
Minggu, 15 November 2009 | 09:22 WIB
Sekadar mengingatkan: Walter Benjamin juga pernah tertegun ketika melihat citraan bayang-bayang yang berbaur dengan kenyataan seperti itu di sebuah arkade di Paris. Seperti sebuah mimpi—phantasmagoria meminjam istilah yang digunakan oleh filsuf Jerman mazhab Frankfurt itu.
Bagaimana seseorang terjebak dalam phantasmagoria?
Senja di Kuta. Tiba-tiba timbul ide di benak Tanata untuk terjun ke arena di mana kenyataan tak bersekat dengan mimpi di tempatnya berdiri. Ia pun menembus kaca, menembus bayang-bayang, dan seketika mendapati wanita yang serasa pernah dikenalnya: Marianne.
”“Marianne, bagaimana kamu berada di sini?” tanyanya takjub.
Yang disapa tersenyum.
”Aku tahu kamu akan datang, cepat atau lambat,” kata Marianne. ”Kamu pengkhayal sejati.”
Marianne masih seperti dulu. Dia mengenakan blouse putih lengan pendek, memperlihatkan putih kulit lengannya. Celana jins membalut pinggangnya yang padat, terangkat oleh selop bermodel sederhana—selempang kulit hitam dengan sedikit hiasan manik-manik—bertumit tinggi. Kuku-kuku jari kakinya ber-cutex merah. Wanita ini melayani percakapan sambil membereskan meja bar, menaruh gelas-gelas yang diangkatnya dari tempat pencucian di bibir pantry dalam posisi terbalik.
”How’s life…” tanyanya.
Tanata terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Kembali Marianne tersenyum. Ia menuju alat pemutar lagu. Kuku jari-jarinya yang juga bercutex merah menyala memencet tombol alat pemutar yang kelihatan sangat kuno modelnya. ”Adanya ini…” katanya demi melihat Tanata memerhatikan alat pemutar lagu tadi. ”Aku tahu kamu menyukai ini…” lanjutnya. Mengalun lagu lembut berjudul seperti namanya.
Dari dulu, terus terang aku memujanya…
“Problemnya pasti irama, iya kan?” ucap Marianne seperti hendak menebak, mengapa Tanata tak menjawab pertanyaannya. ”Kamu menyebut, semua adalah soal irama. Irama kamu sebenarnya ada di sini.”
“Bersamamu,” tukas Tanata.
”Kamu masih suka merayu.”
”Aku sungguh-sungguh.”
”Aku tahu. Kamu jujur mengungkapkan apa yang kamu rasakan, meski aku juga tahu, seusai ini pada keadaan yang lain lagi barangkali kamu akan berkata hal serupa pada perempuan lain.”
Kali ini Tanata yang tersenyum. Marianne selalu benar. Meski, mungkin tidak kali ini.
Marianne, nama ini, kosa kata ini, berada dalam jajaran kosa kata-kosa kata lain dalam lintasan hidup Tanata, misalnya Vila Ulangun, Lila Buana, Kayuapi, Bumi Shanti, dan lain-lain. Pertama kali Tanata melihatnya di Vila Ulangun—sebuah proyek kawasan hiburan yang pada masa itu belum sepenuhnya jadi.
”Siapa dia?” tanya Tanata ketika melihat wanita itu melintas masuk Vila Ulangun. Bahkan masih diingatnya apa yang ditentengnya. Yakni, perangkat pantry untuk persiapan pembukaan bar.
”“Adik Pak Franky,” kata seseorang di situ.
”Adik Pak Franky?” Tanata mengulangi. ”Siapa namanya?”
”Marianne. Cantik ya…” yang diajak bicara berkomentar tanpa diminta. ”Pernah jadi Miss Minahasa.”
”Ooh…”
Diingatnya percakapan-percakapan mereka di masa awal perkenalan. Tanata memperkenalkan diri sebagai orang baru di situ, sebagai pemain band yang baru saja lolos audisi, yang dilakukan sendiri oleh Pak Franky.
”Dari mana asalnya?” tanya Marianne.
”Magelang,” kata Tanata. Dia selalu menyebut kota ini.” ”Dimana itu?”
”Di Jawa Tengah. Bayangkanlah Minahasa. Kota itu sama indahnya dengan Minahasa. Berbukit-bukit. Dingin.”
Marianne tersenyum.
“Saya juga belum lama di sini,” kata Marianne. ”Baru dua bulan.”
”Sudah ke mana saja?” tanya Tanata.
