
Selasa, 29 September 2009 | 03:34 WIB
Hanoi, Senin -
Demikian diungkapkan oleh pemimpin Bank Pembangunan Asia (ADB), Senin (28/9).
”Krisis harus menjadi kesempatan melakukan langkah proaktif untuk meletakkan landasan guna pembangunan jangka panjang,” kata Haruhiko Kuroda, Presiden ADB, sebelum membuka konferensi di Hanoi, Senin. Konferensi itu berjudul ”Dampak Pelemahan Ekonomi terhadap Kemiskinan dan Pembangunan Berkesinambungan di Asia dan Pasifik”.
Seiring dengan meningkatnya harga bahan pangan dan minyak, krisis ekonomi global, serta krisis finansial, hal itu menyebabkan 41 juta warga China kehilangan pekerjaan, sementara penduduk yang menderita kelaparan kronis di Asia Selatan meningkat menjadi sekitar 100 juta orang.
ADB memperkirakan, setidaknya 60 juta orang berada dalam garis kemiskinan, yang berarti hanya memperoleh pendapatan sebesar 1,25 dollar AS atau sekitar Rp 12.500 per hari karena pelemahan ekonomi.
Di tengah semakin menguatnya pertanda pemulihan perekonomian global, pada jangka panjang perekonomian Asia harus dapat bertahan dari guncangan eksternal.
”Dibutuhkan langkah-langkah praktis, termasuk menggiatkan perdagangan di dalam kawasan sendiri, mengelola globalisasi finansial, serta berinvestasi lebih banyak lagi dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial,” ujarnya lagi.