
Minggu, 19 Juli 2009 | 03:04 WIB
Penadah, 1
DI lapak-lapak judi
pasar besar barang bekas ini
waktu dihargai
murah sekali
Para pencuri
datang dengan jam mati.
“Sibuk sekali, Tuan. Sibuk sekali,
tak ada lagi waktu yang bisa kami curi.”
Penadah, 2
BERAPA kau hargai, Kitab Suci ini?
Di rumah ibadah dan lengah jemaah, ini kucuri.
Tunggu, Tuan. Apakah Tuhan tahu tadi?
Siapa yang seperti mengikuti engkau datang ke mari?
Penadah, 3
“AKULAH juga pencuri, apa yang kutadah ini,” kata penyair itu,
di kepalanya – keranjang besar itu – menumpuk-membusuk kata.
Ia membayangkan lembut rambut akar, dan wangi sari mawar.
Penadah, 4
IA temukan hujan di musim tak berjadwal: sebuah pasar gelap.
“Kemarau mencuriku, dan menjual pada si penadah ini,” kata
si hujan yang basah dan menggigil itu. Aku tak tahu siapa
yang ia maksudkan, dan berapa harga harus kutebuskan.
Penyamar
SETELAH jantung dan tubuhmu, Ia ciptakan wajah.
Dua mata yang ingin menangkap dunia, hidung yang
kelak lupa – tak bisa menyimpan aroma surga – dan
mulut yang menyempurnakan penyamaran.
“Jadi?” Ia bertanya. “...maka, jadilah,” kata-Nya.
Setelah mengatasi satu-satunya ragu. Ragu-Nya sendiri.
Pengasah
“INI pisaumu,” kata-Mu, menyerahkan sebilah waktu.
Sejak itu, aku mengasahnya di batu leherku. “Tajamkah
sudah?” tanya jantungku, seperti risau, bagai menunggu.
Rumah Baru
Sebuah rumah baru
Dibangun dekat simpangan itu
Kau tergoda bertanya:
Berapa sepi kelak
Tinggal di rumah bagus itu?
Berapa cemas
Bakal beranak pinak?
Berapa luka
Mengisi ruang tetamunya
Menghadap senja?
Ada patung
Patung sepi
Pada halamannya
Kolam dan ikan-ikan
Lelampu di satu pojoknya
Cukup terangkah
Dibanding bebayang
Malam dan bintang mati?
Sebuah rumah baru
Dua kamar di lotengnya
Mungkin tiga kamar di lotengnya
Kau terusik bertanya:
Dari jendela loteng itu
Langit masih berapa jauh lagi?
2009
Dalam Tidur
Dalam tidur
Aku ingin ketemu sajak
Kata-kata baik
Bebunyian rancak
Baris-baris giris
Melukis gerimis hidupku
Dalam tidur
Aku ingin terus menulis
Dan merampungkan semua
Pas bangun esoknya
Tinggal kububuhkan saja
Semacam kata penutup
Demi langit di atas
Demikianlah kiranya terjadi:
Mimpi yang menunas di bumi
Di sorga benihnya disemai
2009
Sajak Senggang
: Aan Mansyur
Di hari tuanya
Tak banyak lagi urusan
Yang mengusiknya
Ia pun lebih banyak
Tinggal di rumah
Membaca atau sesekali
Menerima
Kunjungan kata
(Beberapa patah kata)
Yang mengaku
Tak tahu lagi
Mesti pergi ke mana
Selain bertamu
Pada penyair
(Beberapa penyair)
Yang mengeluh
Suka tak bisa tidur
2009
Bayi Serigala
aku ingin dilahirkan sebagai bayi serigala
dengan geligi tajam. sepasang mata yang akrab
dengan malam. aku ingin
menaiki bukit berbatu, kering, kosong. angin
kemarau dengan gelebau risau membawa
lolong juga gonggong. sampai
malam-malammu mencengkam, serupa
anak kecil kau menyimpan semua mainan
dan merapatkan semua yang kau punya
aku ingin menjadi teror bagimu,
hantu lapar yang mengabarkan rindu
dari jauh. di bulan-bulan mati
aku ingin sempurna bersendiri
2009
Menjadi Malam
aku ingin menjadi malam bagimu. melingkupimu
dengan tubuhku yang dingin dan pucat. selimut bagi
seluruh kecemasanmu. segala ancaman menjauhlah.
pejamkan mata, kau memerlukan mimpi sebagai
kenangan dan harapan. kau memerlukan perangkap
kecil agar dendammu tak cepat padam, biar yang muram
tak terus berulang. kuciptakan masa depan bagimu
untuk harimu yang bakal panjang, obat bagi jerihmu
dan keringat yang jatuh. tak selamanya aku denganmu,
sebab ancaman serupa cahaya. ketika fajar mulai mendekat
aku melipat tubuh, gegas bersama sisa kabut
dan seluruh cemasmu pada hidup. saat itu lipatlah aku
aku akan memelukmu dalam ketiadaan ini
2009
Hasan Aspahani lahir 1971 di Kalimantan Timur, dan kini menetap di Batam. Wartawan, penyair, dan blogger.
Indrian Koto lahir 19 Februari 1983 di Kenagarian
Ook Nugroho lahir di Jakarta, 7 April 1960. Ia bekerja