
Senin, 26 Oktober 2009 | 03:53 WIB
Sebagai langkah awal, kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, departemen yang dipimpinnya akan memetakan keahlian setiap ilmuwan Indonesia di luar negeri sehingga bisa diketahui lebih jelas penelitian yang bisa dilakukan dan akan berguna bagi rakyat Indonesia.
Harapan ilmuwan Indonesia yang berada di luar negeri itu diungkapkan Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) Nasir Tamara dalam peluncuran dan workshop I-4, Sabtu (24/10) di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Depdiknas, Jakarta. ”Jika kegiatan penelitian digiatkan dan dilakukan dengan serius, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi seperti China dan India,” ujarnya.
Dengan kerja sama yang intens, akses bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan sekolah atau mengadakan pelatihan di luar negeri semakin terbuka luas. Selain membuka akses studi dan penelitian, I-4 juga bersedia membantu memublikasikan hasil-hasil penelitian peneliti Indonesia melalui jurnal-jurnal internasional.
Menanggapi harapan dan tawaran dari I-4, Mohammad Nuh menegaskan perlunya paradigma baru dalam bidang penelitian, yakni kegiatan penelitian lintas wilayah dan lintas institusi asalkan hasil penelitiannya benar-benar untuk kepentingan Indonesia. Seluruh proses penelitian bisa dilakukan di luar negeri, tetapi harus ada jaminan bahwa seluruh hasilnya akan diberikan kepada Indonesia.
”Ini prinsip zaman modern. Mereka (ilmuwan di luar negeri) tidak harus ditarik pulang ke Indonesia selama terus berkontribusi bagi Indonesia. Kalau pulang, iklimnya barangkali belum cocok, malah jadi sakit nanti. Biarkan saja mereka di sana, tetapi hasilnya bisa dimanfaatkan di sini,” kata Nuh seusai membuka workshop I-4.
Misalnya, penelitian virus flu burung, influenza A (H1N1), atau demam berdarah yang selama ini telah dilakukan Presiden & Kepala Penelitian ProThera Biologics di AS, Yow-Pin Lim.
Menurut Yow-Pin, tema penelitian yang harus segera dilakukan dan diperbanyak adalah yang terkait lingkungan dan kesehatan. ”Kasus seperti flu burung itu barangkali perlu ada kerja sama. Fokus penelitian di Indonesia dan hasilnya untuk Indonesia. Jangan dibawa ke luar,” kata Yow-Pin, yang juga ahli protein dan immunochemistry.
Direktur Institut Pendidikan Klinis dan Penelitian Sains (CLEDSI) di Waseda University, Jepang, Ken Kawan Soetanto mengingatkan perlunya lingkungan yang mendukung dan suasana kompetisi sehat dan keras.
”Kita harus berani mengadopsi standar global. Jangan santai-santai karena negara lain tidak santai-santai,” kata Soetanto, anggota Kebijakan Ekonomi dan Industri, subkomite Dewan Konstruksi Industri Departemen Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang. Dia mengingatkan, selain didorong, penelitian juga harus fokus sehingga anggaran penelitian tidak terbuang sia-sia.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal menekankan pentingnya membangun suasana kondusif dan kerja sama erat dengan ilmuwan Indonesia di luar negeri. Dari catatan Dikti, dari 4,5 juta mahasiswa Indonesia, hanya 20.000 orang melanjutkan program S-2 dan hanya 15.000 orang melanjutkan ke tingkat S-3.