
Minggu, 6 September 2009 | 02:51 WIB
Budi Suwarna
Di pinggir gang buntu dan kumuh, pusat kebugaran Gorila berdiri. Di sana, tukang becak, tukang mi, pengangguran, dan anak sekolah mewujudkan obsesi memiliki tubuh berotot. Inilah kisah kreatif masyarakat jelata yang terekam dalam film dokumenter ”Gorila dari Gang Buntu”.
Koordinator dan Produser Eagle Awards Fajrian mengatakan, kelima finalis ini menyisihkan lebih dari 200 peserta yang mengirimkan proposal film ke panitia. Selanjutnya, kelima film ini akan dinilai oleh juri. Pemenang kompetisi akan diumumkan pada akhir Oktober.
Tahun ini Eagle Awards mengangkat tema Indonesia kreatif. Tema ini diterjemahkan dengan cukup baik oleh peserta. Bambang dan Rio berhasil menangkap energi masyarakat kelas bawah di Gang Buntu, Semarang, Jawa Tengah, yang ingin memiliki badan berotot, tetapi tidak sanggup membayar biaya latihan di pusat kebugaran.
Mereka membangun sasana kebugaran sendiri di sebuah ruang terbuka di pinggir gang sempit. Mereka membuat peralatan dengan bahan seadanya, mulai dari semen, batu bata, hingga besi bekas. Mereka tidak hanya melatih otot, tetapi juga melepaskan kepenatan hidup.
Dunia Kecil dalam Kotak mengisahkan televisi komunitas yang dikelola warga Dusun Grabag, Magelang. Jawa Tengah. Lewat televisi komunitas, masyarakat dusun ini mendapatkan pengalaman baru sebagai sutradara, penyiar, artis, hingga model video klip campursari.
Merajut Impian di Balik Catwalk Jalanan
Sang Pengumpul Asap
Bukan Negeri Sampah Bukan Bangsa Pengemis
Kisah-kisah itu sederhana, tetapi sudah cukup untuk menggambarkan betapa masyarakat kelas bawah yang sering dipandang sebelah mata sesungguhnya kreatif dalam mengatasi masalah.
Kekuatan Eagle Awards selama ini memang terletak pada pesan. Kompetisi yang diadakan rutin tiap tahun sejak 2005 itu kerap menyodorkan potret realitas sosial yang semula terpendam. Eagle Awards, misalnya, pernah menampilkan film dokumenter tentang suster apung yang mendatangi pasien dengan sampan atau kepala sekolah yang nyambi menjadi pemulung. Pesan-pesan sosial itu masih terbaca dalam lima film dokumenter yang masuk final tahun ini.
Namun, bagaimana para peserta menggarap persoalan sosial subyeknya? Ada kecenderungan film dokumenter yang lolos tahun ini terkesan datar. Konflik dimunculkan secara selintas dan serba verbal. Pemihakan yang menjadi ciri film dokumenter tidak muncul secara tegas.
Ini bisa dimaklumi. Pasalnya, waktu yang diberikan panitia untuk riset, menurut Fajrian, hanya 10 hari. Peserta juga hanya memiliki jatah bolak-balik ke lokasi subyek maksimal 12 kali.
Jika peserta diberi waktu lebih panjang untuk riset dan berinteraksi lebih lama dengan subyek, hasilnya mungkin akan lebih baik. Pasalnya, keberhasilan sebuah film dokumenter, antara lain, ditentukan seberapa dalam pembuat film dokumenter menyelami dan bergaul dengan pengalaman subyek.
Praktisi film dokumenter, Veronika Kusumaryati, mengatakan, film dokumenter yang lolos Eagle Awards sangat dipengaruhi gaya bertutur televisi. Akibatnya, film yang dihasilkan mirip dengan ficer berita. ”Tekanannya pada informasi. Padahal, dalam film dokumenter harus ada aspek artistik, subyektivitas, dan pemihakan,” katanya.
Ini memang sulit dihindari karena para peserta disupervisi para profesional di bidang pertelevisian. Selain itu, film dokumenter itu akan ditayangkan di televisi.
”Sebenarnya masih banyak jenis film dokumenter yang lain. Namun, di Indonesia referensi film dokumenter memang terbatas. Yang dilihat orang lebih banyak film dokumenter untuk televisi,” tutur Veronika.
Terlepas dari pencapaian kualitas, Eagle Awards tetap penting. ”Ajang ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkenalan dengan film dokumenter,” kata Kioen Moe, Executive Producer Eagle Awards.