
Jumat, 17 Juli 2009 | 04:08 WIB
Paris, Kamis
Sejak Senin, Geithner mengunjungi Inggris, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan bulan lalu China. Geithner melakukan kunjungan ke banyak negara pembeli terbesar obligasi Pemerintah AS, penutup defisit anggaran Pemerintah AS. Para investor dan sejumlah negara mulai khawatir akan prospek kurs dollar AS seiring dengan membengkaknya defisit anggaran menjadi 1,09 triliun dollar AS.
Geithner mencoba meyakinkan banyak pihak bahwa Pemerintah AS bersungguh-sungguh mengatasi krisis dan memelihara kurs dollar AS dengan tujuan agar aset dalam denominasi dollar AS tidak merosot, antara lain terhadap euro.
”Kami ingin membangun kembali fondasi ekonomi yang lebih kuat agar ada keseimbangan global,” ujar Geithner, yang sebelumnya juga menemui Menteri Perdagangan UEA Sheikha Lubna al-Qasimi di Abu Dhabi.
Oman, Bahrain, dan Qatar mematok mata uang mereka terhadap dollar AS serta memegang sebagian besar cadangan devisa dalam dollar AS. Rusia, China, dan Arab Saudi sudah mengurangi pembelian obligasi AS karena khawatir akan keselamatan investasi dan potensi penurunan kurs dollar AS. Porsi dollar AS kini menurun dalam komposisi cadangan devisa dunia dari 71 persen pada tahun 2001, atau tertinggi sepanjang sejarah, menjadi sekitar 64 persen pada kuartal pertama 2009 berdasarkan data Dana Moneter Internasional (IMF).
Potensi depresiasi dollar AS semakin mencuatkan keinginan banyak negara untuk menggantikan status dollar AS sebagai alat tukar internasional. Menkeu Perancis turut menyuarakan hal itu.
Mantan Menkeu AS Henry Paulson, Rabu di Washington, ditanyai Kongres AS soal cara penyelamatan ekonomi dan pemberian dana talangan ke sejumlah perusahaan setelah krisis meledak di AS tahun 2008. Penyelamatan itu merupakan penyumbang terbesar bagi defisit.
Paulson membela tindakannya. Ia mengakui langkah yang diambil mungkin tidak sempurna, tetapi diperlukan untuk mencegah pasar finansial AS dari kehancuran total.
”Akan ada lebih banyak warga yang akan kehilangan rumah, pekerjaan, bisnis, tabungan, dan gaya hidup jika penyelamatan tidak dilakukan. Biaya krisis memang amat besar. Namun, penderitaan akan jauh lebih dahsyat dan lebih mengerikan seandainya pemerintah tidak turun tangan,” katanya.