
Kamis, 5 November 2009 | 03:56 WIB
Kebocoran di pengilangan Atlas Barat itu tepatnya terjadi sejak 21 Agustus pada sumur Montara, di kedalaman 2,6 km (1,6 mil) di bawah dasar laut. Sejak itu ada 400 barrel minyak, gas, dan kondensat menyembur ke luar menuju permukaan laut per hari. Kalangan aktivis lingkungan melukiskan kondisi itu sebagai malapetaka terbesar abad ini bagi lingkungan perairan laut lepas.
Kebocoran belum bisa diatasi karena Australia dan perusahaan pengebor minyak lepas pantai itu, yakni PTTEP Australasia (Ashmore Cartier) Pty Ltd, tidak memiliki alat memadai di lokasi. Upaya selama ini, yakni menyuntikkan ribuan barrel lumpur ke lubang, malah menimbulkan kebakaran hari Minggu lalu. Setelah api dipadamkan hari Selasa, kebocoran masih tetap berlanjut.
Direktur Keuangan PTTEP Australasia Jose Martins mengatakan, usaha menutup kebocoran dan pembersihan minyak di laut baru bisa dimulai setelah api dipadamkan, Selasa (3/11). Namun, kegiatannya tidak bisa segera dilakukan karena operator kilang minyak masih menunggu alat pengendali dari Singapura.
Kesulitan utama ialah karena titik kebocorannya terletak di kedalaman 2,6 km atau 1,6 mil di bawah dasar laut. Pihak PTTEP menyediakan dana sekitar 177 juta dollar untuk operasi pembersihan Laut Timor dari pencemaran minyak mentah serta untuk pemulihan kebocoran.
”Saya menduga kita memerlukan beberapa bulan lagi untuk mengatasi masalah ini. Sedangkan upaya nyata pemulihan lingkungan diperkirakan akan memakan waktu tujuh tahun,” kata Jose Martins.
Menteri Energi dan Sumber Daya Australia Martin Ferguson, yang telah menyerukan perlunya penyelidikan yang serius atas malapetaka lingkungan tersebut, gembira begitu mengetahui api sudah dapat dikendalikan.
”Saya pikir kita semua pasti lega bahwa sebuah situasi sulit dan berbahaya (kebakaran) tidak menimbulkan korban jiwa dan api sudah dipadamkan,” ujarnya.
Penggiat dan aktivis lingkungan mendesak Pemerintah Australia dan operator kilang minyak PTTEP Australasia fokus dan serius menghentikan kebocoran di lokasi yang berjarak 250 km di lepas pantai Australia itu. ”Semburan minyak itu merupakan bencana besar,” kata Ghislaine Llewellyn, dari WWF Australia.
Llewellyn mengatakan, tumpahan minyak, gas, dan kondensat telah berampur dengan dispersant. Campuran itu berubah menjadi ”koktail beracun” yang akan memiliki dampak jangka panjang di kawasan tropis yang kehidupan lautnya masih murni.
Pihak berwenang di Australia mengatakan, mereka sedang menyelidiki apakah minyak yang bocor itu bakal mendekati pesisir daratan Australia atau tidak. Kedutaan Besar Australia di Jakarta menyangkal laporan bahwa minyak yang bocor dari Atlas Barat itu telah mencemari perairan selatan Pulau Timor dan Rote. Tidak mungkin luberan minyak itu mendekati perairan Indonesia.
Direktur Yayasan Timor Barat di Kupang, NTT, Ferdi Tanone mengatakan, perairan selatan Timor dan Rote tercemar. Nelayan kesulitan melaut dan banyak ikan mati. Aktivis WWF mengatakan, kebocoran merupakan bencana lingkungan yang dahsyat dan mengancam keselamatan biota laut di Laut Timor.
Menteri Lingkungan Australia Peter Garrett mengatakan, dia telah mengingatkan PTTEP bahwa mereka bisa berhadapan dengan undang-undang lingkungan. Juru bicara oposisi, Greg Hunt, mendesak Perdana Menteri Kevin Rudd mengadakan pertemuan nasional guna mengatasi bencana itu. Pemimpin The Greens meminta Rudd mengambil alih kasus itu.