london, sabtu - Venus dan Serena Williams, kakak beradik yang tampil di final tunggal putri Wimbledon, tinggal satu rumah di Palm Beach, Florida, Amerika Serikat. Mereka juga berbagi tempat di rumah yang disewa dekat All England Club, London. Namun, saat berhadapan di lapangan, tak ada rasa belas kasihan di antara mereka.
Di final tahun ini, Sabtu (4/7), Serena menggagalkan ambisi sang kakak untuk memperoleh hattrick—setelah dua tahun sebelumnya berturut-turut selalu juara—sekaligus untuk menyamai prestasi Steffi Graf, 1991-1993. Serena mengalahkan Venus, 7-6 (3), 6-2, hanya dalam waktu 1 jam 27 menit.
Dengan gelar juara ini, Serena membalas kekalahan yang dia alami dari Venus di final tahun lalu. Serena pun kini mengumpulkan 11 gelar grand slam, lengkap dari empat turnamen.
”Menakjubkan bisa kembali menjadi juara di sini. Saya sem- pat merasa tidak akan pernah bisa mendapat trofi ini karena Venus yang selalu juara,” kata Serena sambil memeluk trofi juara yang disaksikan sang kakak. Di deretan bangku penonton, keluarga, termasuk sang ibu, Oracene Price, selalu menyaksikan pertandingan pu- tri-putrinya. Hanya ayah mereka, Richard Williams, yang tidak terlihat. Richard memiliki kebiasaan tidak pernah menyaksikan kedua putrinya saat berhadapan.
”Malam ini Serena bermain dengan penampilan terbaiknya. Namun saya akan kembali tahun depan. Saya juga masih memiliki kesempatan di ganda,” kata Venus yang bersama Serena tampil di final ganda putri. Pada pertandingan final Minggu dini hari WIB, Venus/Serena berebut gelar juara dengan Samantha Stosur/ Rennae Stubbs.
Meski final kali ini tak seketat pertandingan keduanya di final tahun lalu, penggemar tenis masih bisa menyaksikan persaingan Venus dan Serena yang memperlihatkan adu pukulan bertenaga. Setiap kali kedua pemain ini berhadapan, adu servis dan groundstroke keras, yang jarang terjadi pada pertandingan tunggal putri lainnya, selalu menjadi warna.
Setelah adu servis terjadi pada awal permainan, reli di antara kedua pemain mulai terjadi pada game ketujuh set pertama. Venus dan Serena saling mengarahkan adu pukulan silang dengan keras. Teriakan dari kedua pemain saat memukul mulai terdengar, mengubah suasana hening pada game-game sebelumnya.
Pada game kesembilan, Venus mendapat winner melalui permainan yang mengundang tepuk tangan penonton. Dia menempatkan bola di tengah lapangan setelah membuat Serena mengejar bola menjauhi lapangan dengan pukulan silang yang keras.
Namun, permainan ketat di antara keduanya mulai berubah saat memasuki tiebreak. Serena langsung unggul, 6-2 ketika Venus kehilangan poin pada dua kali servisnya.
Servis, yang biasanya menjadi senjata Venus, kali ini justru menjadi kelemahannya. Tiga kali dia melakukan double fault, termasuk saat Serena mematahkan servisnya di game keenam set kedua. Break point inilah yang membuat perolehan angka Serena menjauhi Venus.
Sebaliknya, Serena justru mendapat banyak poin dari ser- vis yang kali ini lebih akurat dari Venus. Dia membuat 25 winner, 12 di antaranya dari ace.
Akan tetapi, poin kemenangan unggulan kedua ini tidak didapat dengan mudah. Dua kali championship point-nya di game kedelapan digagalkan Venus karena Serena gagal mengembalikan ser- vis. Serena baru memastikan kemenangan pada championship point ketiga saat bola dari Venus tidak bisa melewati net.
Pertemuan Venus dan Serena di final Wimbledon ini menjadi yang keempat kali setelah 2002, 2003, dan 2008. Serena menang pada dua pertemuan pertama sebelum akhirnya dibalas Venus tahun lalu.
Namun, secara keseluruhan, gelar juara Venus di Wimbledon lebih banyak dibandingkan dengan Serena. Sebelum final yang berlangsung kemarin, Venus telah mengumpulkan lima gelar, sedangkan Serena hanya dua.
Hadirnya Williams bersaudara di final kali ini menjadi yang kesembilan kali dalam 10 tahun terakhir. Satu-satunya tahun di mana salah satu Williams tidak hadir di final terjadi tahun 2006 saat Amelie Mauresmo mengalahkan Justine Henin. (ap/afp/iya)