
Jumat, 31 Juli 2009 | 03:21 WIB
Kamis, 30 Juli 2009, adalah hari istimewa bagi Susilo Bambang Yudhoyono. Hari itu 33 tahun sudah usia perkawinannya dengan Kristiani Herawati. Namun, keistimewaan itu tidak dilengkapi salaman atau adu pipi kanan dan kiri dari para pembantunya yang adalah para menteri.
Yudhoyono yang masih terserang virus influenza sejak beberapa hari sebelumnya bahkan menolak salaman dengan para pembantunya seusai telekonferensi dengan semua gubernur dan pimpinan daerah di Istana Negara, Jakarta. ”Enggak usah salaman. Belum sembuh betul. Kalau salaman, nanti (virus) terdistribusi,” ujarnya sambil pergi setelah memberikan instruksi dan arahan.
Perayaan sederhana ulang tahun pernikahan dilakukan sebelumnya di pendapa kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Jawa Barat. Seperti saat ulang tahun ke-57 Ny Ani, tumpeng kuning dipotong dan kecupan diberikan Yudhoyono di dahi istrinya.
Hanya perangkat utama kepresidenan yang ikut merayakannya. Ny Ani mengenakan baju panjang dan syal melingkari leher dan bahunya.
Kembali ke soal virus influenza yang bisa menyerang Yudhoyono. Antisipasi pun ditingkatkan. Tidak hanya di Puri Cikeas Indah, Kompleks Istana Kepresidenan pun ditunggui aparat kesehatan tambahan.
Sejak Rabu pagi, tim kesehatan dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan diturunkan di Istana Kepresidenan dan Cikeas. Sehari dua tim disiagakan dengan infrared forehead thermometer di tangan. ”Barang baru ini buatan Swiss,” ujar Uuf Rufaidah, salah satu petugas yang berjaga.
Selain Uuf, berjaga pula lima petugas lain dengan alat sama dan seorang dokter. Di tempat parkir disiagakan ambulans dan tiga perawat. Siapa saja yang masuk Istana atau Cikeas, selain melewati pemeriksaan keamanan dan barang-barang bawaan, harus melewati uji suhu tubuh yang ditembakkan di dahi.
”Untuk yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat celsius akan kami pisahkan, klasifikasi, dan diukur lagi. Kalau tidak turun suhunya, kami akan merujuknya ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso,” ujar dr Sahat yang ikut berjaga di Istana Kepresidenan.
Sepanjang hari dengan padatnya acara dan banyaknya pegawai, hanya didapati satu pegawai yang suhu tubuhnya di atas 38 derajat celsius. Namun, setelah diberi obat dan diukur lagi, suhu tubuhnya turun. ”Pegawai itu hanya mengeluh sakit kepala saja,” ujar Uuf.
Kehadiran tim kesehatan untuk mendeteksi suhu tubuh pembawa virus di Istana Kepresidenan dan Puri Cikeas Indah adalah permintaan pihak Istana. Tim disiagakan untuk melindungi Kepala Negara dari aneka macam virus berbahaya. ”Kami mengantisipasi agar virus H1N1 atau swine flu atau flu babi tidak masuk Istana,” ujar Sahat.