
Minggu, 1 November 2009 | 03:36 WIB
Pentas massal untuk pertama kali itu dilakukan oleh lebih dari 3.000 orang. Selain itu, juga dipamerkan perangkat kolintang dan musik bambu berukuran raksasa.
Sertifikat pengakuan Guinnes World Records (GWR) diserahkan perwakilan lembaga tersebut, Lucia Sinigagliesi, kepada pemrakarsa pergelaran, Benny J Mamoto, Direktur Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Sertifikat selanjutnya diserahkan kepada Bupati Minahasa, Vreeke Runtu.
Penyerahan sertifikat didahului dengan penghitungan jumlah pemain dan ukuran perangkat yang disyaratkan GWR, diikuti persembahan lagu ”Aki Tembo- temboan” dan ”Minahasa Kina Toanku” dengan iringan kolintang, dan lagu ”Mangemo Sako” dengan iringan musik bambu.
Hasil penghitungan tim GWR dan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara menunjukkan, jumlah pemain kolintang dan perangkatnya melebihi dari yang dipersyaratkan, yakni 1.223 orang. Untuk musik bambu, jumlah pesertanya bahkan mencapai 3.011 orang. Jumlah yang dipersyaratkan adalah minimal 1.000 orang untuk kolintang dan 1.000 orang untuk musik bambu.
Adapun ukuran raksasa kolintang yang terbuat dari kayu cempaka adalah panjang 8 meter, lebar 2,5 meter, tinggi 2 meter, berat 3,168 kilogram, dan volume bahan 13,7 meter kubik. Musik bambu yang berupa terompet seng klarinet berukuran panjang lengkung/lingkar dalam hingga luar 4-32 meter, diameter mulut 6 meter, dan tinggi 8 meter. Terompet itu terbuat dari stainless steel, sebagai modifikasi dan pengembangan bahan dari bambu. Alat musik tiup dari bahan asli bambu turut disertakan mengiringi lagu persembahan.
Lucia Sinigagliesi mengungkapkan, hasil penelitian tim GWR yang berkantor di London, Inggris, menunjukkan, instrumen, melodi, dan irama kolintang dan musik bambu di Indonesia belum ada yang menyamai di dunia. GWR mencatat kolintang dan musik bambu sebagai wujud seni tradisi yang menakjubkan dunia.