
Minggu, 12 Juli 2009 | 03:45 WIB
Accra, Sabtu -
Tak hanya tembakan salvo tanda penghormatan bagi sang presiden, yang anak imigran dari Kenya, yang menyambutnya. tetapi sambutan barisan tentara Ghana berkostum gaya kolonial, jaket merah, celana biru lengkap dengan topinya, juga mewarnai kunjungan Obama.
Ada juga seorang perempuan usia lanjut, Ama Agyeman (80), yang menyempatkan diri menunggui sang Presiden AS lewat di pinggiran jalan dekat istana kepresidenan di Accra, duduk di kursi rodanya.
”Saya ingin melihat Presiden AS kulit hitam pertama sebelum saya mati,” ujar Agyeman.
Semua media di Ghana meluapkan liputannya dengan berbagai cara. Tak hanya artikel, iklan, ataupun berbagai bentuk tulisan, bahkan juga puisi.
”Ghana merupakan simbol sebuah Afrika yang berbeda dari citra lama sebagai benua miskin yang lekat dengan perang, kesengsaraan, dan korupsi,” ungkap Presiden Obama, ketika bertemu mitranya, Presiden Ghana John Atta Mills di Accra.
Itu pula sebabnya dalam kunjungannya ke Afrika kali ini Obama justru memilih ke Ghana dan bukan ke Kenya— negeri asal ayahnya.
Atta Mills terpilih sebagai
Pergantian kekuasaan secara damai dimulai pada tahun
Menurut Obama, Ghana adalah sebuah model sukses bagi semua negara di Benua Afrika. Ia yakin ekonomi negeri ini dikelola dengan baik.
Reformasi ekonomi di Ghana, terutama dalam memajukan negeri ini menjadi negeri penghasil utama cocoa dan produk emas, membuat pertumbuhan ekonomi Ghana berkembang pesat. Tahun depan, Ghana bahkan akan menjadi penghasil minyak pula.
Ketika berbicara di depan parlemen Ghana pada hari yang sama, Presiden Obama juga berharap agar gaya kepemimpinan tirani dan korup segera diakhiri di Afrika.
”Tak ada negeri yang menjadi kaya jika pemimpin-pemimpinnya mengeksploitasi ekonomi untuk memperkaya diri sendiri,” kata Obama.
”Tak ada kalangan bisnis yang mau melakukan investasi di tempat di mana pemerintahnya memangkas 20 persen pucuknya, atau pimpinan otoritas pelabuhan yang korup. Tak ada orang yang ingin hidup di sebuah masyarakat yang aturan hukumnya memberi jalan bagi kebrutalan dan suap,” kata sang presiden pula.
”Itu bukanlah demokrasi, tetapi tirani. Sudah saatnya gaya pemerintahan seperti itu diakhiri,” kata Presiden Obama.
Menurut Obama, Afrika tidak butuh ”orang kuat”, tetapi butuh ”institusi yang kuat”. Ini adalah sebuah momentum baru
Dalam kunjungannya yang hanya 21 jam di Afrika, Presiden Obama juga menyempatkan singgah di sebuah tempat bersejarah bagi imigran Afrika
Tempat ini adalah sebuah benteng di pinggiran pantai yang pernah menjadi pusat perdagangan budak Afrika oleh penjajah Inggris pada abad ke-17. Salah satu tempat awal harapan bagi kaum kulit hitam pada masa lalu sebelum mencari nasib lebih baik di Amerika.