjadi tradisional, berpatokan pada falsafah moyang sehingga mudah diarahkan oleh firasat, ada kecenderungan memandang kehidupan, juga kehidupan politik, sebagai ajang konflik pada Wiranto.
Pandangan politik sebagai ajang konflik itu sudah terlihat sejak ia menjadi calon presiden di Pemilu 2004. Waktu itu ia menyatakan, ”Sekarang ini, konfrontasi antarelite politik tidak lagi mencerminkan preferensi yang jelas antara kekuatan prodemokrasi dan kekuatan antidemokrasi. Yang terjadi adalah sebuah pertarungan perebutan kekuasaan sesaat....” Sebagai pengawal, ia memang selalu waspada dan peka terhadap karut- marut yang ada di lingkungannya.
Sebagai orang yang ingin diandalkan, Wiranto melengkapi dirinya dengan sebanyak mungkin pengetahuan dan keterampilan. Kemampuan dan kemauan belajarnya yang tinggi mendukungnya. Ia berpengetahuan luas, mampu memahami berbagai dimensi dan sudut pandang dari permasalahan yang dihadapinya.
Kewaspadaan membantunya untuk awas pada berbagai kemungkinan. Dengan prinsip dan kategori kognitif yang dimilikinya, ia menyelesaikan masalah atas dasar ketenteraman, kesejahteraan, dan keamanan. Meski secara potensial kompleksitas pikirannya cukup tinggi, pada praktiknya ia lebih suka menyelesaikan masalah secara sederhana, praktis, cepat, dan efisien.
Sebagai pensiunan militer, Wiranto terbiasa bekerja dengan struktur komando yang jelas. Pola penalarannya yang linear dipengaruhi pengalaman itu. Ia menjelaskan dan menyelesaikan masalah secara runut berdasarkan prinsip-prinsip yang dianutnya.
Setelah menjadi cawapres mendampingi Jusuf Kalla pada Pemilu Presiden 2009, pensiunan jenderal bertubuh tegap terjaga ini menjadi lebih murah senyum. Ia juga cepat menyesuaikan diri dengan situasi yang dijalaninya. Pembawaannya lebih bersahabat dan cara bicaranya lembut. Ia mengesankan dirinya sebagai orang yang memiliki motif afiliasi.
Namun, mengingat penampilannya itu dimunculkan dalam konteks usaha untuk mendapat simpati massa, maka motif afiliasi itu tak dapat dilepaskan dari motif kekuasaan yang menonjol pada dirinya. Keinginannya untuk berperan penting dan berpengaruh dalam masyarakat Indonesia digerakkan oleh kebutuhannya akan kekuasaan. Ia juga ingin memiliki kontrol terhadap jalannya kehidupan masyarakat Indonesia.
Sebagai seorang pengawal yang setia, ia peduli dan selalu tergugah oleh situasi yang dinilainya tidak menentu. Keinginannya memberi pengaruh terhadap lingkungan mendorongnya untuk terus terlibat mengurus negara Indonesia. Keinginan mengabdi dan melayani masyarakat tersebut juga dapat dipahami sebagai keinginan untuk punya pengaruh, yang didorong oleh motif kekuasaan, terlepas dari usahanya menunjukkan bahwa ia mau menjadi cawapres karena merasa perlu duduk di kursi kekuasaan agar dapat memberi kontribusi berarti bagi Indonesia.
Ciri-ciri kepribadian Wiranto, merujuk psikologi diri dari Heinz Kohut (1977), menunjukkan, tingginya peranan kutub ideal dalam dirinya. Kehidupan masa kecil yang pas-pasan menuntutnya selalu menahan dan mengendalikan ambisi-ambisinya. Dalam usaha itu, ia menggunakan citra dan penjelasan ideal untuk membenarkan situasi yang dialaminya. Dengan demikian, ia tetap dapat memandang dan menjalani hidup sebagai hal yang baik.
Kemampuan menahan dan mengendalikan diri menjadikan Wiranto sebagai orang yang sabar, tekun, dan stabil. Sifat-sifat itu yang membawanya menjadi orang yang dapat diandalkan atasannya dan mencapai posisi tertinggi di ABRI
Jika Wiranto mendapatkan kesempatan untuk mencapai posisi lebih tinggi tetapi melanggar konstitusi, mungkin ia akan mengalami konflik berat, bahkan mungkin tak akan berani mengambil kesempatan itu. Begitu pun jika ia memperoleh kesempatan untuk mendapatkan kekuasaan lebih tinggi, tetapi dengan kondisi kemungkinan menghasilkan ketidaktenteraman, ketidakamanan, dan ketidaksejahteraan masyarakat.
Ia bertindak berdasarkan citra dan prinsip ideal yang dipegangnya. Ini menjelaskan mengapa pada tahun 1998, ia tidak memanfaatkan instruksi presiden yang memberinya wewenang untuk mengambil kendali negara. Ia akan tetap menjalankan perannya sebagai pengawal yang setia dan hingga kini ia tetap ingin mengabdi.