
Rabu, 8 Juli 2009 | 04:20 WIB
Kupang, Kompas
Teror diduga terkait pemberitaan tambang emas di kawasan Batugosok, sekitar 10 kilometer utara Labuan Bajo. Selasa (7/7) siang Kornelis Rahalaka bersama aktivis Geram (Gerakan Masyarakat Antitambang) mengadukan kasus teror terhadap dirinya ke Kepala Polres Manggarai Barat di Labuan Bajo. Para preman secara terang-terangan mencari wartawan penulis berita tentang tambang yang dinilai merugikan kebijakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat. Rumah Rahalaka, seorang wartawan di Labuan Bajo, menjadi sasaran.
Rahalaka adalah direktur sekaligus wartawan majalah bulanan Diaspora di Labuan Bajo. Ketika dihubungi kemarin ia mengaku rumahnya di Labuan Bajo, Senin malam, ”didatangi” belasan preman. Kebetulan ia sedang tidak ada di rumah.
”Mereka menggedor-gedor pintu rumah, melempari atap dengan batu, dan berteriak memanggil saya. Mereka mengancam saya kalau terus menulis berita soal tambang emas Batugosok,” kata Rahalaka. Mereka mengancam melalui SMS, ”Hati-hati dengan pemberitaanmu. Apakah Anda penguasa di daerah ini sehingga berani menentang kebijakan pemerintah daerah?”
Kepala Polda NTT Brigjen Bambang Suedi menegaskan, tak dibenarkan orang bertindak di luar hukum. Polisi tetap mencari pelaku teror itu. Ia menegaskan, jika ada pihak tak puas atas suatu pemberitaan, silakan mengajukan hak jawab dan tidak meneror pekerja pers. ”Memang bekerja di bidang pers ada risiko. Namun, pers dilindungi undang-undang sehingga siapa pun harus menaati peraturan itu,” katanya.
Forum Komunikasi Extra Parlemen (Forkorexpa) NTT mendesak DPRD Manggarai Barat memanggil Bupati Fidelis Pranda memberi penjelasan terkait izin penambangan emas tersebut. Forum juga mendesak Bupati Pranda menghentikan eksplorasinya.
Ketua Presidium Forkorexpa NTT Maksimus Lalongkoe juga mendesak DPRD Manggarai Barat membentuk panitia khusus menyelidiki sumber dana perjalanan dinas Bupati Pranda dan rombongan—total 20 orang—ke China akhir 2008. Diduga biayanya dari PT Grand Nusantara.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar meminta Pemkab Manggarai Barat menghentikan penambangan emas di Batugosok. Alasannya, penambangan itu, selain akan mengganggu keunikan Taman Nasional Komodo, juga bisa membuyarkan upaya taman nasional itu menuju tujuh keajaiban dunia (7 wonders of nature).
Sapta Nirwandar yang sedang berada di Bali, melalui telepon selulernya kepada Kompas, menyampaikan, ”Kalau itu sukses, dampaknya akan sangat dahsyat bagi perekonomian masyarakat karena TN Komodo pasti akan dikunjungi banyak wisatawan dari seluruh pelosok dunia. Namun, usaha itu akan sia-sia dan buyar jika aktivitas tambang di sekitarnya tak dihentikan,” ujarnya.
”Lokasi Batugosok memang tidak termasuk kawasan TN Komodo. Namun, posisinya sebagai kawasan penyangga. Kalau kawasan penyangganya rusak, TN Komodo sebagai kawasan yang disangga pasti rusak. Karena itu, sangat diharapkan, penambangan di Batugosok itu dihentikan,” kata Sapta.