Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Ketika Tembok Berbicara

Minggu, 1 November 2009 | 03:28 WIB

Dengan bedil dan peluru di tangan, siapa pun bisa Tuan penjarakan. Sungguh pun alasannya terkadang membingungkan; ”Mereka terlalu banyak bicara pada media.” Namun, bisakah Tuan meruntuhkan seluruh tembok kota? Tembok-tembok yang kini telah dilukisi dengan cat warna merah dan putih itu.

Jangan Tuan tanya siapa yang melukisi tembok-tembok itu. Sama halnya, jangan Tuan cari tahu siapa yang menggerakkan lebih dari 100.000 facebookers yang membuat pernyataan dukungan kepada dua tersangka yang kini Tuan penjarakan.

Jika Tuan terus memusuhi suara-suara kritis itu, penjara akan disesaki rakyat. Dan, bisakah Tuan memenjarakan tembok-tembok kota yang kini bangkit dan bersuara lantang untuk melawan korupsi? Bahkan, seandainya Tuan hapus seluruh tembok kota yang telah dicat dengan warna merah dan putih itu, gambar tentang pergulatan ”cicak melawan buaya” itu sudah terekam di kepala rakyat Indonesia. (Ahmad Arif)

Share on Facebook
Nilai 5 A A A
Ada 3 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
sugeng izata @ Minggu, 1 November 2009 | 22:33 WIB
kebenaran ta pernah menyerah,keadilan ta pernah lelah.dan dengan atas nama KEBENARAN DAN KEADILAN rakyat takan tinggal diam.....
Aang. @ Minggu, 1 November 2009 | 10:33 WIB
kepada Yth Presiden SBY : mohon berusahalah segera bebaskan Pak Bibit dan Pak Chandra.lihat dan dengarkan,kasus ini akan menjatuhkan anda.God bless you
Aku yang menangis @ Minggu, 1 November 2009 | 09:28 WIB
Tuhan Memberkati mu Bibit-Chandra, juga kau Ahmad Arif 2 suara kini hilang sementara. Namun kini, mendekati jutaan suara ditambah tembok kota berteriak lantang.

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: