Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/RIZA FATHONI
Petani menabur pupuk urea di areal persawahan Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Rabu (1/7). Keberadaan Bendungan Karet di kawasan ini memecahkan persoalan pasokan air irigasi untuk sejumlah areal persawahan di kawasan tersebut, terutama selama musim kemarau.
KETAHANAN PANGAN
Swasembada Beras dari Peluh Petani Santing

Selasa, 7 Juli 2009 | 04:02 WIB

Oleh Hermas E Prabowo

Suara kodok dan desau angin pesisir mengiringi tenggelamnya matahari di Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Namun, kian gelapnya hari tidak juga menghentikan Tasdam (59) menebar pupuk di sawah garapannya.

Baru pertama saya bisa menanam padi di sini dua kali setahun,” ungkap Tasdam, Rabu (1/7), dalam bahasa Sunda pesisir di sela-sela pemupukan tanaman padinya yang berumur sebulan.

Wajah keriput petani penggarap ini penuh sukacita. Matanya sesekali menatap air macak-macak yang menggenangi tanaman padinya. Kondisi yang selama ini jauh dari mimpi sekalipun. Tersirat harapan besar pada perubahan nasib menuju perbaikan hidup.

Maklum sejak 10 tahun belakangan ini, sejak pasokan air irigasi dari Bendungan Jatiluhur tak lagi mencukupi, usaha tani padi musim kedua Tasdam selalu gagal. Ayah satu anak dan satu cucu ini pun memutuskan berhenti menanam padi pada musim tanam kedua.

Iklim kian tak bersahabat lagi. Curah hujan sulit diprediksi. Pola tanam kacau. Kemarau datang lebih awal. Intrusi air laut menyelinap pada malam hari.

Kini segala cerita duka itu sebentar lagi berlalu. Sejak ”beroperasinya” Bendungan Karet di hilir Sungai Cipanas pada Januari 2009, ribuan lahan sawah petani terselamatkan. Sawah mereka kini mendapat pasokan air tawar yang teratur, termasuk sawah garapan Tasdam.

”Tanggul” buatan ini mampu menampung dan meninggikan elevasi air tawar di Sungai Cipanas untuk mengisi saluran-saluran irigasi. Pada saat yang sama tanggul juga bisa menahan masuknya air laut ke saluran irigasi saat pasang tiba.

Meski untuk itu, mereka kadang tetap harus memompa air tawar dari saluran irigasi ke sawah karena letak sawah di Desa Santing saat habis musim hujan lebih tinggi dari permukaan air.

Simalakama

Hamparan sawah di Desa Santing berada di sisi Sungai Cipanas. Pada saat puncak musim hujan yang biasanya akhir Januari dan awal Februari, sawah selalu kebanjiran. Padahal, bila mengacu pola tanam normal, pada saat itu tanaman padi umumnya sedang masuk tahap pengisian bulir (bunting), ada juga yang menjelang panen.

Akibatnya, tanaman padi rusak. Produktivitas dan kualitas beras jatuh. Kalau banjir datang ketika padi bunting, dipastikan bulir padi banyak yang hampa. Gagal panen pun membayang.

Agar petani bisa tetap panen, mereka pun mengatur waktu tanam. Mereka harus berhitung dengan cermat agar ketika banjir datang nanti, tanaman padi mereka berada pada fase sebelum bunting atau sedang mengalami masa pertumbuhan vegetatif yang usianya diupayakan sekitar sebulan setelah tanam.

Dalam kondisi ini, tanaman padi sudah cukup kuat menahan rendaman banjir. Tinggi tanaman sekitar 60 sentimeter. Pilihan lainnya mengupayakan agar saat banjir tiba tanaman padi memasuki masa panen.

Persoalan selanjutnya memang tidak sesederhana itu mengingat awal musim hujan sulit diprediksi. Tak jarang hujan datang begitu singkat dengan curah hujan sangat tinggi. Kalau begini, jangan harap bisa menanam lebih awal untuk memanen sebelum banjir tiba.

Upaya yang paling mungkin dilakukan petani di Desa Santing adalah memundurkan jadwal musim tanam padi pada musim hujan. Misalnya saat hujan tiba bulan Oktober, petani tidak langsung melakukan pesemaian. Waktu pesemaian dimundurkan hingga akhir November atau awal Desember sehingga tanaman bisa selamat.

Muncul masalah baru

Satu masalah teratasi, muncul masalah lainnya. Memundurkan waktu tanam padi pertama pada musim hujan akan berdampak mundurnya musim tanam kedua, yang biasanya dilakukan akhir April atau awal Mei.

Memundurkan musim tanam juga berisiko kekeringan karena biasanya hujan berhenti justru ketika tanaman padi sedang banyak membutuhkan air untuk memenuhi pertumbuhan vegetatif dan generatifnya.

Solusinya selama ini hanya bisa dilakukan dengan cara menyuplai air dari sumur pantek. Namun, malangnya, tidak semua sumur pantek airnya tawar. Intrusi air laut menyebabkan air sumur asin. Bila dipaksakan, risikonya tanaman padi mati.

Petani yang air sumur panteknya tawar masih bisa memenuhi kebutuhan air bagi tanaman padinya. Air sumur dipompa beberapa jam, setelah lima- enam hari sawah basah. Kondisi itu harus terus diulang selang lima hari berikutnya. Akibatnya, biaya usaha tani padi membengkak dua kali lipat dan pendapatan bersih petani turun. Tak jarang hanya impas.

Pengalaman petani Desa Santing hampir sama juga dialami oleh petani Desa Kertajadi di Kecamatan Losarang, serta di Desa Karang Anyar, Parean, Bulak, Hilir, dan Anjun di Kecamatan Kandang Haur.

Secara umum, sawah di wilayah Indramayu berada di ujung sistem irigasi dan di mulut sungai. Perairan darat, seperti dalam bentuk air sumur pantek, memiliki tingkat keasinan tinggi. Apalagi kemiringan lahan hanya 0-2 persen.

Karena itu, cerita duka kerap muncul dari petani di sana. Peluh petani tidak selalu terbayar dengan panen. Bertahun-tahun petani dibiarkan berjudi dengan alam yang kian tak bersahabat. Kadang mereka menang karena pasokan air tawar cukup, tetapi lebih sering terkapar bangkrut.

Padahal, jutaan petani seperti Tasdam itu turut memberi kita makan. Mereka menyumbang produksi padi 2009 hingga 62,5 juta ton gabah kering giling dan mencapai swasembada beras. Ketahanan pangan bangsa terpelihara. Harga pangan terjangkau dan situasi politik stabil.

Mereka berpeluh, tanpa minta imbalan. Karena itu, tidak seharusnya mereka ditinggalkan jika kita ingin swasembada beras bisa berkelanjutan.

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: