
Senin, 16 November 2009 | 03:11 WIB
Demikian dikemukakan Ketua Kamar Dagang dan Industri Sumatera Selatan Ahmad Rizal di Palembang, Minggu (15/11).
”Jaminan pasokan listrik di suatu daerah merupakan salah satu item yang selalu menjadi prasyarat investor sebelum menanamkan modalnya. Jika di Sumatera bagian selatan masih sering terjadi pemadaman, ini tidak baik di mata investor,” kata Rizal.
Secara terpisah, Sekretaris
”Mungkin perusahaan masih bisa mengejar target produksi, tetapi bagaimana dengan biaya produksi yang membengkak karena perusahaan harus mengoperasikan diesel pembangkit listrik akibat adanya pemadaman,” kata Awi.
Saat ini, menurut Rizal, sebagian besar pabrik yang beroperasi di Sumsel memproduksi bahan setengah jadi. Artinya, dari investasi yang sudah ada saja, potensi pendirian atau pengembangan pabrik pengolah bahan setengah jadi ke bahan jadi sangat terbuka lebar.
Di samping itu, Sumsel juga memiliki potensi alam yang besar, di antaranya adalah kandungan batu bara yang diperkirakan volumenya 46 persen dari cadang nasional.
Komoditas perkebunan, seperti kepala sawit, karet, kopi, dan kelapa, pun produksinya menjanjikan. Berdasarkan data yang termuat dalam portal resmi Pemerintah Indonesia, total luas perkebunan Sumsel pada 2007 saja seluas 1.878.983 hektar, terdiri atas perkebunan milik rakyat dan perusahaan. Komoditasnya meliputi karet, kelapa sawit, tebu, kopi, kelapa, dan lada dengan total produksi 4.040.150 ton.
Tak kalah menjanjikan adalah produksi buah-buahan, semisal duku dan durian. Berdasarkan data yang sama, luas perkebunan duku mencapai 3.851 hektar dengan produksi 62.226 ton dan perkebunan durian 40.486 hektar dengan total produksi 29.000 ton.
Posisi Sumsel yang berada di antara jalur Jakarta dan Singapura, menurut Rizal, menjadikannya semakin strategis sebagai daerah tujuan investasi. Hal ini didukung infrastruktur jalur darat, sungai, dan laut yang dinilai cukup.
”Maka menjadi ironis kemudian jika Sumsel yang sangat