
Senin, 6 Juli 2009 | 03:51 WIB
Karena kelelahan bekerja di bawah terik matahari yang menyengat, Gabriel (41) bersama seorang rekannya melepas lelah sejenak. Sambil duduk, bagian punggung keduanya disandarkan pada dinding galian kanal atau parit sedalam lebih kurang 1 meter. Namun, belum 10 menit berlalu, keduanya dikejutkan oleh suara hardikan dari punggung kanal.
Ternyata suara hardikan berasal dari ”mandor” asing di punggung kanal. Mandor asal China hanya meneriakkan ”ha! ha...! ha...!” Dengan posisi tubuh agak membungkuk, ia menyambung pesannya dengan mengayun-ayunkan kedua lengannya, dan ayunan kemudian diarahkan ke bahu.
Gabriel dan rekannya yang asal Manggarai dan sudah sekitar empat bulan menjadi buruh di kawasan tambang itu langsung memahami pesan di balik hardikan dan bahasa tubuh mandornya. Isi pesannya adalah agar keduanya segera melanjutkan pekerjaan, yakni mengangkut keluar bongkahan tanah dari lanjutan penggalian kanal yang menggunakan alat berat.
Batugosok yang lokasinya sekitar 10 kilometer sebelah utara Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat di ujung barat Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, adalah lokasi penambangan emas yang mulai digarap sejak akhir tahun lalu.
Sesuai izin kuasa pertambangan dari Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fidelis Pranda, 7 Juli 2008, penambangan itu dilakukan PT Grand Nusantara, perusahaan swasta nasional dengan dukungan dana, teknisi, dan ahli geologi dari China.
Komunikasi yang hanya mengandalkan ”bahasa tarzan” atau bahasa tubuh juga terlihat dari kesibukan dua buruh lain bersama teknisi asal China ketika mengoperasikan mesin pengeboran di seputar kaki
Buruh pekerja tidak memahami bahasa China atau bahasa Inggris, sebaliknya teknisi asal China pun tidak bisa berbahasa penduduk lokal.
Wilfridus Fidelis Pranda menyebutkan aktivitas tambang di Batugosok hingga kini masih pada tahap eksplorasi. Yang dilakukan masih sebatas mendeteksi kandungan emas dalam perut bumi kawasan itu sehingga belum memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan atau amdal. ”Amdal itu baru dibutuhkan sebagai persyaratan memulai tahapan eksploitasi,” ujarnya.
Namun, penggusuran areal di lapangan sudah sangat meluas. Gusuran itu untuk jaringan jalan, parit, kemah, dan juga lokasi pembangunan menara pengeboran atau
Labuan Bajo dan juga Batugosok berlokasi di sekitar garis pantai di ujung barat Pulau Flores. Posisinya langsung menghadap Taman Nasional Komodo (TNK) yang telah menjadi warisan alam dunia dan sedang dalam seleksi ketat menuju Tujuh Keajaiban Dunia.
TNK dengan kawasan seluas 173.300 hektar yang meliputi sejumlah pulau, seperti Komodo, Rinca, Padar, dan sejumlah pulau lainnya serta kawasan lautnya, sejak lama terkenal secara internasional karena sejumlah keunikannya.
Pulau Komodo dan Rinca dikenal menjadi habitat binatang langka komodo yang dikenal sebagai ”The Real Dragon”. Binatang purba ini populasinya kini sekitar 2.500 ekor, yakni sekitar 1.300 ekor di Pulau Komodo dan 1.200 ekor lainnya di Rinca.
Di kedua pulau itu juga hidup secara liar rusa timor dengan populasi sekitar 40.000 ekor. Keberadaan rusa timor itu sekaligus merupakan pakan utama yang menyambung siklus hidup komodo.
Ahli perencanaan wilayah dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mengatakan, kegiatan pertambangan memang bukan di Pulau Komodo, tetapi tetap berada di kawasan konservasi. ”Dampaknya pasti nanti akan sampai ke wilayah inti di Pulau Komodo. Dampak itu bisa berupa limbah pertambangan maupun banyaknya manusia yang datang karena pertambangan emas pasti memiliki daya tarik bagi masyarakat luar,” ujarnya.
Padahal, komodo bisa terjaga sejak zaman purba hingga sekarang antara lain karena lingkungan sekitar relatif tidak berubah dan terpelihara dengan baik.
Ketua Asita Manggarai Barat Theodorus Hamun mencemaskan gusuran areal tambang Batugosok pada musim hujan nanti akan menjadi sumber banjir yang menghanyutkan lumpur ke laut dalam kawasan TNK. ”Laut yang keruh jelas akan mengganggu rekreasi
Mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Emil Salim juga menyesalkan aktivitas pertambangan di sekitar Pulau Komodo. ”Itu artinya pertambangan hanya melihat aspek ekonomi, tidak melihat aspek lingkungan hidup,” ujarnya.
Namun, teriakan banyak kalangan rupanya dianggap angin lalu. Aktivitas rencana pertambangan terus berjalan. ”The Real Dragon” juga kini hidupnya semakin terancam.(THY)