
Minggu, 16 Agustus 2009 | 03:41 WIB
Mau wisata ya,” tanya seorang tukang becak yang ngetem
Istilah wisata itu dipakai warga setempat untuk menyebut perjalanan orang-orang yang akan berziarah ke makam Sunan Kudus. Lebih tepatnya wisata sejarah dan wisata religi.
Munculnya peluang bisnis wisata ini membuat agen perjalanan membikin paket ziarah Walisongo. Beberapa di antaranya ada Basmah Tour, biro perjalanan yang bermarkas di Jalan Basuki Rachmat, Jakarta Timur. Lalu Wanagung Tour di Ponorogo, Jawa Timur, dan Witour di Kotabaru, Yogyakarta.
Basmah Tour membuka paket ziarah Walisongo pada tahun 1998. ”Karena banyak permintaan, terutama dari majelis taklim dan pengajian ibu-ibu,” kata Direktur Operasional Basmah Tour Ahmad Haidar Barakwan.
Para pemesan biasanya justru dari luar Jakarta, seperti Banjarmasin dan Balikpapan. ”Frekuensinya tidak banyak, paling-paling setahun sekali,” ujar Haidar.
Untuk paket ziarah komplet dari Cirebon (Sunan Gunung Jati) hingga Surabaya (Sunan Ampel) selama enam hari dan lima malam, biaya dipatok Rp 1,2 juta per orang. Biaya itu sudah termasuk hotel dan makan.
Adapun Wanagung Tour membuka tiga paket, yakni ziarah wali lima, ziarah wali Jatim, dan paket Walisongo. Paket wali lima, misalnya, meliputi ziarah ke makam Maulana Malik Ibrahim, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan petilasan wali di Magelang serta Klaten, Jawa Tengah. Dengan biaya Rp 380.000 per orang, para peziarah mendapat fasilitas lima kali makan dan menginap semalam di Magelang. Wanagung menyediakan seorang pemandu wisata.
Untuk paket ziarah Walisongo, biaya per orang mencapai Rp 750.000 dari Ponorogo dan Rp 820.000 dari Yogyakarta. ”Kami melayani juga konsultasi. Misalnya kalau hanya punya uang sekian rupiah dapat apa saja. Nanti kami arahkan,” kata pemilik Wanagung Tour, Herdimas Agung Trisula.
Beberapa rombongan ”wisata religi” memilih untuk menyewa bus dan sopirnya ketimbang paket dari biro perjalanan. Tak perlu ada pemandu wisata karena pemimpin rombongan sudah cukup mengenal lokasi tujuan. ”Kami sudah empat kali ke sini,” kata beberapa ibu dari rombongan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah, yang berkunjung ke Kudus.
Rombongan dari Pesantren Lan Bulan, Sampang, Madura, juga memilih menyewa bus dan sopir. Sebanyak 65 orang mengiur masing-masing Rp 300.000 untuk biaya perjalanan. ”Makan sendiri-sendiri, ” kata Anwar (21), seorang peserta rombongan.
Agak berbeda yang dilakukan rombongan dari Sragen. Sebanyak 50 orang hanya mengeluarkan masing-masing Rp 30.000. ”Itu hanya tambahan. Selebihnya pakai uang kas,” kata Senen, anggota rombongan, saat berada di Masjid Menara Kudus.
Rupanya, rombongan satu desa ini setiap tahun selalu berziarah ke sejumlah makam wali. Maka, setiap bulan pun ada semacam arisan untuk menabung. ”Pas saatnya, kan bayarnya enteng. Makan, sangu (bekal) dari rumah,” ujar Senen.