
Minggu, 8 November 2009 | 03:31 WIB
Jakarta, Kompas -
Hal itu dikatakan Koordinator Kesehatan Haji Indonesia Barita Sobu Sitompul saat dihubungi Kompas di Jeddah, Arab Saudi, Sabtu (7/11). Gangguan itu akan lebih cepat muncul jika jemaah haji memiliki beban kejiwaan sejak dari Tanah Air.
”Setiap orang memiliki daya tahan sendiri terhadap kelelahan psikis. Gangguan ini dapat menyerang siapa saja, tidak peduli pendidikan maupun asal-usulnya,” katanya.
Selain faktor kelelahan setelah menjalankan ibadah, gangguan psikis itu dapat juga muncul karena hidup dalam lingkungan sosial baru yang benar-benar berbeda. Selama menjalankan ibadah di Arab Saudi, jemaah akan hidup dalam lingkungan terbatas. Salah satu hal sederhana yang berubah adalah jemaah harus berbagi kamar tidur dan toilet dengan jemaah lain.
Jika tidak cepat menyesuaikan dengan kondisi itu, jemaah dapat menjadi cepat marah dan murung. Karena itu, sesama anggota jemaah haji harus peduli dengan kondisi rekan mereka. Jika ditemukan perubahan psikis jemaah, sesama jemaah lain perlu segera melaporkannya kepada dokter yang ada di setiap kelompok atau melaporkannya segera ke rumah sakit haji Indonesia yang tersebar di beberapa tempat.
Menurut Barita, pemerintah menyediakan dua rumah sakit yang khusus menangani kondisi kesehatan jiwa jemaah, yaitu di Mekkah dan Madinah. Di Mekkah terdapat dua psikiater dan
Faktor kelelahan yang sering memicu gangguan kejiwaan umumnya didorong kondisi cuaca yang berbeda dengan di Tanah Air. Meskipun suhu udara pada musim haji tahun ini diperkirakan sama dengan cuaca di Tanah Air, kelembabannya rendah sehingga menghasilkan udara kering. Hal itu harus diimbangi dengan meminum air 3 liter per hari per orang, lebih dari kebutuhan air minum minimal di Tanah Air yang hanya 2 liter per hari.
Secara terpisah, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Namun, banyak jemaah yang memaksa umrah berkali-kali sebelum pelaksanaan ibadah haji. Akibatnya, ada jemaah yang pada saat puncak ibadah haji ketika wukuf di Arafah justru tidak dapat menjalankannya dengan baik karena kelelahan.
”Saat berhaji, ibadah sunah atau tidak wajib itu bisa dilakukan jika secara fisik memang mampu. Memaksakan diri untuk beribadah sunah tidak dibenarkan Al Quran,” katanya.
Said mengingatkan keutamaan dalam ibadah terletak pada ketulusan niat dan kekhusyukan (fokus/hikmat) ibadah.