
Minggu, 5 Juli 2009 | 02:44 WIB
Gitaris terkemuka Indonesia, Balawan (36), sedang gundah gulana. Setelah tiga kali berturut-turut mengikuti International Guitar Festival, ia merasa musik Indonesia makin jauh ketinggalan. ”Sekarang terjadi penyeragaman selera oleh pasar. Ini membuat kita makin terasa mundur,” tutur Balawan, Jumat (3/7).
Saat mewakili Asia pada International Guitar Festival ke-20 di Jerman, akhir Juni lalu, pemusik bernama lengkap I Wayan Balawan ini melihat betapa musik begitu efektif menjadi medium pernyataan identitas. ”Hanya seorang diri dengan satu gitar, pemusik Brasil memperlihatkan pencarian mereka pada musik samba, yang Australia dengan musik-musik warna Aborigin,” tutur mantan personel trio gitar Trisum ini.
Kenyataan itulah yang membuatnya terus bertanya mengapa pada kita pencarian yang ”serius” soal identitas bangsa lewat musik itu tidak terjadi. Mungkin, kata Balawan, media kita tidak memberi kesempatan hidup pada keberagaman. ”Coba lihat semua stasiun televisi sekarang menayangkan hal yang sama, termasuk musik. Kalau berbeda dianggap jelek...,” cetusnya.
Balawan kemudian menantang para produser menggelar berbagai festival musik untuk meneguhkan identitas bangsa. ”Cuma itu caranya saya kira...,” tambahnya. Siapa berani?