Rabu, 10 Februari 2010
Riset Arus Laut Minim
Menjadi Penyebab Terjadinya Siklon

Selasa, 3 November 2009 | 02:51 WIB

Jakarta, Kompas - Perubahan arus laut pada setiap musim di wilayah Indonesia berpengaruh besar terhadap dinamika atmosfer yang diwarnai ketidakpastian iklim dan cuaca, serta makin seringnya muncul siklon tropis. Akan tetapi, riset di bidang kelautan ini masih sangat minim.

”Adanya siklon tropis itu tergantung suhu permukaan laut. Penelitian tentang laut menjadi sangat berpengaruh, tapi ini masih sangat minim,” kata Kepala Bidang Pengembangan dan Pemanfaatan Penginderaan Jauh pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Orbita Roswintiarti, Senin (2/11) di Jakarta.

Lapan mengidentifikasi setiap pertumbuhan siklon tropis yang menimbulkan ekor badai yang berdampak pada memburuknya cuaca di sebagian wilayah Indonesia. Identifikasi selama satu tahun, Oktober 2008-September 2009, ada 41 siklon tropis, dari perairan Samudra Pasifik meliputi timur Filipina atau utara Australia, Laut China, dan di Samudra Hindia, sampai ke Teluk Benggala.

Siklon tersebut meliputi siklon Dujuan, Mujigae, Choiwan, Ketsana, dan Parma (September 2009); siklon Marakot, Goni, Etau, dan Krovanh (Agustus 2009); siklon Soudelor dan Molave (Juli 2009); serta siklon Linfa dan Nangka (Juni 2009).

Pada Mei 2009 ada tiga siklon: Kujira, Chan Hom, dan Aila. Dilanjutkan dengan Bijli Twentyseven dan Kirrily (April 2009); siklon Gabriellee, Hamish, Ilsa, dan Twentytwo (Maret 2009); siklon Elie dan Freddy (Februari 2009); serta siklon Charlotte, Dominic, dan Ellie (Januari 2009).

Desember 2008 ada tiga kejadian: siklon Twentyseven, Dolphin, dan Billy. Kemudian enam siklon pada November meliputi Twentyfour, Maysak, Noul, Twentysix, Anika, dan Bernard. Pada Oktober 2008 ada empat siklon, yakni Higos, Twentytwo, Twentythree, dan Rashmi.

Pentingnya riset arus laut di Indonesia juga dinyatakan Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian. Edvin mengatakan, saat ini terjadi pengaruh El Nino di perairan Indonesia.

Arus laut dengan suhu permukaan dingin dari Pasifik masuk ke Indonesia. ”Sebaliknya, arus laut yang masih hangat dari perairan Indonesia justru keluar menuju Pasifik,” kata Edvin.

Menurut dia, riset kelautan ilmuwan Indonesia masih sedikit masuk jurnal ilmiah internasional. Data-data kelautan bersifat lokal di Indonesia jarang dipakai untuk analisis global termasuk pada perubahan iklim global.

Manajer Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadli Syamsuddin mengatakan, pada saat El Nino, arus laut dari Pasifik seharusnya masuk ke perairan Indonesia melalui Selat Makassar lalu menuju Samudra Hindia melalui Selat Lombok. ”Itu berpengaruh pada banyaknya ikan di Samudra Hindia, khususnya di selatan Pulau Jawa,” kata Fadli. (NAW)

Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
Oki lukito @ Selasa, 3 November 2009 | 12:14 WIB
Kalau yang meneliti kasiat trerumbu karang banyak, berlomba dengan peneliti asing tetapi hasilnya bak ditelan gelombang, terdampar di mancanegara ...

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: