
Senin, 9 November 2009 | 17:22 WIB
Boyolali, Kompas - Autisme masih menjadi fenomena gunung es di Indonesia akibat anggapan keliru bahwa gangguan perkembangan anak ini merupakan kelainan mental atau keterbelakangan. Orangtua akhirnya berusaha menutupi karena kerap merasa malu jika anaknya penyandang autis. Padahal, deteksi dan terapi dini sangat penting bagi penyandang autis.
"Mari ubah pemikiran keliru tentang penyandang autis itu. Mereka memiliki kecerdasan yang baik, hanya saja ada ketidakseimbangan antara IQ (kecerdasan intelektual) dan EQ (kecerdasan emosional). Penyandang autis dalam tingkat berat, sedang, atau rendah bisa diterapi," kata psikiater Kresno Mulyadi pada acara "Parent Meeting: Homeschooling" di Boyolali, Sabtu (7/11).
Kresno mengakui, belum ada informasi yang tepat mengenai penyandang autis di Indonesia. Namun, yang bisa dijadikan perbandingan adalah indeks autis dunia pada tahun 1998, yaitu mencapai 1 kasus setiap 2.500 kelahiran. Sementara pada 2009, mencapai 1 kasus setiap 166 kelahiran.
Menurut Kresno, jumlah penyandang autis di Indonesia yang terungkap kepermukaan masih sangat sedikit. Padahal, penyandang autis itu diyakini cukup banyak. Setidaknya, berdasarkan observasi Kresno, pada beberapa taman kanak-kanak bisa terdapat 2-5 anak penyandang autis.
Direktur Utama Homeschooling Kak Seto Semarang Dr Nugroho W menyebutkan, anak-anak autis ini perlu perhatian khusus. Untuk pembelajaran anak autis, homeschooling bisa menjadi salah satu solusi karena anak bisa mendapat perhatian lebih. Selama ini, guru pada sekolah umum cenderung tidak bisa memberi perhatian lebih pada keistimewaan setiap siswa.
Kresno mengatakan, autisme kronis bisa menyebabkan anak sama sekali sulit berinteraksi dan asyik dengan dunianya sendiri. Sementara pada tataran sedang mereka bisa berkomunikasi, tetapi tidak optimal karena perhatiannya mudah teralihkan. Pada spektrum rendah, ciri autis tak terlalu tampak. Anak-anak biasanya memiliki emosi labil, mudah jengkel, marah, dan takut.
"Apabila anak-anak usia awal sekolah dasar nilainya biasanya bisa mencapai 90 hingga 100, tetapi kemudian bisa turun sangat tajam hingga menjadi 10 atau nol, bukan tidak mungkin mereka juga penyandang autis spektrum rendah. Emosinya labil," ujar Kresno. (gal)