
Minggu, 5 Juli 2009 | 03:14 WIB
1. Punyai hidup yang seasli mungkin. Meski itu mungkin buruk di mata orang. Sama seperti Mas Michael almarhum, di sela-sela laporan soal kematiannya, tayangan masa lalunya yang menurut orang kelam itu juga dipertontonkan. Saya sampai bingung, sebetulnya mau turut berdukacita, apa mau mencela yang sudah meninggal. Katanya ora ilok. Piye toh?
2. Kalau Anda ”dikuliahi” oleh mereka yang digolongkan manusia agar Anda memperbaiki hidup Anda, ingat, Anda diberi dua telinga dan dua lubangnya. Dimasukkan saja sebagai salah satu cara menjadi santun, kemudian dibuang saja setelah orangnya pergi.
Karena yang menguliahi juga tak beda dengan Anda. Mungkin mereka sudah baik di sisi Anda yang sedang buruk. Tetapi mereka sering lupa kalau ada sisi mereka yang tidak baik, yang sudah baik di diri Anda.
Nah, biasanya nih… mereka yang senangnya menguliahi Anda tak bisa dan atau tak mau melihat sisi yang sudah baik di diri Anda alias mereka tak bisa dan atau tak mau melihat sisi buruk di diri mereka sendiri. Makanya, kalau Anda berniat menguliahi orang, saya sarankan mbok hati-hati. Atau gampang saja. Stop menguliahi! Berbuat saja yang benar karena perbuatan itu lebih dahsyat dari mulut yang berkoar-koar.
3. Teman saya mengirimkan SMS begini, ”Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tak engkau ketahui?” Suara dari dalam berteriak lagi. ”Yaaa… iyalaaahh… emang bisa lihat isi dari mata sendiri?” Saya jawab saja. ”Cermin itu bukan cuma buat ibu tirinya Putri Salju, Jeuunng.”
4. Ingat, Anda punya nurani! Kalau saja Anda berteman akrab dengan nurani Anda sendiri, Anda itu tak perlu dikuliahi oleh siapa pun. Kecuali Anda sengaja membebalkannya atau pura-pura tak tahu kalau punya nurani dan pura-pura tak tahu arti dari nurani itu.
5. Saya bisa bertahan sampai hari ini karena saya berprinsip seperti ini. Manusia hanya punya kemampuan melihat yang di depan matanya, tetapi Tuhan itu mampu menembus dan melihat hati yang terdalam sekali pun. Jadi jangan terlalu memerhatikan mata manusia, itu tak penting. Hati-hati dengan mata Tuhan. Itu jauh lebih penting.