Rabu, 10 Februari 2010
Parodi
Mati

Minggu, 5 Juli 2009 | 03:14 WIB

SAMUEL MULIA

Michael Jackson mengakhiri hidupnya. Salah. Tuhan menghentikannya untuk hidup. Ia tak bisa menghentikan. Salah. Ia bisa menghentikan dengan berbagai cara kalau ia mau. Saya tak menangis, tetapi ada air yang menggenang di kedua mata. Padahal, saat ayah saya diberhentikan Tuhan untuk hidup, air menggenang di mata saja tak ada, apalagi meraung-raung seperti kakak saya. Saya sampai bingung, apa saya ini tak mencintai ayah, tapi lebih mencintai penyanyi pop legendaris itu yang tak saya ”kenal”?

Saya menyaksikan wawancara Larry King dengan beberapa manusia kondang macam Donna Summer, Randy Jackson, dan lain sebagainya tentang kesan mereka atas tokoh musik pop itu. Tokoh tarik suara yang saya kagumi, yang kalau saya beri tahu kepada teman-teman saya, maka komentarnya bakal seperti ini, ”Duuuhhhh… dah tuwir yaaaa….” Tuwir itu artinya tua, atau, ”Huh?... Michael Jackson? Hare geneee…?”

Mari muna(fik)

Komentar dari mulut kondang itu sama semuanya. Maksud saya benang merahnya. Kalau sosok itu luar biasa, sangat bertalenta, baik sekali, orang yang menyenangkan de el el dan de el el. Pokoknya semua baik, baik dan baik. Tak ada satu yang buruk. Tampaknya ora ilok berlaku juga di luar negeri, haram berbicara yang jelek untuk mereka yang sudah meninggal, siapa pun itu. Meski mungkin, yang meninggal juga punya sisi yang gitu deh….

Saya bukan mau menyindir dan menghakimi, tetapi mulut bisa lain dengan yang di dalam. Hanya saja di menit-menit seperti itu, kebencian, kesakitan hati, penghinaan sebaiknya diredam. Meski meredam yang di dalam tak bisa terjadi. Dan kelihatan ”muna” itu tak apalah untuk beberapa menit. Nobody is perfect, bukan?

Maka setelah itu saya membayangkan kalau saya yang mati. Apakah benar komentar orang itu akan begitu baik dan mulianya. La wong sekarang saja saya tahu dan banyak orang tahu, saya itu tak disukai banyak orang, musuhnya banyak, yang tak setuju dengan saya juga banyak. Akankah orang yang membenci itu kalau ditanya saat saya mati akan mengatakan kalau saya ini baik dan rendah hati dan tidak sombong?

Pertanyaan itu saya ajukan kepada diri saya sendiri, kalau saya yang didatangi untuk ditanyai, apakah saya juga berani untuk tidak menjadi ”muna”? Saya bisa langsung memberi jawabannya. Tidak, saya tidak berani untuk tidak menjadi ”muna”. ”Muna” itu kadang bisa menolong imej.

Saya takut sekali kalau mereka yang membenci saya mengatai saya seperti nama-nama makhluk hidup di kebun binatang dan melemparkan kotoran ke peti mati saya. Saya takut kalau tak ada yang datang di hari kematian itu karena begitu banyak yang pernah terluka selama saya hidup. Lebih sedih lagi, mereka memilih membuat pesta untuk merayakan kematian itu. Temanya Go To Hell, Sam.

Saya ingin mereka berkata jujur. Meski tak ada gunanya karena saya tak bisa mendengarkannya. Saya katakan sebaiknya saat saya mati saja karena kalau sekarang, saya tak sanggup mendengar komentar yang jujur itu. Saya takut tersinggung. Saya ini manusia yang sok tahu. ”Kritik aja gak apa-apa.” Begitu sering saya katakan. Tetapi Anda tak tahu betapa tersinggung dan tak sukanya saya kalau dikritik. Itu menyakitkan.

Jangan muna(fik)

Maka saya takut dengan manusia berpredikat kritikus. Kalau Anda tak suka sama saya, jangan dikritik. Saya minta tolong, pelis, jangan. Karena setelah mendengar kritik itu, biasanya saya memikirkan terus dan kadang sampai tak bisa tidur.

Seperti saat seseorang mengirimkan pesan di inbox facebook saya yang meragukan kesejatian saya. Kalimat awalnya menusuk dan dipakai supaya saya memberi perhatian atas kiriman surat itu. Saya memang memberi perhatian, dan ia senang karenanya, tetapi mungkin tak disadarinya ia tertawa, saya yang tersakiti.

Yang menyesakkan dada juga karena ia mempertanyakan juga, apakah sebagai manusia, saya sudah menjadi pribadi seperti yang Tuhan inginkan? Saya dihakimi oleh orang yang hanya mengenal saya lewat kalimat di status face- book yang tampaknya mengusik hatinya. Saya jadi bingung, kalau orang yang hidup seperti yang Tuhan inginkan itu, maksudnya mau menjadi manusia yang lebih baik atau menjadi hakim? Apakah nasihat itu adalah bentuk penghakiman dalam bungkus yang begitu mulianya? Nurani saya berteriak kencang. ”Ha-ha- ha… emang elo pernah kenal manusia-manusia yang elo omongin itu? Yang elo hakimi itu? Neng, jadi baik dan jadi hakim itu cuma setipis kulit salak.”

Kritik membangun? Saya tak percaya itu. Kritik itu negatif sifatnya dan belum lagi mengutarakannya dengan cara yang membuat jantung deg-degan. Sementara membangun itu positif, bagaimana keduanya bisa dijadikan satu? Bukankah sama saja sia-sianya menyatukan siang dan malam?

Mungkin karena saya takut dikritik, penjelasan di atas itu hanya bisa-bisanya saya saja. Saya takut karena membangun itu kemungkinan juga berarti menjatuhkan dengan cara mulia. Itu pengalaman saya. Saya pernah mengkritik yang tampaknya membangun, tetapi di baliknya hanya punya niat satu, menjatuhkan.

Maka, kalau saya mati, jujurlah. Kalau memang Anda tak suka dengan saya, meski di setiap manusia selalu ada sisi baiknya. Tetapi, kalau sisi baiknya itu cuma seimprit sehingga saya dikenal sebagai yang tidak baik karena yang tidak baik itu sangat dominan, bicaralah seperti apa adanya. Jangan takut, toh saya sudah mati. Karena kalau tidak, Anda makin menumpuk dosa. Ingat, menjadi ”muna” itu dosa meski membantu imej untuk sesaat.

SAMUEL MULIA Penulis Mode dan Gaya Hidup

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: