
Rabu, 19 Agustus 2009 | 03:17 WIB
NINOK LEKSONO
Hari Kemerdekaan Ke-64 RI baru saja kita peringati. Gemanya masih terasa, demikian pula pesan renungannya. Di antara harapan yang kita tangkap seperti halnya disampaikan dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR, Jumat (14/8), adalah bahwa Indonesia akan menjadi negara maju tahun 2025.
Seiring dengan itu, terdengar pula visi seniman tentang negara yang maju. Grup musik Cokelat lewat lagu ”100% Cinta Indonesia” menyanyi tentang Indonesia yang bisa membuat beragam produk seperti dikutip pada awal kolom ini. Alangkah idealnya.
Seperti kita saksikan, yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Contoh HP, yang kini sudah digunakan sekitar 120 juta orang Indonesia. Namun, pakar yang menguasai sistem seluler kita, sebagian besar ditopang jaringan bersistem GSM (global system for mobile communication), belum banyak.
Padahal, sistem itu bisa mengalami gangguan. Manakala itu terjadi, kelangkaan ahli akan memaksa operator memanggil ahli dari luar negeri, yang lazimnya harus diberi bayaran dan fasilitas premium. Realitas inilah yang lalu melahirkan ilham bagi pakar telekomunikasi, Suryatin Setiawan, untuk menyelenggarakan pelatihan ahli GSM.
Selain ahlinya tak memadai, kontribusi Indonesia minimal atau bahkan tidak ada dalam gegap gempita industri telekomunikasi seluler. Sebagai akibatnya pada tahun 2007 saja belanja perangkat jaringan telekomunikasi nasional mencapai 2,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 27 triliun (Tempo Interaktif, 14/12/2006). Alangkah senangnya produsen HP dan berbagai perangkat penunjangnya.
Sejarah komunikasi seluler tampaknya mengulangi apa yang telah terjadi pada otomotif. Setelah lebih dari empat dekade menikmati banjir produk otomotif Jepang, Indonesia tak kunjung mampu menghasilkan karya otomotif nasional seperti halnya
Bila di kancah seluler yang kemarin ini berjaya adalah merek-merek negeri Nordik yang berukuran kecil tetapi menguasai teknologi, di kancah otomotif, Jepang seperti tak tergoyahkan, meski produsen lain kemudian bermunculan. Harus dikatakan bangsa Indonesialah—dengan pasar amat besar—yang selama ini justru ikut memakmurkan Jepang dan Finlandia karena memborong produk otomotif dan selulernya.
Itukah prestasi kemerdekaan? Itukah tujuan negara merdeka seperti digagas bapak-bapak pendiri Republik?
Memang pada era globalisasi sekarang ini tidak mungkin setiap bangsa membuat semua barang kebutuhannya. Akan ada pembagian kerja di antara bangsa-bangsa sehingga satu sama lain akan saling melengkapi atau komplementer. Namun, tetap sulit dipahami kalau bangsa Indonesia yang senang SMS dan main BlackBerry tak bisa mengembangkan rekayasa apa pun di bidang produk seluler?
Pertanyaan yang sama juga dapat dikemukakan untuk otomotif. Apakah seumur-umur bangsa ini tidak mampu membuat mobil setingkat Toyota Kijang seandainya tipe di atasnya dianggap terlalu rumit?
Dulu pada era BJ Habibie dipacu penguasaan teknologi kedirgantaraan, disertai falsafah ”memulai dari akhir, mengakhiri di awal”. Teori itu berasumsi, kalau satu bangsa bisa membuat produk canggih seperti pesawat, pastilah juga bisa membuat mobil, yang
Ketika semangat Hari Merdeka masih hangat di dada, tepat waktulah kalau visi pembangunan iptek ini kembali diteguhkan. Masuk akal bila kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar pejuang diisi generasi penerus dengan berbagai prestasi yang akan semakin memuliakan kemerdekaan itu sendiri.
Kemerdekaan haruslah dikawal teknologi vital agar ia teguh, tambah kuat, kemudian berjaya. Kalau serta-merta ingatan orang tentang pengawalan mengarah pada teknologi pertahanan dan keamanan, itu juga tak keliru. Negara tanpa dikawal teknologi pertahanan dan keamanan yang memadai akan mudah diolok-olok musuh dan dilecehkan teroris seperti selama ini. Di sini memang belum ada pesawat pengintai dan kapal patroli yang membuat musuh potensial di perbatasan bisa berbuat semaunya. Juga belum ada aplikasi teknologi informasi-komunikasi yang sanggup memantau dan melacak akurat keberadaan musuh dan teroris.
Namun, teknologi hankam hanya merupakan basis pertama dari tiga teknologi fundamental yang harus kita miliki. Yang kedua adalah teknologi yang mampu membuat kita membuat produk industri unggulan yang hasilnya bisa meningkatkan kemakmuran rakyat. Dalam tren mutakhir, industri kreatif—ada 14 macam jenis yang telah diadopsi pemerintah—yang sebagian digali dari khazanah budaya lokal Tanah Air, dan sebagian lain dari kemajuan teknologi informasi-komunikasi, dilihat akan digerakkan lebih jauh. Bila sekarang kontribusi industri ini baru sekitar 6 persen dari produk domestik bruto, ke depan, diyakini akan lebih besar lagi.
Dari pengalaman pengembangan industri selama ini yang harus dikatakan masih gagal, ke depan, industrialisasi harus ditopang litbang tangguh disertai teknologi manajemen di segala lininya. Keberhasilan teknologi industri diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan dengan itu, salah satu tujuan kemerdekaan dapat dicapai.
Terakhir, tidak kalah pentingnya, pengembangan teknologi untuk meningkatkan citra dan karisma bangsa dan negara. Keberhasilan meluncurkan satelit dan roket buatan sendiri ke orbit adalah salah satunya. Di sini mungkin terdapat kesan ”mercusuar”. Namun, pemimpin visioner seperti Kennedy, Nehru, dan Deng Xiaoping kembali harus dikenang karena merekalah ada pencapaian besar di Amerika, India, dan China, yang membuat bangsanya dipandang hormat bangsa lain. Mereka meyakinkan bangsa, perlunya membangun roket dan meluncurkan satelit.
Kemerdekaan dirayakan, kemerdekaan dimuliakan. Namun, kemerdekaan juga harus diisi, diperkaya, dan diwarnai agar lebih indah. Teknologi—tiga jenisnya telah disinggung di atas—diyakini besar peranannya untuk mencapai maksud tersebut.