Kamis, 18 Maret 2010
PESAWAT BARU GARUDA LINTASI PASIFIK
Dibayang-bayangi AF-447 dan IY-626

Sabtu, 4 Juli 2009 | 03:00 WIB

Ninok Leksono

Pagi itu, Rabu (1/7), semua berawal di pelataran apron Boeing Commercial Aircraft di Seattle, AS. Capt Pilot Budi Hendarwan, Capt Rudiono, dan First Officer Rahmat Eko melihat pesawat Garuda terbaru, yang Jumat pekan sebelumnya diserahterimakan oleh Boeing, yang masih bercat putih tanpa logo maskapai penerbangan nasional Indonesia.

Beberapa menit sebelum naik ke pesawat Boeing 737-800NG, ketiga penerbang Garuda itu menyempatkan diri untuk berfoto dengan pesawat yang akan mereka terbangkan melintasi Samudra Pasifik.

Ketiganya telah mengetahui rencana penerbangan yang akan ditempuh. Pagi itu mereka hanya akan menerbangi ”etape” pertama saja, yakni Seattle-Honolulu, yang berjarak sekitar 4.000 km dengan waktu terbang 4 jam 45 menit. Namun, jelas, dalam benak ketiga penerbang—juga para penumpang—di depan lautan mahaluas menanti.

Itulah Samudra Pasifik, yang namanya berasal dari bahasa Latin, Mare Pacificum, yang berarti Lautan Damai. Itu nama yang diberikan oleh penjelajah Portugis, Ferdinand Magellhaens, pada tahun 1520. Samudra seluas 165,2 juta km persegi ini mencakup 46 persen permukaan air bumi dan 32 persen luas permukaan total bumi. Selain itu, masih ada fakta lain yang tak kalah ”mencekam”, yakni adanya palung laut paling dalam, yakni Palung Mariana di Pasifik barat laut yang dalamnya 10.911 meter, paling dalam di dunia, dan itu lebih dari ketinggian Mt Everest. Kedalaman rata-rata samudra ini 4.280 meter (MSN Encarta).

Lalu, dalam dimensi mahaluas tersebut terbayang sebuah pesawat terbang yang betapapun besarnya—apakah Jumbo 747 Boeing atau Superjumbo Airbus 380—pastilah ibarat setitik debu dibandingkan dengan jarak yang harus dilintasi.

Selain itu, penerbangan harus dilakukan ketika bayangan tragedi musibah hilangnya pesawat Air France AF-447 di Atlantik, 1 Juni 2009, yang menewaskan 228 penumpang dan awaknya. Bahkan, ketika menunggu pesawat diserahterimakan, terbetik pula berita kecelakaan pesawat Yemenia IY-626 yang menewaskan hampir seluruh penumpang dan awaknya, kecuali seorang gadis berusia 14 tahun.

Kali ini, pesawat Garuda yang akan menerbangi Pasifik pun bukan 747 atau 380, tetapi 737-800 Next Generation (NG). Sungguhpun jauh lebih mutakhir dibandingkan dengan dua generasi 737 sebelumnya, yakni Generasi Awal (seri 100 dan 200) dan Generasi Klasik (seri 300, 400, dan 500), seri 800NG tetap pesawat kecil untuk jarak yang harus ditempuh. Kelak jet ini juga akan dioperasikan untuk melayani rute-rute domestik yang kini tengah gencar dibuka oleh Garuda Indonesia.

Capt Budi, sosok serius yang akan berperan sebagai pilot in-command, tampaknya tak ragu dengan tugas yang diembankan di puncaknya. Setelah mendapat clearance dari ATC Bandara Tacoma, Seattle, ia pun segera membawa 737-800NG dengan nomor registrasi PK-GMA ini mengudara. Semua serba mulus. Mesin buatan CFM yang jauh lebih bertenaga dibandingkan dengan yang ada pada 737 Generasi Klasik, yang kini masih setia melayani rute Jakarta-Yogyakarta dan lain-lain, itu membawa PK-GMA pada ketinggian jelajah 38.000 kaki atau sekitar 12.000 meter.

Karena alasan waktu layanan yang terbatas di pendaratan berikut, yakni di Majuro, Kepulauan Marshall, PK-GMA pun bermalam di Honolulu.

Boeing, yang membekali pesawat dengan 20 ton bahan bakar, saat itu hanya terpakai 16 ton. Dengan bahan bakar yang tersedia tadi, pesawat sebetulnya bisa terbang nonstop selama 9 jam.

Menuju Majuro

Keesokan harinya, feri lanjutan dimulai pukul 09.00 waktu setempat. Kali ini, penerbangan ke Majuro akan ditempuh selama 5 jam, menempuh jarak sekitar 4.100 km.

Hidangan susul-menyusul yang disajikan oleh tiga pramugari yang bertugas dalam penerbangan ini—Mila, Ade, dan Fritda—membuat etape kedua feri nyaris tak terasa. Ketika akan mendarat sekitar pukul 11.45, dari jendela sebelah kiri pesawat mulai tampak Kepulauan Marshall yang luasnya 180 km persegi itu. Terbayang pula riwayatnya yang sesungguhnya menyeramkan. Di kepulauan yang punya beberapa atol inilah dulu—antara tahun 1946 sampai 1963—AS melakukan uji coba bom nuklirnya. Dua atol yang sering disebut—yakni Eniwetok dan Bikini—kini memang telah digunakan sebagai nama dua pakaian renang yang juga diasosiasikan dengan efek eksplosif. Namun, riwayat radioaktif di kedua atol itu sendiri diperkirakan baru akan hilang dalam kurun 100 tahun.

Cuaca sungguh panas di ibu kota kepulauan tempat 737NG Garuda mengisi bahan bakar ini. Penumpang bisa turun dengan leluasa, sejenak menikmati pantai dengan air laut yang berwarna biru gelap. Tak ada aturan sekuriti apa pun saat itu. Dari salah satu papan informasi terbaca bahwa salah satu bahaya di daerah itu adalah ular pohon berwarna coklat yang asalnya disebut dari Indonesia. Turis ke wilayah itu sebagian besar diangkut maskapai Continental.

Setelah sekitar sejam dan bahan bakar kembali dipenuhi, PK-GMA pun segera siap terbang lagi, meninggalkan kepulauan yang berpenduduk sekitar 50.000 jiwa ini. Secara internal mereka punya pemerintahan sendiri, tetapi secara eksternal AS-lah yang menguasai daerah yang dulu pernah dikuasai oleh Jerman dan Jepang ini.

Setelah Majuro, bandara tujuan berikut adalah Biak, yang juga akan ditempuh dalam waktu 5 jam, juga dengan jarak sekitar 4.000 km. Menjelang Biak, mendung menyambut kedatangan penerbangan Garuda ini.

Namun, harapan segera mendarat di wilayah negeri sendiri membuat mendung tak penting lagi. Dengan mendarat di Biak, penerbangan Pasifik yang mencekam telah berakhir.

Akhirnya datang pula etape terakhir, dengan destinasi Bandara Soekarno-Hatta. PK-GMA lepas landas dalam cuaca hujan. Etape terakhir berdurasi 4 jam dengan jarak tempuh 3.400 km. Pesawat menyentuh landasan terakhir pukul 18.20 WIB tanpa kurang suatu apa.

Boeing yang merancang badan dan sistem 737-800NG, CFM yang membuat mesinnya, telah menghadirkan karya teknologi yang bisa untuk menaklukkan Pasifik. Namun, Capt Budi dan kedua rekannya juga contoh dari insan Indonesia modern yang mampu mengoperasikan benda canggih dengan piawai. Penerbangan feri dengan total waktu terbang 19 jam dari Seattle ke Jakarta adalah bukti yang membanggakan.

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
risdiyanto @ Minggu, 5 Juli 2009 | 01:39 WIB
baru jarak segitu... bagi kita yang pelaut malah menyebrang trans ocean .. dg jarak 12000 nm, alhamdulilah selamat... (gak pake pramugari lho...)
kuntadi @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 14:05 WIB
baik banyak disertai dat data yang mendukung
Herman Karim @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 09:00 WIB
Penerbang membutuhkan pikiran, jiwa dan raga yang prima. Mereka harus dekat dengan Tuhan... Tuhanlah Penentu segalanya... Saya bangga..Anak saya dua penerbang..

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: