
Sabtu, 4 Juli 2009 | 03:10 WIB
Jakarta, Kompas -
Pada kesempatan kampanye itu, Andi mengatakan, belum saatnya putra Sulawesi Selatan menjadi pemimpin negeri ini.
Pernyataan itu mengundang protes dan kemarahan sejumlah kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Ketika ditanyakan apakah ia akan meminta maaf untuk meredakan suasana, Jumat (3/7), Andi mengatakan, ”Saya tak melihat ada yang salah dalam pernyataan saya. Tak mungkin saya melecehkan atau mendiskriminasi orang sekampung sendiri.”
Andi menjelaskan, ia mengajak warga sedaerahnya di Sulawesi Selatan untuk merasa merdeka memilih berdasarkan apa yang dianggap terbaik. Andi mengatakan, mungkin saja putra-putri Sulawesi Selatan suatu saat menjadi presiden, tetapi untuk 2009-2014, ia yakin SBY-Boediono-lah yang terbaik.
”Sebenarnya saya ingin dalam orasi politik membuka pikiran warga sekampung saya, masyarakat di Sulawesi Selatan, untuk bisa memilih lepas dari batas-batas kesukuan, lepas dari batas-batas politik primordial,” ujarnya.
Secara terpisah, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengingatkan,
”Jika tidak dan malahan dibiarkan, pernyataan Andi sebagai tim kampanye pasangan Yudhoyono-Boediono itu bisa menjadi bumerang bagi tingkat keterpilihan Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2009 nanti, terutama di wilayah Sulawesi Selatan,” kata nya.
Dia menilai pernyataan Andi sebagai pernyataan yang tidak cerdas. Padahal, jelas bahwa konstitusi menjamin siapa pun warga negara bisa menjadi presiden, tanpa melihat faktor suku, agama, dan asal-usul.
”Kalau dibilang belum waktunya, lalu kapan?” kata Syamsuddin.
Pernyataan Andi betul-betul menunjukkan ketidakpekaan terhadap realitas bangsa yang heterogen. Pernyataan tersebut bisa jadi karena kepercayaan diri yang berlebihan. Padahal, pernyataan seperti itu bisa kontraproduktif terhadap penerimaan masyarakat terhadap pasangan Yudhoyono-Boediono.
”Permintaan maaf bisa menahan laju perpindahan pemilih,” ungkap Syamsuddin.