“Tidak pernah ke mana-mana…” jawabnya. “Tahunya hanya Bumi Shanti dan sini,” tambahnya tertawa. Bumi Shanti adalah nama banjar di mana keluarga Franky tinggal.
Marianne cukup sering membantu beres-beres di Vila Ulangun. Ketika sedikit-sedikit operasi Vila Ulangun dimulai, termasuk dibukanya bar, kadang ia tinggal di situ sampai malam, ikut sibuk.
Tanata tahu belaka bagaimana menyenangkan adik ”sang bos”. Di panggung dia bercuap-cuap kepada siapa lagu yang hendak dinyanyikannya ditujukan. Lalu mengalunlah lagu ini:
Where are the roses that I brought you, my love
Where are the poems that I wrote…
Lalu, sejak malam itu, Marianne pulang ke Bumi Shanti tidak lagi dengan jemputan mobil keluarga. Tanata mengantarnya pulang, memboncengkannya dengan Yamaha trail yang dipakainya sehari-hari. Kadang tidak langsung menuju rumah. Mereka nongkrong dulu di lapangan di tengah kota bernama Lila Buana, yang pada malam hari sampai dini hari diramaikan penjual makanan. Di situlah mereka yang biasa hidup di malam hari mencari makan pada lewat tengah malam, termasuk beberapa seniman, yang namanya cukup terkenal.
Di Lila Buana—orang menyingkatnya ”Lebanon”—Tanata menulis beberapa puisi. Itu masa hidupnya yang dirasakan paling produktif. Sebagian puisinya dimuat oleh surat kabar lokal dengan di bawahnya tertulis: ”untuk M”.
Sebuah masa, masa hujan sajak dan puisi. Seperti pisau bermata seribu, sajaknya bisa mengena kepada siapa saja: kalau toh tidak kepada seribu wanita, setidaknya pada satu, dua, atau tiga orang. Nama dari satu, dua, atau tiga orang itu masih diingatnya. Inisialnya, sebut saja dua di antaranya, Y dan S. Tentu saja selain M—Marianne.
Bersama Marianne ia membelah pulau, menuju arah utara, kehujanan, sama-sama menggigil kedinginan berteduh di dangau di daerah Batubulan. Tak ada suara apa pun senja itu. Sawah yang berundak-undak rapi itu sunyi dalam guyuran hujan senja hari.
Mereka juga sering melewatkan waktu di kawasan selatan, yang mulai ramai dengan kafe dan klub-klub musik, antara lain Kayuapi. Di sana-sini masih banyak pepohonan kelapa, di mana di bawahnya sapi-sapi berkeliaran. Sapi-sapi itu membuang kotoran, yang ketika mengering menghasilkan jamur, dan jamur tahi sapi itulah yang pada masa itu dikenal menghasilkan camilan yang membuat mereka fly: mushroom omelette.
Berdua mereka fly, melayang dalam sajak dan jamur tahi sapi…
Sebenarnya banyak yang bisa diceritakan Tanata, terlebih ketika bersama keluarga, mereka memilih liburan di pulau ini. Hanya saja, siapa yang hendak mendengar ceritanya kini? Siapa yang masih bersedia mendengar cerita mengenai sajak-sajaknya, mengenai lagunya, mengenai sepeda motor Yamaha trail yang dijualnya untuk ongkos pindah ke Jakarta, mengenai William Butler Yeats, mengenai Umbu Landu Paranggi, mengenai teman sekamarnya yang menguangkan wesel kiriman dari surat kabar yang memuat tulisannya tanpa sepengetahuannya, setelah itu mentraktirnya, dengan uang yang sebenarnya uangnya sendiri? Tanata tersenyum mengenang masa itu.
Kini, semua orang di sekelilingnya, anak istrinya, sibuk dengan gadget masing-masing, dari handphone, Blackberry, sampai laptop yang pada liburan seperti ini pun tetap menyertai mereka semua. Begitu masuk hotel, mereka langsung membuka laptop. Pada kegiatan di luar, entah di mobil atau di manapun, semua sibuk dengan perangkat teknologi informasi di tangan masing-masing. Pada masa sebelumnya, hanya satu tangan mereka sibuk memencet-mencet. Kini, dengan peralatan makin canggih, kedua tangan mereka terpacak di situ, kepala menunduk, tak pernah melihat kiri-kanan. Sawah-sawah yang masih tersisa, pintu pura yang mereka lewati, Taman Ayun, langit jingga, anak-anak main layang-layang dengan bentuk menakjubkan, semua tak ada artinya bagi mereka.
Mata mereka hanya mengarah ke layar handphone. Ketika diajak bicara paling berujar ”hehh”, atau ”apa?”, justru ketika penjelasan telah berlalu. Saat berjalan berendeng-rendeng, kadang Tanata harus menoleh kesana-kemari, mencari anggota keluarganya entah itu istri atau anak, yang tercecer karena mereka berjalan sambil menunduk, sibuk memperhatikan layar handphone, bukan keadaan sekeliling di mana mereka berada.
”Perhatikanlah sekeliling, supaya tidak kehilangan ruang dan waktu,” ucap Tanata.
”Apa?” kata yang diajak bicara, sebelum sibuk lagi dengan handphone-nya.
Dunia kenyataan, telah menjadi dunia niskala. Lagi-lagi Tanata tersenyum. Kenyataan—realitas darah dan daging— telah lenyap bagi mereka.
Tiba-tiba saja, di depan deretan toko-toko, butik, kafe dan restoran yang sudah sangat ramai dibanding puluhan tahun lalu ketika dia menghasilkan sajak-sajaknya di sini, Tanata mendapati dirinya sendirian. Benar-benar sendirian. Ia hanya dengan bayangannya sendiri yang menyatu dengan manekin, benda-benda dan huruf-huruf di kaca etalase.
Bagaimana kalau aku terjun ke situ, pikirnya. Maka masuklah Tanata menembus bayang-bayang, masuk dalam dunia phantasmagoria. Seperti mimpi—ah, benar-benar mimpikah, atau sebaliknya malah ini kenyataan—dia bertemu lagi dengan Marianne. Marianne yang masih seperti dulu: cantiknya, wanginya, dan dayanya mendengar setiap potong ucapannya.
”Dengarkan, sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu tadi,” kata Tanata kepada wanita yang sangat menyenangkan ini.
”Pertanyaan yang mana?” tanya Marianne.
”Bukankah kamu tadi mengatakan, aku jujur mengungkapkan apa yang aku rasakan, meski menurut kamu, seusai ini pada keadaan yang lain aku akan berkata hal serupa pada perempuan yang lain…”
”Itulah dirimu yang kukenal,” kata Marianne.
”Itulah aku yang kamu kenal dulu,” tukas Tanata. “Kini aku hendak mengatakan, bahwa aku mengatakan ini hanya padamu.”
”Kamu bermimpi…”
”Aku tidak bermimpi.”
”Ini dunia phantasmagoria…” ucap wanita cerdas ini. :Kamu bisa tak pulang lagi ke duniamu.”
”Aku memang tak ingin pulang…”
Di manakah realitas virtual, simulakra, phantasmagoria, atau apa pun namanya tergantung referensi apa yang kita gunakan, berakhir, dan sesuatu yang nyata, real, berdarah daging, memulai dirinya lagi? Tak jelas. Walter Benjamin sendiri tak pernah menyelesaikan proyek arkade-nya, passangenwerke-nya.
Manusia=mesin. Realitas=ilusi. Marianne=ilusi. Marianne=benar-benar ada. Masa lalu=masa kini.
Bagaimana membedakan itu semua? Pada musim liburan itu, sebuah keluarga, seorang ibu dan anak-anaknya, panik ketika menyadari telah kehilangan kepala keluarga.
Keluarga itu real=keluarga itu tidak real. Istri itu real=istri tidak real. Marianne tidak real=istri tidak real. Marianne real=istri tidak real. Nah, semembingungkan itu implikasi dunia phantasmagoria di mana Tanata terseret di dalamnya.
Keluarga itu sibuk dengan handphone dan peralatan teknologi informasinya, mengabarkan hilangnya Tanata. Seluruh anggota jemaat dunia maya menyambut ramai. Berita berseliweran, baik lewat SMS, Facebook, maupun percakapan handphone. Ada yang menanggapi serius, sangat serius, ada juga satu-dua yang main-main.
”Dia nyeleweng…” begitu seseorang berkomentar.
”Suamiku tidak nyeleweng. Dia hilang,” kilah sang istri.
”Hilang=nyeleweng. Nyeleweng=hilang,” yang berkomentar tak mau kalah.
Mereka terus sibuk satu sama lain. Semua menatap layar handphone atau komputernya masing-masing. Tak ada yang menoleh ke kiri ataupun ke kanan.
Giliran dunia phantasmagoria memanipulasi mereka. Tak ada yang menyadari, Tanata sebenarnya di situ-situ saja. Ia bersama Marianne, menertawakan semua orang.
Suwung, September 2009