Rabu, 10 Februari 2010
KOMPAS/NASRULLAH NARA
Seorang pekerja memoles pigura di bengkel usaha pembuatan bingkai di Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (12/11). Kegiatan itu dilakukan dalam rangka mengisi waktu saat pemadaman listrik karena aktivitas lainnya terpaksa tersendat.
PEMADAMAN LISTRIK
Ketika Usaha Kecil Kelimpungan...

Sabtu, 14 November 2009 | 02:58 WIB

Nasrullah Nara

Ary (21) sudah hampir dua tahun ikut pamannya bekerja sebagai tukang cukur di emperan sebuah rumah di Toddopuli, Makassar, Sulawesi Selatan. Kepada setiap pengunjung, pria lulusan SMA itu menanyakan pertanyaan standar, ”Mau potongan seperti apa?” Biasanya Ary terlebih dahulu menunjukkan poster yang menempel di dinding. Di situ terpajang gambar model-model potongan rambut.

Sebulan terakhir, sebelum mulai menyentuh rambut pengunjung, terucap pertanyaan susulan, ”Sudah siap balik ke sini lagi kalau-kalau potongan rambut terhenti gara-gara mati lampu?”

Pemadaman listrik, Kamis (12/11) pagi, mencuatkan kisah tragis bagi pengguna jasa usaha potong rambut perantau asal Madura ini. Seorang pria dewasa memesan potongan rambut plontos rata 2 sentimeter.

Dengan mesin cukur listrik, dalam waktu dua menit, separuh rambut bagian kanan sudah plontos rata 2 sentimeter. Namun, sekitar pukul 10.00, tiba-tiba lampu padam pertanda aliran listrik dari PLN terhenti. Seperti biasanya, setiap pemadaman berdurasi 3-4 jam dan itu sampai tiga kali sehari.

”Bagaimana? Mau balik lagi ke sini kira-kira sehabis lohor atau rambutnya dibiarkan saja seperti ini?” ujar Ary kepada sang pengunjung. Opsi lain, potongan rambut plontos dan dipotong secara manual menggunakan pisau silet.

Karena tak ingin potongan rambut setengah jadi itu mengundang perhatian dan bahan olok-olokan warga, sang pengunjung terpaksa mengubah orderan. Ia berubah pikiran untuk beralih ke model cukur plontos. Artinya, rambut dipotong habis tepat pada lapisan kulit kepala.

Setelah membayar uang jasa Rp 10.000, sang pengunjung meninggalkan tempat cukur sambil bersungut-sungut. Pamannya, Nur Syahri (32), dari tadi duduk terkantuk-kantuk disergap udara gerah karena kipas angin pun berhenti berputar.

Pemadaman listrik di mana-mana senantiasa bermuara pada susutnya pendapatan rakyat dan mengganggu rutinitas. Jika listrik lancar, penghasilan Rp 300.000 per hari, tetapi kini pendapatan paling tinggi hanya Rp 100.000. ”Pengunjung tidak sampai 10 orang per hari,” kata Ary.

Tukang jahit pakaian di kios Pasar Toddopuli sulit berjanji tepat waktu bagi pelanggannya. Satu potong kemeja yang biasanya kelar dua hari terpaksa mulur sampai seminggu. Orderan pun anjlok.

Usaha pembuatan pigura milik Imam Syafi’i Kasman di Jalan Alauddin, Makassar, juga mati suri. Ia dan istrinya, Yuni Rahmaisyah (39), juga sulit berjanji tepat waktu bagi setiap orderan. Satu pigura ukuran 145 x 120 sentimeter seharga Rp 1,8 juta terpaksa dikerjakan selama seminggu, padahal biasanya cuma tiga hari.

Usaha fotokopi di sekitar Kampus Universitas Negeri Makassar juga kelimpungan. ”Siang-siang begini biasanya banyak pengunjung. Belakangan, mereka baru berdatangan malam hari ketika orderan lainnya juga tumplek,” kata Alimin, pemilik usaha fotokopi dan penjilidan di Gunungsari itu.

Listrik padam selama 5-6 jam sehari membuat para pedagang ikan hias di Pasar 16 Ilir, Palembang, sengsara atau dalam istilah Palembang saro nian.

Budi (35), salah seorang pedagang ikan hias, mengaku selama sebulan terakhir makin sering terjadi pemadaman. Listrik padam dari pagi sampai sore saat pengunjung sedang ramai. Para pedagang mengumpulkan uang untuk membeli genset.

”Untuk menghidupkan pompa udara bisa pakai baterai. Tetapi, hargo batere sikok (harga baterai satu) Rp 3.000. Kalau listrik mati seharian, butuh empat baterai,” ujar Budi. Setiap kali listrik mati, 20-30 ekor ikan hias berbagai jenis mati.

Lakoni (55), pedagang ikan hias lain, mengeluh, setiap kali listrik padam, paling tidak 10 ekor ikan hiasnya mati. Untung, ia menjual ikan hias murah Rp 5.000-Rp 10.000 per ekor.

Keluhan dan kerugian besar juga diderita usaha pengetikan komputer di sekitar Kampus Universitas Sriwijaya. Riana (20), karyawan pengetikan komputer di Jalan Sri Jayanegara, mengatakan, pemadaman listrik terjadi dua kali sehari selama 1-2 jam. Umumnya listrik baru menyala setelah pukul 17.00, padahal tempat pengetikan tersebut tutup pukul 18.00.

Menurut Manajer Bidang Distribusi PT PLN Sumsel, Jambi, dan Bengkulu Paranai, pemadaman listrik di Palembang disebabkan gangguan pada transmisi saluran udara tegangan tinggi di Gelumbang, Muara Enim. Penyebab lainnya, sedang dilakukan perawatan di beberapa mesin pembangkit dan belum normalnya kemampuan pembangkit listrik tenaga air.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Palembang Taufik Husni mengutarakan, kerugian akibat pemadaman listrik selama tiga minggu pada Oktober-November di Palembang ditaksir lebih dari Rp 1 miliar.

Pelanggan yang dirugikan bukan hanya rumah tangga dan usaha kecil, tetapi juga institusi pemerintah dan swasta. ”PLN seharusnya memberi kompensasi pengurangan tagihan listrik 10 persen,” ujar Taufik.

Jika PLN memperlakukan pelanggan sebagai raja, usaha kecil seperti pedagang ikan hias dan pengetikan komputer tidak saro nian.

(Wisnu Aji Dewabrata/ Boni Dwi Pramudyanto)

Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
fatkhul @ Sabtu, 14 November 2009 | 08:07 WIB
Apa tidak sebaiknya pihak swasta dilibatkan dlm penambahan Pembangkit Tenaga Listrik krn nampaknya pemerintah kesulitan mengatasinya

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: