
Rabu, 1 Juli 2009 | 05:37 WIB
Mr Get Things Done
Sementara itu, pasangan wakil presidennya, Wiranto, adalah pengawal yang setia dan waspada. Ia senang memperbaiki kondisi yang tidak stabil, menegakkan aturan yang ada, serta menjadi sosok pelindung dan pemelihara. Sebagai pasangan pemimpin, keduanya dapat bekerja sama untuk menciptakan kemajuan dan perubahan yang berarti. Karena mereka cukup banyak persamaan, walau lebih banyak lagi ciri karakter yang berbeda, itu bisa saling mengisi.
Keinginan kuat menanggapi masalah dengan cepat dan kepandaian membaca situasi adalah persamaan pertama mereka. Dalam kedua hal ini, mereka saling sejalan. Jusuf Kalla penuh inisiatif dan progresif. Saat meneropong masalah, ia lincah dalam berpikir begitu juga tindakannya. Ia tahu cara mencari penyelesaian yang tepat, mampu membuat strategi efektif mencapai tujuan, dan mementingkan perbaikan konkret. Sementara itu, Wiranto sigap, waspada, dan tanggap terhadap situasi, jelas dan efisien dalam membuat program. Dengan kecenderungan ini, keduanya akan sigap dan tanggap terhadap isu-isu yang muncul di masyarakat dan meresponsnya segera.
Kedua, Jusuf Kalla dan Wiranto adalah sosok yang sama-sama memiliki kebutuhan berprestasi yang kuat. JK adalah pekerja keras dengan corak berpikir realistik serta mementingkan kemajuan dan perbaikan nyata. Ia berusaha mendapatkan yang diinginkan dan selalu ingin mendapat hasil yang lebih baik. Wiranto yang pada dasarnya senang belajar selalu ingin mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu.
Keduanya juga memiliki kebutuhan kekuasaan yang menonjol. JK selama lima tahun terakhir ini semakin menunjukkan kemampuannya memengaruhi dan mengendalikan orang lain, begitu pula Wiranto yang sedari dulu memang memiliki kebutuhan itu. Wiranto akan membantu JK untuk membentuk tim di pemerintahan yang efisien dan kuat, mengontrol anak buah, dan memiliki pengaruh besar yang menjamin penuntasan masalah. Keduanya sama-sama tergolong orang yang terus terang, yang suka menyatakan kepuasan atau ketidakpuasan dengan tegas. Kecenderungan ini akan membuat orang di bawah mereka mendapat feedback yang jelas dan pasti untuk memperbaiki kinerja.
Bicara perbedaan, keduanya memiliki perbedaan menonjol pada lima hal. Pertama, Jusuf Kalla pandai melakukan improvisasi dan moderat, sementara Wiranto konvensional serta cenderung tradisional. Ketika menghadapi kejadian yang tak terduga atau situasi genting, JK dengan cepat mengorganisasi sumber daya, menggerakkan orang lain mencapai tujuan secara efisien. Bahkan, ketika berhadapan dengan instrumen yang tidak mendukung, ia berusaha mengubah instrumen tersebut agar tidak menghalangi pencapaian target.
Ia dengan lantang, misalnya dalam kasus monorel DKI yang terbengkalai karena ketiadaan jaminan pemerintah pusat, menyatakan, ”Kalau ada aturan yang tidak sesuai, aturannya yang diperbaiki, bukan targetnya yang dihentikan” (Tempo, 1 Juni 2009).
Di sisi lain, Wiranto pada dasarnya adalah seorang yang konservatif, suka menjaga hal-hal yang dianggapnya baik dan menjunjung tinggi aturan formal di atas kehendak individu. Ia bekerja dengan dasar yang jelas dan selalu terdorong menghindari penyimpangan. Oleh karenanya, ia mungkin kurang fleksibel dalam mengambil keputusan di luar aturan meski dibutuhkan.
Manakala improvisasi JK berhadapan dengan formalitas Wiranto, maka potensi masalah dapat muncul dalam interaksi keduanya. Namun, perbedaan ini juga bisa memberi nilai. Wiranto dapat berperan sebagai pengerem sang atasan dari keputusan yang tergesa-gesa dan tidak matang. JK pun dapat sedikit menahan napas, merefleksikan pertimbangannya dengan lebih hati- hati agar mengeluarkan keputusan yang lebih ”bijak”.
Kedua, JK terbuka pada ide- ide baru dan perubahan. Ini sedikit berbeda dengan Wiranto yang sebenarnya bersikap agak sulit menerima perubahan yang drastis. Mereka sebenarnya sama-sama bersikap positif terhadap perubahan. Bedanya, JK lebih berani melakukan perubahan yang berisiko besar sebagaimana yang ia tunjukkan dengan mengawal program konversi minyak tanah ke elpiji dalam 1 bulan, yang seharusnya 1 tahun, menurut Bank Dunia.
Adapun Wiranto bersikap sangat hati-hati terhadap perubahan. Baginya perubahan itu sebaiknya perlahan sebagaimana ia tunjukkan ketika mengawal proses transisi demokrasi era reformasi dengan memberikan smooth landing kepada mantan Presiden Soeharto. Menghindari pertentangan yang bisa terjadi sebaiknya ada kesepakatan awal berdasarkan rasa saling percaya yang tinggi—yang mau tak mau harus dibina—agar bisa saling terbuka dan asertif dalam menentukan aturan kerja.
