
Rabu, 1 Juli 2009 | 05:41 WIB
Sekiranya ada keputusan wakil presiden, tentu semua kebijakan sudah saya ambil sehingga semuanya bisa berjalan dengan cepat dan lebih baik. Dengan demikian, krisis bisa segera kita selesaikan.”
Kata-kata Jusuf Kalla yang dikutip Kompas.com, Kamis, 18 Juni 2009, ini memberi petunjuk tentang inisiatifnya yang tinggi dan keinginan memberi pengaruh signifikan kepada lingkungannya. Dalam bisnis, ia adalah investor progresif. Di dunia politik, sifatnya dalam berbisnis ini juga tampil menonjol.
Kemampuan mengelola sumber daya secara strategis menonjol pada Jusuf Kalla. Ia cepat dan efektif dalam mengambil keputusan serta selalu menghitung risiko. Kecenderungan berpikir satu langkah ke depan, kemampuan membina hubungan jangka panjang, dan mementingkan kemajuan juga menonjol pada dirinya.
Ia dikenal sebagai orang yang praktis, realistik, dan mementingkan fakta, serta penuh daya dalam menjalankan rencananya. Kemampuan menggunakan common sense dan menemukan solusi praktis seperti otomatis bekerja dalam dirinya.
Keterlibatan di banyak bidang membuat pengusaha dan politikus, anak laki-laki tertua di keluarganya yang sejak kecil dididik ayahnya untuk menjadi pemimpin ini, menjadi orang yang terbiasa menghadapi situasi yang tak terstruktur. Dalam keadaan genting dan krisis, ia bisa cepat menentukan tindakan yang perlu ditampilkan, termasuk menggerakkan orang untuk terlibat dalam penyelesaian masalah yang dihadapi. Sepertinya, ia terbiasa bertindak lebih dulu, berefleksi kemudian.
Ia mudah terstimulasi oleh obyek yang ada di sekitarnya dan ini saling berpengaruh dengan minatnya yang luas. Ia juga menikmati bertemu dan bekerja dengan banyak orang. Ingatannya yang kaya akan informasi rinci diperolehnya dari keterlibatan di banyak bidang dan bertemu dengan banyak orang. Meskipun Jusuf Kalla senang berinteraksi dengan banyak orang dan sering berada dalam situasi yang berubah-ubah, ia memerhatikan rincian rutin dalam kesehariannya. Masalah rutin sehari-hari dapat ditanganinya dengan baik.
Dilihat dari paparan dan jawabannya terhadap berbagai pertanyaan, Jusuf Kalla tampak sebagai orang yang berorientasi kepada masa kini, bekerja berdasarkan masalah yang dihadapi, dan bergerak seiring dengan kesempatan yang ada di sekitarnya. Sepak terjangnya sebagai pengusaha dan pejabat negara menunjukkan kemampuannya berimprovisasi ketika berhadapan dengan kejadian tak terduga dan dalam waktu cepat dapat mengorganisasi program mengatasi situasi genting.
Kemampuan menggerakkan orang lain, bekerja mencapai tujuan disertai kemampuan fokus untuk memperoleh hasil dengan cara seefisien mungkin membuatnya menjadi pemimpin yang sistematis dan dapat memberi instruksi yang jelas kepada bawahannya.
Jusuf Kalla berpikir dan bekerja menggunakan satu kerangka logika yang jelas dan baku. Secara runut ia mengikuti alur logika itu dan mengarahkan orang lain untuk juga mengikutinya. Ia terdorong mencari fakta dan logika dalam situasi yang menuntut pengambilan keputusan. Dalam waktu cepat, tugas dan pekerjaan yang penting bagi pencapaian tujuan dapat dideteksinya. Ia pun mampu dengan cepat melakukan analisis yang obyektif dan kritis.
Secara emosional Jusuf Kalla mudah terusik dan merasa tak nyaman bila menghadapi situasi yang tak efisien dan buang-buang waktu. Dari pengakuannya, ia menyatakan sering gemas melihat jalannya pemerintahan yang dinilainya lamban. Ia tak sabar menjalani rapat berhari- hari tanpa menghasilkan keputusan. Kegemasan dan ketidaksabarannya itu mendorongnya berinisiatif mengambil tindakan yang dianggapnya perlu.
Karena sepak terjangnya yang gesit penuh inisiatif dalam mendampingi Presiden SBY, banyak kalangan menilai ia berperan melebihi kapasitas wakil presiden sampai-sampai muncul sebutan the real president ditujukan kepadanya.
Sifat terbuka pada ide baru, disiplin ketat, logis, memanfaatkan waktu seefisien mungkin, menilai tinggi ketangkasan dan kecepatan, kemauan untuk membaur dengan siapa saja, serta mau bekerja sama untuk mencapai keuntungan yang lebih besar menggerakkan Jusuf Kalla baik sebagai pebisnis maupun sebagai politikus.
Selama menjabat sebagai wakil presiden, sifat-sifat itu tampil jelas. Menurut dia, ia ikut menggagas, merencanakan, melaksanakan, dan mengawasi terus setiap proyek yang dicanangkan pemerintah, di antaranya program bantuan langsung tunai, konversi minyak tanah ke elpiji, proyek listrik 10.000 MW, dan pembangunan sejumlah infrastruktur, seperti bandar udara, tol, dan pelabuhan. Ia mengakui, kadang pekerjaan yang ia lakukan melebihi peranan sebagai wapres.
Jusuf Kalla senang berhubungan dengan banyak orang dan mampu bekerja sama dengan beragam manusia. Sebaliknya, ia merasa tak nyaman bila tak bisa berinteraksi dengan orang lain. Ia percaya manusia dapat hidup damai dan menerima pembauran berbagai macam orang.
Keterlibatannya dalam sejumlah proses penyelesaian konflik menunjukkan indikasi kepercayaannya bahwa politik adalah ajang mencapai harmoni. Ia menerima konflik adalah bagian alamiah dan normal dalam hubungan antarmanusia. Baginya, konflik apa pun dapat diselesaikan jika setiap pihak yang berkonflik mau saling memahami. Ia melihat munculnya konflik sebagai akibat kesalahpahaman dan penyelesaiannya adalah klarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi oleh pihak-pihak yang bertikai.
Kebiasaan menjalani situasi yang beragam, bekerja dalam berbagai bidang, serta seringnya bertemu dengan beragam orang membentuk struktur kognitif yang kompleks dalam lapangan kognitif Kalla. Ia mampu melihat masalah dari beragam sudut pandang dan memadukan beragam sudut pandang itu untuk membuat keputusan yang dapat diterapkan segera. Struktur penalarannya sistematis, logis, dan runut. Ia mampu menggunakan beragam konsep dan memadukan tiap konsep itu untuk mengenali dan menyelesaikan masalah.
Namun, Jusuf Kalla cenderung hanya mengandalkan fakta obyektif, kurang imajinatif, dan lebih suka berurusan dengan hal- hal konkret. Kesan ini yang mungkin mendasari persepsi masyarakat mengenai kecerdasannya, di mana dalam survei kami (N> 2198) hanya 36,8 persen responden menganggap ia sangat cerdas Adapun SBY 59,9 persen dan Megawati 30,7 persen. Fungsi penginderaan sangat menonjol pada dirinya.
Ia lebih suka berpikir dengan ide yang langsung dapat dicek sesuai tidaknya dengan kenyataan. Orientasi pikirannya adalah penyelesaian masalah secara konkret. Jadi, meskipun bisa berpikir jauh ke depan, ia lebih suka memikirkan hal yang digelutinya sehari-hari.
Motif sosial
Sudah kami jelaskan pada pengantar, bicara motif sebaiknya kita gunakan teori motivasi dari McClelland yang menunjukkan tiga jenis kebutuhan. Kebutuhan untuk berprestasi yang mendorong individu cenderung mengambil risiko moderat, mengelola sumber daya secara efisien, dan berusaha selalu mencapai kemajuan walau sedikit demi sedikit. Ia tak tahan berada dalam situasi statis dan tidak suka menjadi orang yang bergantung pada orang lain. Motif ini tampak berfungsi pada JK selama menjabat wakil presiden. Ia sering merasa tak nyaman karena terkatung-katung menanti keputusan presiden. Untuk mengatasi perasan tak enak tersebut, beberapa kali ia mengambil inisiatif tindakan. Memanfaatkan berbagai cara agar dapat menyelesaikan beberapa masalah yang ada. Tak jarang ia tampak lebih aktif dan lebih cepat dibandingkan presiden. Indikasi motif kekuasaan juga semakin menonjol pada penampilan diri Jusuf Kalla. Dalam hasil survei persepsi sosial (N>2.198), ia dinilai memiliki motif kekuasaan yang lebih tinggi daripada SBY.
Dorongan untuk menyelesaikan berbagai masalah dalam waktu cepat dengan memanfaatkan sebanyak mungkin orang membawanya kepada kebutuhan memengaruhi orang lain. Dengan memengaruhi orang lain, penerapan rencana dan penyelesaian masalah di lingkungan akan bisa dilakukan. Didukung keinginan menghasilkan yang terbaik dalam waktu cepat mendorong Jusuf Kalla untuk mengendalikan orang lain.
Ada keterkaitan erat antara motif kekuasaan dan berprestasinya. Keduanya bekerja saling menguatkan untuk bertindak dan mencapai kemajuan. Namun, bisa juga dua motif itu mengarahkannya kepada konflik kepentingan antara prestasi yang terbaik dan kekuasaan. Kakinya yang berada di dua dunia, bisnis dan politik, juga merupakan sumber potensi konflik kepentingan jika ia tidak hati-hati mengelolanya.
Motif afiliasi pada JK sebetulnya cukup tampil walau tak sekuat dua motif lainnya. Senyum lepas dalam menyapa dengan sikap tubuh agak condong ke depan menunjukkan usaha memberikan perhatian kepada lawan bicara walau kadang masih terkesan sekadarnya dan humor yang mencairkan suasana menunjukkan adanya keinginan pada JK untuk bersosialisasi dan tak ingin berjarak dengan publiknya. Ia pun sadar bahwa ini akan sangat menunjang kebutuhannya akan kekuasaan.
Selama menjadi wakil presiden, JK menunjukkan indikasi ciri kepemimpinan yang tampak menonjol: penuh inisiatif, awas terhadap situasi, cepat mengambil keputusan dan tanggap terhadap masalah, mampu mengambil tanggung jawab, mampu memantau jalannya penyelesaian masalah, dan mampu membuat strategi efektif. Pengalaman memimpin usaha dalam bisnis menjadi modal baginya. Aktivitas memimpin sudah menjadi kebiasaannya sejak muda.
Dengan karakteristik kepribadiannya, dari segi kemampuan Jusuf Kalla adalah pemimpin yang efektif dan progresif. Orientasi kepada penyelesaian masalah dan kemajuan dapat membawa pihak-pihak yang dipimpinnya kepada pencapaian hasil yang produktif. Dari hasilnya, orang yang dipimpinnya dapat melihat bukti nyata kepemimpinannya sehingga mereka bisa tetap loyal kepadanya.
Namun, dilihat dari penampilan dirinya, Jusuf Kalla yang cenderung apa adanya dan terus terang tidak memiliki karisma yang menonjol. Gaya bicara, ekspresi wajah, dan gerak-geriknya kurang terjaga sehingga kurang memberi kesan adanya karakter yang kuat sebagai pemimpin. Hasil survei (N> 2198) menunjukkan, yang menilai ”sangat berwibawa” hanya 24,2 persen responden, berbeda sangat tipis dengan Megawati (24,1 persen) tetapi sangat jauh dengan SBY (68,7 persen).
Beberapa kali pada awal masa jabatannya sebagai wakil presiden, ia menampilkan pernyataan yang dianggap menyinggung banyak orang. Contohnya, ucapan tentang perkawinan pribumi dengan orang Timur Tengah yang bisa memperbaiki keturunan. Sifat terus terang dan apa adanya bisa menjadi kekuatannya, tetapi juga dalam konteks tertentu bisa menjadi senjata makan tuan. Selain itu, tampaknya JK harus mengeluarkan tenaga lebih besar lagi untuk bisa mengambil hati masyarakat yang sebagian besar masih lebih diarahkan oleh pengamatan visual dan auditif.
Dalam FGD tercetus pendapat bahwa penampilan JK: ”...kurang sophisticated”. Mungkin bisa menjadi catatan JK bahwa perbaikan penampilan diri hal yang biasa dilakukan oleh pemimpin dunia. Margareth Thatcher mengganti warna dan gaya rambut, Presiden Carter memperbaiki intonasi suaranya yang dianggap terlalu ”Selatan”, dari Napoleon sampai Obama tampak sangat sadar akan hal ini.
Lepas dari penampilan dirinya, Jusuf Kalla dapat diandalkan sebagai pemimpin. Seperti yang sudah dibuktikannya dalam bisnis dan pemerintahan, keutamaan dan kekuatan dirinya memadai sebagai dukungan menjadi pemimpin yang dapat membawa perbaikan dan kemajuan.