
Kamis, 12 November 2009 | 02:34 WIB
anton sanjoyo
Kalau David Ngog tidak diving
Namun, apa pun kata Benitez, Liverpool sepertinya tak lagi layak jadi kandidat juara. Bukan cuma terlempar dari posisi tradisional empat besar, tetapi juga karena statistik sama sekali tidak memihak pemegang 18 gelar juara Liga Inggris itu. Pasukan Benitez hanya menang sekali dalam sembilan laga, dan sebelum melawan Birmingham, menelan enam kekalahan dalam delapan laga di semua kompetisi.
Kemenangan 2-0 atas juara bertahan Manchester United (MU) di Anfield, dua pekan lalu, sama sekali bukan indikator. Bagi Liverpool, laga melawan seteru abadinya itu justru harus diabaikan jika mau menelaah kinerjanya. Karena hanya melawan MU-lah Liverpool mampu mengeluarkan seluruh energinya. Melawan MU, Gerrard dan kawan-kawan punya tenaga berlipat-lipat, passion yang luar biasa, dan determinasi yang tiada duanya. Hal-hal ini justru yang tidak tampak jika menghadapi tim lain, bahkan tim medioker yang di atas kertas, Liverpool mampu mengambil tiga poin.
Chelsea jauh lebih konsisten dalam hal ini. Menghadapi tim-tim papan atas, level permainan ”Si Biru” pun disetel tinggi. Sementara menghadapi tim-tim papan tengah dan bawah, stage-nya tidak banyak berubah. Permainan sepak bola menyerang yang dipadu dengan kombinasi antara power game dan keterampilan teknik tetap menjadi ciri pasukan Carlo Ancelotti, siapa pun lawannya.
Kemenangan 1-0 atas MU hari Minggu lalu menggambarkan konsistensi Chelsea dan kehebatan Ancelotti dalam menerapkan taktik. Ancelotti lebih memilih menempatkan Deco daripada Joe Cole di sisi terluar barisan gelandangnya yang dipatok berbentuk diamond. Deco, meski tidak secemerlang saat masih membela Barcelona, umpan-umpannya dalam membuka ruang jauh lebih matang ketimbang Joe Cole yang lebih bertipe one man show dalam struktur serangan.
Unggul lima poin atas juara bertahan MU, perjalanan Chelsea merebut kembali gelar juara Liga Inggris memang masih panjang. Ancelotti pun menyadari benar hal itu dan meminta para pemainnya tetap fokus untuk laga-laga berikut. ”Ini bukan sekadar perebutan gelar antara Chelsea dan MU. Jika Arsenal terus mencatat kemenangan, mereka juga punya kans sangat besar,” papar Ancelotti yang timnya mencatat 14 jam 32 menit tanpa kebobolan di Stamford Bridge.
Ancelotti benar. Arsenal menjadi ancaman paling serius selain MU yang punya tradisi juara dan selalu punya kiat jitu keluar dari krisis. Mengawali musim dengan tidak terlalu baik, Arsene Wenger sangat konsisten menerapkan sistem permainan menyerang total yang semakin lama semakin tajam. Kombinasi yang makin padu antara Cesc Fabregas, Robin van Persie, dan Andrey Arshavin membuat tim dari London bagian utara ini menjadi tim paling produktif di Liga Primer dengan selisih gol positif 22, atau lebih baik satu gol ketimbang Chelsea yang bertengger di puncak klasemen. Dari 36 gol Arsenal musim ini, trio Van Persie-Fabregas-Arshavin menyumbang 17 gol, atau hampir setengahnya. Wenger pun punya semakin banyak pemain yang sanggup mencetak gol, seperti Thomas Vermaelen, William Gallas, Abou Diaby, atau Eduardo.
Konsistensi Arsenal memang masih harus diuji pascajeda musim dingin, atau pada paruh kedua kompetisi. Jika Wenger tidak mengulang kesalahan beberapa musim terakhir—di mana timnya melorot grafiknya setelah hari Natal—sinyalemen Ancelotti bakal jadi kenyataan. Kuda pacu dalam perebutan gelar Liga Inggris dipastikan hanya tiga tim: Chelsea, MU, dan Arsenal.
Bosan. Namun, apa boleh buat, ketiga tim inilah yang paling konsisten dalam satu dekade terakhir. Harapan perubahan sebenarnya mencuat dari Manchester City yang musim ini memborong sejumlah pemain kaliber dunia, seperti Gareth Barry, Joleon Lescott, Kolo Toure, dan tentu saja Emmanuel Adebayor. Namun, sampai dengan pekan ke-12, grafik penampilan pasukan Mark Hughes masih naik turun. Terakhir, mereka ditahan 3-3 oleh Burnley di kandang sendiri. Hasil imbang kelima dari sebelas laga dan menempatkan mereka di posisi keenam klasemen sementara.
Isu hijrahnya Robinho ke Barcelona tampaknya membuat stabilitas tim ”Biru Langit” goyah. Manajer City Mark Hughes berkali-kali memberikan isyarat tak akan melepas bintang Brasil itu ke Nou Camp. Namun, derasnya isu yang bergulir membuat konsentrasi tim terganggu. Adebayor kehilangan sentuhan, demikian pula Carloz Tevez, meski Craig Bellamy memukau dalam lima laga terakhir.
Harapan lain datang dari Tottenham Hotspur yang musim ini start dengan baik meski kalah dalam derbi London Utara melawan Arsenal. Selasa lalu, tim yang bermarkas di White Hart Lane ini melaporkan neraca keuangannya dengan sejumlah catatan yang memukau. Dalam 16 bulan terakhir, Spurs membelanjakan sekitar 150 juta pound (sekitar Rp 2,25 triliun) untuk membeli pemain. Nilai ini melebihi belanja klub empat besar, MU, Chelsea, Arsenal, dan Liverpool, dalam periode yang sama.
Bahkan, Spurs masih bisa membukukan rekor laba sebelum pajak untuk tahun finansial 2009. Laba ini terkait dari hasil penjualan Dimitar Berbatov ke MU dan Robbie Keane ke Liverpool.
Dalam racikan Harry Redknapp, Spurs kini menjelma menjadi salah satu tim paling agresif di Liga Primer. Mereka sekarang berada di posisi keempat dan jika tampil konsisten sepanjang musim, tiket Liga Champions sudah di depan mata.
Meski begitu, untuk bersaing dengan tiga kuda pacu: Chelsea, MU, dan Arsenal, baik City maupun Spurs tampaknya masih harus bekerja ekstra keras. Satu-satunya peluang bagi Spurs dan City adalah harus menang saat jumpa tiga tim unggulan itu. Sementara melawan tim-tim medioker, tiga poin tak bisa ditawar-tawar lagi.
Bagaimana dengan Liverpool? Hanya keajaiban yang bisa membuat Si Merah kembali bertakhta. Namun, dalam kompetisi yang ketat seperti Liga Inggris, peri keajaiban jarang mau singgah. Andai saja Liverpool berkompetisi di Indonesia, barangkali masih mungkin. Semuanya bisa diatur.