
Senin, 12 Oktober 2009 | 02:59 WIB
Peringkat Ba2 untuk utang asing dan lokal negara Indonesia tersebut merupakan peringkat tertinggi negara Indonesia pascakrisis pada tahun 1998 yang diberikan oleh Moody’s. Peringkat Ba2 berada pada dua tingkat di bawah investment grade (Baa3).
Moody’s melihat ketangguhan perekonomian Indonesia menghadapi resesi global dan prospek pertumbuhan ekonomi jangka pendek yang sehat.
Perekonomian Indonesia mampu terhindar dari terperosok dalam krisis finansial yang melanda banyak negara di dunia. Tidak seperti pada krisis pada tahun 1998, di mana Indonesia ikut terjaring krisis dan malah terperosok paling dalam di kawasan Asia Tenggara, pada krisis finansial ini, pada saat negara tetangga mengalami resesi, Indonesia berhasil bertahan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih positif.
Hal ini menunjukkan kuatnya permintaan domestik yang mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi. Untuk tahun 2009, Bank Dunia pada 14 September lalu telah merevisi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan dari 3,5 persen menjadi 4,3 persen.
Kenaikan peringkat ini juga disebabkan oleh membaiknya profil kredit sebagai hasil dari kehati-hatian kebijakan, reformasi struktural, dan manajemen utang yang baik.
Defisit APBN yang relatif rendah dan pertumbuhan ekonomi yang kuat akan menurunkan utang pemerintah dan swasta. Kemampuan membayar utang pemerintah juga diperkirakan masih stabil.
Cadangan devisa yang lebih kuat ditambah dengan pasar modal dan basis investor institusi yang lebih matang merupakan faktor yang akan memengaruhi kenaikan peringkat utang Indonesia ke depan.
Selain menaikkan peringkat utang Indonesia, Moody’s juga meningkatkan rating 10 bank Indonesia dari Ba3 ke B1 dengan outlook stabil.
Kesepuluh Bank tersebut adalah Bank Central Asia, Bank CIMB-Niaga, Bank Danamon Indonesia, Bank Internasional Indonesia, Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, Bank Permata, Bank Rakyat Indonesia, Bank Tabungan Negara, dan Pan Indonesia Bank.
Persepsi risiko turun
Kenaikan peringkat utang ini juga berarti penurunan persepsi risiko investor asing sehingga kualitas kredit meningkat. Sebuah instrumen yang dijadikan indikator persepsi risiko investor adalah credit default swap (CDS).
Dengan semakin membaiknya kondisi ekonomi kini dan prospek ke depan, level CDS cenderung mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan menurunnya persepsi risiko di mata investor.
Setelah memuncaknya dampak krisis finansial global terhadap Indonesia pada Oktober 2008, level CDS Indonesia terus mengalami penurunan. Kami mencatat terjadi penurunan dari 1.248 basis poin pada 24 Oktober 2008 menuju 175 basis poin pada 16 September 2009.
Dampak yang sangat terasa dari menurunnya persepsi risiko atas kualitas kredit Indonesia, yakni penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Nilai tukar rupiah menguat Rp 210 per dollar AS dari Rp 9.895 pada 15 September menjadi Rp 9.685 pada akhir September.
Penguatan nilai tukar rupiah tersebut menjadi salah satu pendorong turunnya imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi rupiah setelah kenaikan peringkat Indonesia menjadi Ba2.
Kami mencatat rata-rata imbal hasil SUN mengalami penurunan sebesar 43 basis poin dari 9,95 persen pada 15 September ke posisi 9,47 persen pada akhir September lalu.
Prospek imbal hasil SUN ke depan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi, suku bunga, dan kurs rupiah. Menurunnya persepsi risiko kredit Indonesia juga direspons dengan masuknya dana asing ke pasar modal domestik.
Di pasar obligasi, kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara mengalami kenaikan Rp 1,79 triliun dari tanggal 15 September sampai 25 September 2009.
Begitu pula di pasar saham, di mana sejak meningkatnya peringkat Indonesia pada 16 September lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami peningkatan 28 poin atau naik 1,16 persen.
Ke depan, dana asing yang diinvestasikan di pasar modal diperkirakan akan berlanjut pada investasi riil. Hal ini tentunya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada masa datang.
Sejalan dengan penurunan persepsi risiko terhadap kualitas kredit negara Indonesia, premium risiko yang ditanggung negara Indonesia semakin rendah.
Untuk instrumen surat utang dalam denominasi dollar AS dengan masa jatuh tempo 10 tahun, kami mencatat pada 24 Oktober 2008 memiliki premium risiko 10,71 persen di atas instrumen US Treasury yang memiliki masa jatuh tempo yang sama. Premium risiko ini menurun ke posisi 2,21 persen pada 16 September 2009.
Dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara (Malaysia, Thailand, dan Filipina), premium risiko Indonesia masih lebih tinggi. Ini merupakan hal yang wajar karena Malaysia dan Thailand memiliki peringkat utang lebih tinggi dari Indonesia.
Namun, dibandingkan dengan Filipina yang sejak 1 Agustus 2007 memiliki peringkat utang lebih rendah satu tingkat dari Indonesia, premium risiko yang ditanggung Indonesia malah lebih tinggi. Peringkat utang valuta asing jangka panjang untuk Filipina saat ini adalah Ba3 (yang dinaikkan pada 23 Juli 2009).
Kami melihat ada dua faktor yang menyebabkan premium risiko Indonesia sejak awal tahun 2008 justru lebih tinggi daripada Filipina.
Pertama, perbedaan karakteristik kompleksitas dan risiko makroekonomi kedua negara. Sebagai negara dalam daftar 20 ekonomi terbesar di dunia yang memiliki ukuran ekonomi sekitar tiga kali lebih besar dari Filipina, kompleksitas perekonomian tentunya lebih besar.
Selalu terdapat fase kritikal dalam pengelolaan perekonomian dalam upaya memanfaatkan potensi yang terdapat di dalam perekonomian yang besar.
Misalnya, kecukupan penyediaan infrastruktur yang baik, penyerapan tenaga kerja yang tumbuh dengan cepat, peningkatan produktivitas individu dan institusi, serta masalah-masalah lainnya.
Salah satu contoh, perbedaan laju inflasi di mana laju inflasi Indonesia lebih tinggi dibandingkan laju inflasi Filipina. Namun, hal ini salah satunya adalah dampak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kencang dibandingkan Filipina.
Rata-rata laju inflasi tahunan Filipina tahun 2007 dan 2008 berturut-turut sebesar 2,77 persen dan 9,28 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah daripada rata-rata laju inflasi tahunan Indonesia pada tahun 2007 dan 2008 yang masing-masing sebesar 6,59 persen dan 11,06 persen.
Faktor kedua kemungkinan disebabkan oleh layanan lembaga keuangan Filipina yang lebih baik daripada Indonesia.
Namun, reformasi birokrasi dan perbaikan layanan yang sedang berlangsung di Indonesia, pada masa mendatang akan mendorong perbaikan pada persepsi investor di Indonesia.
Ke depan, kami melihat premium risiko Indonesia akan membaik. Keyakinan ini didukung oleh pengenalan dunia terhadap skala ekonomi Indonesia yang pada kenyataannya masuk dalam kumpulan negara G-20 ekonomi terbesar dunia.
Indonesia memiliki pendapatan domestik bruto (PDB) nominal sebesar 915 miliar dollar AS pada 2008. Di samping itu, masuknya Indonesia dalam G-20 memiliki prestise dan posisi strategis dalam perkembangan kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia ke depan.
Dalam menghadapi krisis resesi global ini, ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara lainnya.
Membaiknya persepsi asing dan meningkatnya kepercayaan asing terhadap kualitas kredit Indonesia sangat strategis bagi penerbitan surat berharga negara dalam denominasi asing tahun depan dalam rangka menutupi defisit APBN.
Di samping itu, biaya penerbitan surat berharga yang tecermin dari besarnya kupon diharapkan akan semakin rendah.
Tidak hanya bagi pemerintah Indonesia, perusahaan, baik BUMN maupun swasta, tentu akan mendapatkan manfaat dari peningkatan peringkat utang negara Indonesia.