Ketiga, JK moderat dan cenderung memandang manusia setara. Ia sering bertindak di luar aturan birokrasi, apalagi dalam situasi yang menurutnya genting. Sebaliknya, Wiranto konvensional tradisional dan birokratis, menekankan pentingnya hierarki dalam interaksi, yang mungkin dilatarbelakangi budaya militer tempat ia ”menjadi” dan kultur Jawa.
Namun, perbedaan ini dapat memberi poin bagi pasangan ini. Jika terpilih nanti sebagai pasangan pemimpin, JK sebagai presiden akan memberikan ruang yang luas kepada Wiranto, memerhatikan masukannya, dan melibatkannya secara optimal dalam pemerintahan. Wiranto sebagai wakil presiden RI akan setia, loyal mendukung sang atasan, dan menempatkan JK sebagai otoritas formal yang ia jaga dan lindungi. Ia akan berupaya agar dapat diandalkan membantu presiden mengawasi pelaksanaan tugas pejabat pemerintah, memastikan tugas terselesaikan.
Keempat, JK memiliki kesan kurang berwibawa sebagai pemimpin dan kurang karismatik. Wiranto memiliki sisi sebaliknya, disegani dan menampilkan kesan superior yang mungkin menciptakan rasa rendah diri pada bawahan sehingga menghambat mereka untuk bersikap asertif. Akibatnya, bawahan bisa merasa kurang memiliki ruang gerak dan didikte. Dipadu adanya kesan JK yang kurang menghargai orang lain karena kecenderungan untuk bicara terus terang dan ekspresi kritisisme yang ringan, keduanya mungkin dapat menekan anak buah dengan menciptakan atmosfer kerja sama yang kaku. Hal ini dapat ditutupi apabila keduanya bersikap lebih hangat, menunjukkan perhatian kepada tim dan anak buah. Namun, di sisi lain juga dapat menjadi nilai tambah karena menciptakan pola kepemimpinan yang memberikan kepastian dan ketegasan.
Kelima, JK memiliki pola penalaran sistematis dan kompleksitas pikiran tinggi dalam penyelesaian masalah. Ia dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi praktis yang efektif. Ia mampu berpikir satu langkah ke depan, realistik, mementingkan fakta, dan menekankan hasil. Dengan cepat, ia melakukan analisis yang obyektif dan kritis terhadap situasi yang dihadapi.
Sedikit berbeda, Wiranto memiliki pola penalaran linier, tetapi mampu berpikir dengan cepat, lurus, dengan kategori tegas untuk menyelesaikan masalah. Meski memiliki kompleksitas pikirannya cukup tinggi, Wiranto pada praktiknya lebih suka menyelesaikan masalah secara sederhana, praktis, cepat, dan efisien. Dalam masalah yang menuntut penyelesaian secara komprehensif, mereka berdua dapat terjebak pada simplifikasi. Akibatnya, permasalahan yang kompleks belum tentu mendapatkan solusi yang komprehensif.
Baik JK maupun Wiranto sama-sama menekankan penyelesaian masalah hari ini. Dalam performa, JK yang cepat diimbangi Wiranto yang stabil menyelesaikan persoalan. Mereka lebih menekankan kemajuan sedikit yang terukur pasti sehingga kurang imajinatif untuk menciptakan dentuman besar perubahan. Hal tersebut tak terelakkan karena adanya penekanan mereka berdua akan urgensi penyelesaian krisis.
Secara politik, Wiranto memandang kehidupan politik saat ini sebagai masa yang kelam, konflik antarelite yang tajam. Secara sosial ekonomi, JK melihat kehidupan negara sebagai keterpurukan, ketiadaan kemandirian bangsa dan ketergantungan pada kekuatan asing yang mencengkeram lewat utang. Reformasi birokrasi, kemandirian ekonomi, menjaga keutuhan NKRI, dan memelihara stabilitas keamanan akan menjadi fokus keduanya.
Untuk mengoptimalkan kinerja pasangan ini, diperlukan dukungan tim orang-orang yang mampu bekerja keras, memenuhi target pencapaian yang tinggi, loyal, menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu, serta melaporkan kegagalan dan keberhasilan dengan transparan. Mereka juga harus berani membuka diri, mendengar dan menerima masukan yang positif, bahkan dari pihak oposisi agar bisa membuat peta fenomena yang utuh untuk mencari solusi bersama.
Lebih dari itu, pasangan ini sebaiknya dikelilingi oleh lingkaran yang beretos tinggi, bekerja cerdas, dan berspirit voluntarism, pengabdian fokus kepada bangsa dan negara. Dengan demikian, realisasi kemajuan menjadi nyata, tidak sekadar menjadi hasrat yang menggebu-gebu. Seandainya terpilih, dengan kegesitan berpikir dan kelincahan bertindak, progresivitas dan loyalitas, pasangan ini tampak bisa merintis jalan bangsa menuju Indonesia yang maju dan bangga pada kemampuannya.