Rabu, 10 Februari 2010
Sajak Sajak

Minggu, 19 Juli 2009 | 03:04 WIB

Hasan Aspahani

Penadah, 1

DI lapak-lapak judi

pasar besar barang bekas ini

waktu dihargai

murah sekali

 

Para pencuri

datang dengan jam mati.

“Sibuk sekali, Tuan. Sibuk sekali,

tak ada lagi waktu yang bisa kami curi.”

 

 

Hasan Aspahani

Penadah, 2

BERAPA kau hargai, Kitab Suci ini?

Di rumah ibadah dan lengah jemaah, ini kucuri.

 

Tunggu, Tuan. Apakah Tuhan tahu tadi?

Siapa yang seperti mengikuti engkau datang ke mari?

 

 

Hasan Aspahani

Penadah, 3

“AKULAH juga pencuri, apa yang kutadah ini,” kata penyair itu,

di kepalanya – keranjang besar itu – menumpuk-membusuk kata.

 

Ia membayangkan lembut rambut akar, dan wangi sari mawar.

 

 

Hasan Aspahani

Penadah, 4

IA temukan hujan di musim tak berjadwal: sebuah pasar gelap.

 

“Kemarau mencuriku, dan menjual pada si penadah ini,” kata

si hujan yang basah dan menggigil itu. Aku tak tahu siapa

yang ia maksudkan, dan berapa harga harus kutebuskan.

 

 

Hasan Aspahani

Penyamar

SETELAH jantung dan tubuhmu, Ia ciptakan wajah.

 

Dua mata yang ingin menangkap dunia, hidung yang

kelak lupa – tak bisa menyimpan aroma surga – dan

mulut yang menyempurnakan penyamaran.

 

“Jadi?” Ia bertanya. “...maka, jadilah,” kata-Nya.

Setelah mengatasi satu-satunya ragu. Ragu-Nya sendiri.

 

 

Hasan Aspahani

Pengasah

“INI pisaumu,” kata-Mu, menyerahkan sebilah waktu.

 

Sejak itu, aku mengasahnya di batu leherku. “Tajamkah

sudah?” tanya jantungku, seperti risau, bagai menunggu.

 

 

Ook Nugroho

Rumah Baru

Sebuah rumah baru

Dibangun dekat simpangan itu

 

Kau tergoda bertanya:

Berapa sepi kelak

Tinggal di rumah bagus itu?

 

Berapa cemas

Bakal beranak pinak?

 

Berapa luka

Mengisi ruang tetamunya

Menghadap senja?

 

Ada patung

Patung sepi

Pada halamannya

Kolam dan ikan-ikan

Lelampu di satu pojoknya

 

Cukup terangkah

Dibanding bebayang

Malam dan bintang mati?

 

Sebuah rumah baru

Dua kamar di lotengnya

Mungkin tiga kamar di lotengnya

 

Kau terusik bertanya:

Dari jendela loteng itu

Langit masih berapa jauh lagi?

 

2009

 

 

Ook Nugroho

Dalam Tidur

Dalam tidur

Aku ingin ketemu sajak

Kata-kata baik

Bebunyian rancak

Baris-baris giris

Melukis gerimis hidupku

 

Dalam tidur

Aku ingin terus menulis

Dan merampungkan semua

Pas bangun esoknya

Tinggal kububuhkan saja

Semacam kata penutup

 

Demi langit di atas

Demikianlah kiranya terjadi:

Mimpi yang menunas di bumi

Di sorga benihnya disemai

 

2009

 

 

Ook Nugroho

Sajak Senggang

: Aan Mansyur

 

Di hari tuanya

Tak banyak lagi urusan

Yang mengusiknya

 

Ia pun lebih banyak

Tinggal di rumah

Membaca atau sesekali

 

Menerima

Kunjungan kata

(Beberapa patah kata)

 

Yang mengaku

Tak tahu lagi

Mesti pergi ke mana

 

Selain bertamu

Pada penyair

(Beberapa penyair)

 

Yang mengeluh

Suka tak bisa tidur

 

2009

 

 

Indrian Koto

Bayi Serigala

aku ingin dilahirkan sebagai bayi serigala

dengan geligi tajam. sepasang mata yang akrab

dengan malam. aku ingin

menaiki bukit berbatu, kering, kosong. angin

kemarau dengan gelebau risau membawa

lolong juga gonggong. sampai

malam-malammu mencengkam, serupa

anak kecil kau menyimpan semua mainan

dan merapatkan semua yang kau punya

aku ingin menjadi teror bagimu,

hantu lapar yang mengabarkan rindu

dari jauh. di bulan-bulan mati

aku ingin sempurna bersendiri

 

2009

 

 

Indrian Koto

Menjadi Malam

aku ingin menjadi malam bagimu. melingkupimu

dengan tubuhku yang dingin dan pucat. selimut bagi

seluruh kecemasanmu. segala ancaman menjauhlah.

pejamkan mata, kau memerlukan mimpi sebagai

kenangan dan harapan. kau memerlukan perangkap

kecil agar dendammu tak cepat padam, biar yang muram

tak terus berulang. kuciptakan masa depan bagimu

untuk harimu yang bakal panjang, obat bagi jerihmu

dan keringat yang jatuh. tak selamanya aku denganmu,

sebab ancaman serupa cahaya. ketika fajar mulai mendekat

aku melipat tubuh, gegas bersama sisa kabut

dan seluruh cemasmu pada hidup. saat itu lipatlah aku

aku akan memelukmu dalam ketiadaan ini

 

2009

 

Hasan Aspahani lahir 1971 di Kalimantan Timur, dan kini menetap di Batam. Wartawan, penyair, dan blogger. Kumpulan sajaknya adalah Orgasmaya (2007) dan Telimpuh (2009).

Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian Taratak, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia bergiat di Rumahlebah Yogyakarta dan Rumah Poetika.

Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Ia bekerja dan bermukim di Jakarta.

Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
tinung @ Minggu, 19 Juli 2009 | 08:45 WIB
Hari ini saya menemukan sajak yg menurut saya bagus karya Hasan Asphani, tdk sekedar memainkan kalimat2 indah tapi klise.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: