Rabu, 10 Februari 2010
Pameran Lukisan
Moni, Memanfaatkan Kaleng Biru

Senin, 9 November 2009 | 17:16 WIB

Ketika perusahaan minuman kemasan berlomba-lomba memasarkan produknya dalam kaleng yang berwarna-warni dan cenderung meriah, tidak demikian halnya dengan produk Pocari Sweat, minuman impor asal Jepang. Kaleng produk tersebut tampil sederhana, berwarna biru dengan garis dan tulisan putih.

Kaleng khas dan sederhana itu menjadi subyek imajinasi Ketut Moniarta, pelukis kelahiran Wonogiri, yang memamerkan karyanya di Galeri Semarang, Jalan Taman Srigunting, Kota Lama, Semarang. Pameran 15 lukisan itu berlangsung dua minggu, 7-21 November 2009.

"Kami tertantang mengembangkan imajinasi dari kaleng minuman ini. Benda keseharian itu tidak biasa menjadi subyek imajinasi pelukis. Hal itu membuat saya tertarik," kata Ketut Moniarta yang lebih akrab disapa Moni, Sabtu (7/11) pada pembukaan pameran lukisannya yang dihadiri sejumlah seniman dan penggemar lukisan di Semarang.

Di mata Moni, kaleng biru itu sayang untuk dibuang. Melalui keterampilannya mengolah potongan lembaran kaleng yang digunting-gunting, Moni berusaha menyusun dan mendesain lembaran potongan kaleng menjadi sebuah karya sesuai kehendaknya. Pada lukisan Self Portrait, susunan sistematis potongan lembar kaleng menampilkan foto wajah Moni.

Melalui lembaran potongan kaleng, Moni menunjukkan kepiawaiannya menciptakan pemandangan atau obyek tertentu sebagai lukisan. Mulanya, Moni memotret pemandangan atau bangunan. Berdasarkan cetakan foto itu dia menyusun dengan detail dan teliti hingga tercipta lukisan seperti pada foto.

Pada lukisan River Dream, Out Cast, dan Snow Blues, Moni menyuguhkan pemandangan fokus dan out of focus dalam satu imaji berdasarkan dekatnya dan jauhnya obyek-obyek dengan jarak lensa. Ada gambar yang terang, hasil pemandangan optis dari lensa kamera yang menciptakan efek mengabur pada bagian yang menjauh.

Dalam karya Poca de la Cruz #2, Moni menampilkan kaleng dalam lembaran kain yang telah diremas, lengkap dengan kekusutan kaleng dalam kanvas yang seolah digulung.

Melalui aneka karyanya, Moni mengajarkan bahwa imajinasi pelukis, seniman, dan pelaku budaya lainnya dapat menciptakan hal kreatif. Termasuk pemandangan yang hasilnya lebih kreatif ketimbang pemandangan natural.

Sejak tahun 2000, Moni menghasilkan banyak karya dan kerap menggelar pameran tunggal serta pameran bersama. (Winarto Herusansono)

Share on Facebook
A A A
Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: