Rabu, 10 Februari 2010
Sajak-sajak Raudal Tanjung Banua

Minggu, 12 Juli 2009 | 02:54 WIB

Quan Am Tu 

Di pintu Quan Am Tu Pulau Galang

Tua dan sepi tidak menenggang

Serombongan peziarah bersideku.

Seorang tua gemetar

dan berkisah kepadaku.

Berhari-hari lalu

Kusalin ia kembali

jadi lilin jadi api jadi lapar

yang terus kunyalakan

untuk sampai pada sebagian kecil

inti perih puisi ini—lilin kecil

kesaksian

di bumi:

 

Di pintu Quan Am Tu, seperti Tuan lihat, selalu

 

gemetar tubuhku. Terbayang semenanjung jauh

kilatan-kilatan pedang dan bunga api malam-malam

Terkenang bintang-bintang merah nyala

—bukan, merah dadu, mempertaruhkan kelam

untung-malang manusiaku

Terbayang, kapal-kapal ikan, kapal-kapal kayu tua

oleng di mata pusaran: arus topan, badai yang kejam

dan goncang nafas tuhan

 

Ke mana kami hendak menuju? Lautan luas

tak bertara. Daratan tak dikenal

bagai bintik hitam di luka telapak tangan

mengelupas dan hilang,

seperih harapan yang direnggutkan

seperti garam dibasuh air garam

 

Di manakah pintu harapan sebuah pulau? Dermaga,

pantai yang landai, atau pengap-hampa

ruang periksa? Kami ingin berlabuh

supaya tenang goncangan nafas tuhan

—reda tangis Dewi Quan Im

di dada kami yang redam.

Tapi pelabuhan dan pantai bukan lagi pintu

sejak laut dan gelombang api bersekutu

meminta kami pergi

dari tepi semenanjung…

 

sejak itu, api dalam diri mesti dibangkitkan

jika perlu sehalus sekaligus setegar nyanyian topan

di lapuk buritan:

 

Ya, ya, secerlang mata ikan dalam keranjang

seredup mata-mata ikan di air dangkal

mati lebih baik kami dapatkan

di air dalam, di tangkapan perompak

 

atau jaring nelayan Siam

Jangan di tanah sendiri

darah tak lagi suci

maka kami pun berkorban

demi pelayaran tak pasti ini:

sepasang kakek-nenek yang sakit, mati

berpeluk hilang ranjang. Dengan keharuan yang jinak

kami lempar mereka ke laut

tubuh mereka terapung hilang dayung

lepas dari kekangan tangan dunia

yang mengepung arah lempang ke sorga.

Lima orang anak gadis kami

diseret awak kapal patroli

dua jatuh ke tangan ketua perompak kidal

dan sambil tertawa melengking

ia bilang akan dikawini di pulau karang tersembunyi.

Seorang putra kami luka pada lambung

—kanan atau kiri, aku tak ingat lagi;

tapi apa bedanya, Tuan? Ia sudah melawan

para perompak, lalu menghadapi awak kapal patroli

yang ternyata menyita lebih banyak

dari sisi kami. Sebagian putra-putri kami, o, kefanaan,

menderita kejang-kejang karena lapar

dan infeksi luka pertempuran,

bertelentangan di geladak

menunggu ajal

Kami sendiri, sembilan keluarga

Empat puluh delapan orang—dari enam puluh enam

yang tersisa—sama menunggu pedang langit

memutus ikatan kami dengan dunia

Tapi api dalam diri harus tetap dibangkitkan

nyanyian mencari pintu harapan tak boleh majal

oleh kecut kematian:

 

“Para komandan, perompak dan tukang jagal

biarkan kami terus ke selatan

biar berlumut atau pecah perahu

mengeras batu kapal kayu tunggangan

biarkan kami terdampar

di pintu harapan sebuah pulau

tak perlu harpun atau terompet lokan ditiupkan!”

 

Akhirnya memang kami terdampar

Di pulau sebintik hitam di tengah luka telapak tangan

tapi itu yang terbaik kami dapatkan

Dari Teluk Tonkin dan Teluk Siam

akhirnya di Natuna Laut Cina Selatan

kami temui jalan; mengeram di rawa-rawa sagu,

masuk hutan bakau di celah sempit sulur akar,

dan tinggal di kebun cengkeh

di pedalaman; kapal-kapal karam dan terbakar

sudah kami lepaskan. Saudara-saudara lapar,

mati, dan bunuh diri pelan-pelan

sudah kami upacarai

sekadar menghibur diri

bahwa di tanah pijakan—seperti mimpi setengah khayalan—

kami diterima selayaknya keluarga sendiri

Kami bertukar tempe, tahu, kacang kedele,

dan sesekali emas batangan lama tersimpan

dengan beras dan sagu

Yang lain ikut ke ladang

memetik cengkeh

dan membuka huma baru

Ada yang mengajar, menjadi guru

di sekolah berdinding papan dan kulit sagu

Mendirikan bangunan, membuka jalan

Satu dua anak kami dan pemuda kampung

terlibat percintaan, oh, Dewi Quan Im

kami merasakan engkau mulai tersenyum

meski dingin, meski cengkeh dan sagu-sagu pun

berbunga di Natuna

Tapi di sini tetap lebih baik

karena tak ada perang dan pengusiran

meski bukan tak ada penderitaan

kenangan akan kampung halaman

dan panjang perjalanan

bagaimana mungkin dapat hilang?

 

Dan entah pada bulan atau tahun keberapa

Datang perintah bahwa kami harus pindah

ke mari. Kami pun berpisah dengan saudara-saudara kami

di Natuna yang kami cintai. Tak apa. Dengan sisa kasihan ombak

kami bersorak,”Pulau Galang, kami datang, kami datang

dan kami tak akan pulang!”

 

Di sinilah, di pulau sunyi ini, kami tinggal dalam kampung

berupa kamp. Para tentara dan pengawal

memisahkan kami dari kampung-kampung di seberang

O, amis darah tercium juga sampai ke mari

ketika orang berbicara soal garis dan batas,

asal-usul dan negara

Kami ingin di sini, tapi ternyata mesti pergi

selamanya.

 

Demikianlah akhirnya, kami diminta kembali pulang

ke kampung halaman kami di tepi semenanjung

Itu bahasa paling layak ketimbang meminta kami pergi

tanpa alasan. Tapi, apakah artinya kampung halaman

jika seseorang merasa tenang

di tengah tanah dan air yang bermil-mil ia jelang?

Beratus kami menolak,

beratus kami bilang kata tidak

bahkan dengan membakar sisa-sisa kapal kenangan

yang lain, betapa sedih, membakar dirinya sendiri

Sebagian memutuskan pergi

jadi burung-burung migrasi

mencari daratan baru di bintik luka suratan telapak tangan

Dan semakin jauh kami, semakin kekal kenangan atas pulau-pulau

tak pernah lampau ini

Maka ke sini jua kami ziarah, menghadap Dewi Kasih Sayang

Di pintu Quan Am Tu

Kami pulang dan tersedu

Terimalah doa kami, Dewi,

Terimalah kesaksian kami, Tuan,

sebagai manusia sesama pemilik hidup

di bumi yang satu.

 

Selesai bercerita ia ulurkan tangannya,

Aku terkesiap dan menjabat hangat

Tapi sebentar kami sudah saling melepaskan

“Nguyen, di bumi yang satu,

kita bertemu dan berpisah

di Quan Am Tu

kuziarahi jejak sunyi

derita bangsamu

di tengah kandil gemerlap

cahaya dan laku bangsaku...”

 

/2008-2009

 

 

Candi Tikus

terkubur ratusan tahun

di bawah air dan lumpur

ia muncul

seperti gadis habis dimandikan

fajar yang menyelinap

sampai ke tiap lekuk

tak dikenal.

 

ia tak bangkit dari keruntuhan

karena tak pernah runtuh

bersemayam di bawah tanah

ia sesungguhnya kepundan

di tengah kaldera

ia menampung segala makhluk melata

yang memanjat dan mengerat

tubuhnya; dan ia tabah

seperti pertapa

menunggu datangnya

cahaya pertama.

 

/Trowulan, 2009

 

Batang Nibung

bermiang bukan jelatang

berduri bukannya rotan

lurus-ramping serupa pinang

buah tiada diharap orang

mekar pelepah bukan zaitun

daun bukan tatahan lontar

hidup di hutan dan belukar

sendiri meninggi

dalam keheningan—penunjuk arah

 

bagi perimba

membuka jalan

menebangnya.

 

/Rumahlebah Yogyakarta, 2009

 

Raudal Tanjung Banua lahir di Lansano, Kenagarian Taratak, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku puisinya adalah Gugusan Mata Ibu (2005) dan Api Bawah Tanah (dalam proses terbit).

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: