Rabu, 10 Februari 2010
DISKRIMINASI
Andi Mallarangeng: Tak Ada yang Salah

Sabtu, 4 Juli 2009 | 03:10 WIB

Jakarta, Kompas - Ketua DPP Partai Demokrat yang juga juru bicara Tim Kampanye Nasional Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, Andi Mallarangeng, merasa tak ada yang salah dengan pernyataannya ketika mendampingi calon wakil presiden Boediono berkampanye di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu lalu.

Pada kesempatan kampanye itu, Andi mengatakan, belum saatnya putra Sulawesi Selatan menjadi pemimpin negeri ini.

Pernyataan itu mengundang protes dan kemarahan sejumlah kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Ketika ditanyakan apakah ia akan meminta maaf untuk meredakan suasana, Jumat (3/7), Andi mengatakan, ”Saya tak melihat ada yang salah dalam pernyataan saya. Tak mungkin saya melecehkan atau mendiskriminasi orang sekampung sendiri.”

Andi menjelaskan, ia mengajak warga sedaerahnya di Sulawesi Selatan untuk merasa merdeka memilih berdasarkan apa yang dianggap terbaik. Andi mengatakan, mungkin saja putra-putri Sulawesi Selatan suatu saat menjadi presiden, tetapi untuk 2009-2014, ia yakin SBY-Boediono-lah yang terbaik.

”Sebenarnya saya ingin dalam orasi politik membuka pikiran warga sekampung saya, masyarakat di Sulawesi Selatan, untuk bisa memilih lepas dari batas-batas kesukuan, lepas dari batas-batas politik primordial,” ujarnya.

Harus minta maaf

Secara terpisah, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengingatkan, Susilo Bambang Yudhoyono mestinya memaksa Andi Mallarangeng untuk meminta maaf terkait pernyataannya yang menyinggung perasaan warga Bugis.

”Jika tidak dan malahan dibiarkan, pernyataan Andi sebagai tim kampanye pasangan Yudhoyono-Boediono itu bisa menjadi bumerang bagi tingkat keterpilihan Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2009 nanti, terutama di wilayah Sulawesi Selatan,” kata nya.

Dia menilai pernyataan Andi sebagai pernyataan yang tidak cerdas. Padahal, jelas bahwa konstitusi menjamin siapa pun warga negara bisa menjadi presiden, tanpa melihat faktor suku, agama, dan asal-usul.

”Kalau dibilang belum waktunya, lalu kapan?” kata Syamsuddin.

Pernyataan Andi betul-betul menunjukkan ketidakpekaan terhadap realitas bangsa yang heterogen. Pernyataan tersebut bisa jadi karena kepercayaan diri yang berlebihan. Padahal, pernyataan seperti itu bisa kontraproduktif terhadap penerimaan masyarakat terhadap pasangan Yudhoyono-Boediono.

”Permintaan maaf bisa menahan laju perpindahan pemilih,” ungkap Syamsuddin.

(DAY/DIK)

Share on Facebook
A A A
Ada 11 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
nene mallomo @ Minggu, 5 Juli 2009 | 02:15 WIB
Sorry Bos. Sebagai org Sulsel, pikiran kami sudah sejak lama lebih terbuka dari pikiran AM. Kami tdk butuh AM, kami sudah punya Nene Mallomo jauh sblm AM jd DR
Nene Mallomo @ Minggu, 5 Juli 2009 | 02:14 WIB
Sorry Bos. Sebagai org Sulsel, pikiran kami sudah sejak lama lebih terbuka dari pikiran AM. Kami tdk butuh AM, kami sudah punya Nene Mallomo jauh sblm AM jd DR
Hamdani @ Minggu, 5 Juli 2009 | 00:58 WIB
Pandai benar Bung Andi bersilat lidah. Kemaren mengatakan ini, sekarang menjelaskan itu. Hati2 lah berbicara dlm masa kampanye ini
umar @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 21:31 WIB
Pernyataan tersebut sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang intelektual. Ini tidak menghargai keberagaman. Setiap anak bangsa hrs diberi kesempatan yg sama.
Ujang Bentawol @ Sabtu, 4 Juli 2009 | 20:50 WIB
Atau jangan2 Andi Mallarangeng begitu justru pesanan JK.Biar suara SBY di Sulawesi beralih ke JK. Gimana? Bisa jadikan? Namanya juga politik..

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: