Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Dede Silvia tampil bersama Orkes Melayu Khavindra menghangatkan suasana melalui alunan musik dangdut di League Cafe Hotel Borobudur, Jalan Magelang, Yogyakarta, Jumat (6/11) malam.
Kala Dangdut Nyaris Bangkrut

Minggu, 8 November 2009 | 03:32 WIB

Budi Suwarna

Stasiun TPI meniadakan ”Kontes Dangdut TPI”. Inikah pertanda dangdut benar-benar tersingkir dari panggung dunia hiburan?

Suka tidak suka, ”Kontes Dangdut TPI” (KDI) jadi penanda penting masa ”bulan madu” dangdut dan industri televisi. Awal tahun 2000-an acara tersebut mampu memicu ”demam dangdut”. Ribuan orang mengantre untuk mengikuti audisi ”KDI”. Jutaan pemirsa betah menonton kontes ini dari pukul 20.00 hingga pukul 24.00 setiap hari.

Namun, saat televisi kepincut musik pop, pesona dangdut dan ”KDI” pun memudar. Puncaknya, acara itu dilikuidasi setelah menyelesaikan putaran ke-6, Agustus 2009. Sebelumnya, TPI telah menghapus acara dangdut lainnya, seperti ”Dangdut Mania” dan ”Langsung Beken”.

General Manager Programming TPI Endah Hari Utari, Selasa (3/11), mengatakan, pihaknya sulit mempertahankan ”KDI”. ”Penonton sekarang maunya musik pop. Kami tidak mungkin mengelak dari selera penonton,” kata Endah.

Stasiun televisi yang dulu identik dengan dangdut itu pun berkonsentrasi menggarap acara musik yang nge-pop, yakni ”Starbuzz” dan ”1001 Presenter”. TPI hanya menyisakan dua acara dangdut, yakni ”Gerebek Pasar” dan ”Nada dan Dana”. Di luar TVRI dan TPI, tidak ada satu televisi nasional pun yang menayangkan acara dangdut.

Kenyataan ini memukul para pedangdut. Ikke Nurjanah, misalnya, sekarang sulit masuk televisi. ”Dulu, sebulan delapan kali tampil di televisi. Sekarang untuk mempromosikan lagu baru saja susah. Kata orang televisi, ’acaranya sudah tidak ada’.”

Nelangsa

Di dunia radio, musik dangdut sama nelangsanya. Di Jakarta tinggal Radio Dangdut TPI yang 100 persen menyajikan dangdut. Radio dangdut lainnya mulai memutar lagu pop bersama dangdut.

Radio Muara yang 13 tahun identik dengan dangdut bahkan total meninggalkan dangdut. ”Sekarang radio kami pop total. Namanya pun kami ubah menjadi M Radio. Mau apa lagi? Sekarang semua orang maunya pop,” kata Producer Director Radio Muara Andre Yahya.

Andre mengaku telah mencium gejala kebangkrutan dangdut sejak dua tahun lalu. Indikasinya, tahun 2007, kiriman album baru ke radio dangdut mulai seret. Setahun kemudian, tidak ada kiriman sama sekali.

”Saya sudah ingatkan para musisi dangdut untuk berbuat sesuatu. Tapi, mereka telanjur terlena dengan kejayaan dangdut tahun 1990-an sampai awal 2000-an. Mereka bilang dangdut tidak akan mati,” ujarnya.

Dangdut memang tidak mati. Hanya saja, dangdut tersingkir dari panggung utama dunia hiburan yang bernama televisi. Ini terjadi justru ketika acara musik di televisi sangat menentukan selera pasar musik.

Dangdut sendiri harus bergerilya di panggung-panggung hiburan tingkat kampung. Itu pun harus berkompromi dengan musik pop.

Frans Setyo, pemilik grup dangdut kondang Ken Arok dari Salatiga, mengatakan, generasi muda sekarang tidak mengerti lagu dangdut klasik. ”Makanya, kami memilih menyanyikan lagu-lagu pop yang populer di televisi,” katanya.

Dengan cara itu, Ken Arok yang dibentuk tahun 1979 bisa bertahan. ”Panggilan manggung masih banyak, terutama di Jawa Tengah. Belum lama ini kami manggung di dekat Gunung Slamet,” katanya.

Cari celah

CEO Falcon Music HB Naveen mengatakan, jika ingin bertahan, musisi dangdut harus pintar mencari celah agar lagunya bisa diputar di acara musik televisi. Itu hanya bisa dilakukan jika musisi dangdut membungkus lagunya dengan pop dan mencitrakan dangdut sebagai musik modern. ”Kalau tidak modern, mana bisa melawan Ungu dan Peterpan,” katanya.

Falcon telah menggunakan jurus ini dalam menggarap album Ridho Irama beserta Sonet 2 Band. Lagu Ridho, ”Menunggu”, yang sebenarnya lagu daur ulang ayahnya, Rhoma Irama, dipoles dalam kemasan pop. Video klipnya pun digarap serius dan memanfaatkan simbol-simbol modern, seperti mobil dan perempuan cantik berpenampilan kota.

Hasilnya, kata Naveen, lagu tersebut diterima pasar. Sejak diluncurkan enam bulan lalu, album itu terjual 200.000 kopi dalam bentuk kaset dan 40.000 kopi dalam bentuk CD. Dalam bentuk nada dering pribadi (RBT), lagu ”Menunggu” terjual lebih dari dua juta.

The Dhangduters, grup band asal Purwodadi, mencoba jurus yang sama. ”Saya lihat lagu yang diputar di televisi itu lagu pop-melayu. Kami pun membuat lagu ’Misteri Cinta’ yang cengkoknya melayu,” kata Chuncun, vokalis Dhangduters.

Mereka juga berusaha tampil modern di atas panggung. Mereka mengenakan kostum ala Elvis Presley dan rambut palsu kribo warna-warni. Untuk video klip, grup yang ditangani Mentari Musik Indonesia itu menggandeng Manohara sebagai model. Hasilnya, band ini berhasil menembus acara musik televisi, seperti ”Inbox”, ”Derings”, dan ”Mantap”.

Dhangduters bertekad akan terus mempelajari selera pasar musik dan gaya hidup modern. Sebagai tahap awal, kata Manajer Promosi Mentari Musik Indonesia Sofwan, para personel Dhangduters belajar membiasakan diri mandi dengan shower. Maklum, mereka biasa mandi dengan gayung.

Share on Facebook
A A A
Ada 7 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
wahyu anang p @ Senin, 23 November 2009 | 06:07 WIB
diawal tahun 2000an dangdut sempet booming,semua tv menyajikan acara klip2 dangdut,tp skrg tdk ada lg,tpi beberapa mggu yg lalu menayangkan dangdut never dies
Tukriyo Budiharto @ Selasa, 10 November 2009 | 15:21 WIB
Musik tetap musik, krn musik adlh bgian dari seni, yg norak itu norak itu para kruptor, tkg bhong, yg suka menghina, tkg fitnah & tkg semua pelaku kejahatan.
Aang @ Minggu, 8 November 2009 | 14:54 WIB
Bagus.berarti selera masyarakat Indonesia tidak norak lagi.
HANAFI ADIWIJAYA,S.H @ Minggu, 8 November 2009 | 08:52 WIB
hari tuanya dan kehidupan akhirat, tanamkan nilai kebaikan dan kebajikan untuk anak cucunya, agar anak cucumu tersenyum dengan buah kebaikanmu
HANAFI ADIWIJAYA,S.H @ Minggu, 8 November 2009 | 08:37 WIB
Terutama dari busana dan penampilan yang erotis, sehingga masy jenuh untuk menontonnya, kasihan pada pelaku dangdut yg penampilannya sopan, ikut terimbas

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: