Rabu, 10 Februari 2010
Karyawan Freeport Tertahan
Operasi Khusus Segera Dilaksanakan di Mimika

Jumat, 17 Juli 2009 | 04:10 WIB

Timika, Kompas - Meski hari Kamis (16/7) suasana jalan penghubung antara daerah Tembagapura dan Timika, ibu kota Kabupaten Mimika, Papua, relatif tenang, ratusan pekerja PT Freeport Indonesia yang lepas bekerja dan akan cuti masih tertahan di Tembagapura.

Manajemen PT Freeport Indonesia kemarin belum mengizinkan pekerja melintasi jalur jalan yang dianggap berbahaya tersebut karena selama empat hari sebelumnya berturut-turut terjadi insiden penembakan dan menewaskan tiga orang oleh kelompok orang tak dikenal.

Sebaliknya, lebih dari 800 pekerja di Timika yang harus kembali bekerja belum diberangkatkan ke Tembagapura. PT Freeport Indonesia juga melarang pekerja melintasi jalan itu.

Kamis kemarin, Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Papua Irjen FX Bagus Ekodanto memimpin rapat tertutup dengan para pejabat TNI di Timika, tetapi hingga semalam belum ada penjelasan resmi tentang isi pertemuan.

Juru bicara PT Freeport Indonesia, Mindo Pangaribuan, menyatakan belum memastikan apakah hari Jumat ini pihaknya akan mencabut larangan bagi pekerja untuk bepergian dari dan ke Tembagapura.

Kebijakan PT Freeport Indonesia melarang para pekerja melintasi jalan penghubung Timika-Tembagapura diambil karena PT Freeport Indonesia memprioritaskan keselamatan karyawan.

Kamis pagi, Kapolda Papua mengunjungi Rumah Sakit Mitra Masyarakat, Timika, dan membesuk para polisi yang terluka dalam sejumlah insiden penembakan yang terjadi dalam lima hari terakhir.

Operasi khusus

Di Jakarta, Wakil Kepala Bidang Humas Markas Besar Kepolisian Negara RI Brigadir Jenderal (Pol) Sulistyo Ishak, kemarin, mengatakan, untuk mengurangi eskalasi kekerasan bersenjata di Papua, Polri akan melakukan operasi khusus di daerah-daerah tertentu.

Untuk daerah-daerah dengan eskalasi konflik bersenjata yang cukup tinggi, menurut Sulistyo, akan ada operasi pemantapan keamanan. Operasi khusus pemantapan keamanan hanya akan dilakukan di beberapa daerah tertentu, seperti Kabupaten Mimika dan Nabire atau di daerah dengan eskalasi konflik cukup tinggi.

”Ada sekitar 700 personel dikerahkan di sekitar wilayah pertambangan PT Freeport Indonesia. Kami mengedepankan operasi kepolisian karena yang dihadapi adalah kelompok kriminal bersenjata. Kami tetap mendapat dukungan dari TNI,” katanya.

Sulistyo menjamin operasi yang digelar bukan tindakan represif seperti yang terjadi di Aceh semasa daerah operasi militer.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengatakan, TNI tidak tinggal diam dan turut prihatin atas maraknya kasus kekerasan di Papua. Namun, untuk saat ini TNI berkonsentrasi menyiapkan kekuatan sejak dini jika sewaktu- waktu polisi meminta bantuan.

Sementara itu, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ridha Saleh, kemarin, meminta pihak Polri berhati-hati dan tidak melebar ke mana-mana dalam penyelidikan atas sejumlah peristiwa kekerasan yang terjadi dalam lima hari terakhir di Mimika.

Ridha mengaku khawatir, jika sampai Polri bertindak berlebihan, masyarakat sipil di sana justru akan kembali menjadi korban atau dikorbankan. Komnas HAM, ujarnya, juga membentuk tim pemantau dan berkoordinasi dengan pihak terkait di sana.(ROW/MHF/MHD/ONG/DWA/JOS)

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: