Rabu, 10 Februari 2010
KOLOM OLAHRAGA
Pacquiao, Pahlawan Semua Orang

Kamis, 19 November 2009 | 03:09 WIB

Anton Sanjoyo

Di MGM Grand Garden Arena, Los Angeles, olahraga tinju mencatat sejarah baru. Manny Pacquiao, yang posturnya lebih mungil, membulan-bulani Miguel Cotto dengan puluhan pukulan telak. Pacquiao lantas merebut gelar juara dunia kelas welter, atau gelar juara yang ketujuh di tujuh kelas berbeda. Pencapaian yang tidak pernah dilakukan oleh petinju mana pun.

Beberapa saat sebelum Pacquiao menggoreskan namanya, ribuan kilometer darinya, jutaan warga Filipina sedang berduka. Tiga topan badai yang datang beruntun membuat negeri pulau di Asia Tenggara itu porak poranda. Namun, nestapa itu segera terobati saat Pacquiao mengangkat sabuk juara kelas welter yang baru saja dia rebut dari Cotto.

”Ia petarung terbesar sepanjang sejarah tinju,” ujar Hermogenes Guiterez, seorang insinyur yang menonton laga Pacquiao lewat layar televisi di sebuah restoran di Manila. ”Ia membuat seluruh rakyat Filipina bangga. Ia adalah pahlawan kami.”

Di MGM Arena, kita tahu, Pacquiao bertarung bukan cuma dengan teknik dan penuh gaya, tetapi juga dengan hatinya. Ia bertinju demi keluarganya, demi sang ayah, demi sobat karibnya, almarhum Mark Penaflorida, dan terutama demi rakyat Filipina yang sedang didera prahara. ”Merupakan satu kehormatan merebut tujuh gelar juara,” ujar Pacquiao. ”Ini sejarah, bukan saja bagi saya, tetapi terlebih, dan ini jauh lebih penting, bagi Filipina,” lanjut Pacquiao, 30 tahun, yang mulai terjun ke tinju profesional pada usia 16 tahun.

Presiden Filipina Gloria Macapagal-Arroyo, yang sedang mengikuti pertemuan puncak Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Singapura, menyempatkan diri mengirimkan ucapan selamat. Arroyo menyebut, ”kemenangan yang tak pernah dicapai sebelumnya” itu akan menjadi inspirasi bagi kaum muda Filipina. Arroyo bahkan menyebut, sukses Pacquiao akan menjadi modal besar bagi bangsa Filipina untuk terus bergerak maju.

Seperti kata Presiden Arroyo, Pacquiao tak pernah gentar dan terus maju saat menghadapi Cotto. Tubuhnya yang kecil tetapi penuh otot bergerak cepat menembus pertahanan rapat Cotto. Seperti julukannya, Pac-Man—tokoh video games yang diciptakan perusahaan Jepang, Namco Ltd, tahun 1980-an—yang terus merangsek maju, Pacquiao membuat rekor hebat Cotto (34 menang, 2 kalah, 27 menang KO) seperti tak berarti apa pun.

Dengan kakinya yang selincah kijang dan tubuh lentur bak seekor kucing hutan, Pacquiao masuk menyerang dengan cepat, lantas menghindar dengan cepat pula. Terkadang, sambil meliuk menghindar, ia pun masih sempat mendaratkan pukulan telak. Meski tubuhnya relatif kecil, bobot pukulan Pacquiao jauh lebih berat. Pada ronde kesembilan, wajah Cotto sudah tak berbentuk dengan kedua bola mata nyaris tertutup bengkak saat istrinya, Melissa Guzman, dan anak lelakinya, Miguel Cotto III, meninggalkan arena.

Sabtu malam itu, Cotto menghadapi laganya yang paling pahit. Ia dihujani pukulan tanpa mampu membalas dengan layak. Cotto memang melawan dengan sengit, tetapi lawan yang dihadapi bak ada dan tiada. Pacquiao ibarat hantu, serangannya secepat kilat menghantam setiap sudut wajah Cotto, tetapi sulit diserang balik.

”Saya tak pernah tahu dari mana datangnya pukulan-pukulan itu,” ujar Cotto. ”Saya tidak mampu melindungi diri dari pukulan-pukulan itu,” papar Cotto yang bergegas ke rumah sakit memeriksakan luka di alis dan memar di wajahnya.

Menjelang ronde ke-12, Cotto sebenarnya sudah ”menyerah”. Saat pelatihnya, Joe Santiago, membisikkan strategi untuk bertahan di ronde terakhir itu, Cotto sudah tak mendengarkan lagi. Matanya menerawang, kosong. Ia hanya berkata pendek, ”Masih satu ronde lagi?” Kurang dari satu menit setelah itu, wasit menghentikan pertarungan dan memberikan kemenangan TKO bagi Pacquiao.

Di Manila dan hampir seluruh pelosok Filipina, rakyat berpesta dan menari di jalan. Militer Filipina yang sedang getol memburu pemberontak pun menghentikan serangan-serangannya saat Pacquiao berlaga di Las Vegas. Wajah duka rakyat Filipina yang sedang banyak diterpa bencana alam mendadak ceria. Tak terasa, Pacquiao, yang jauh sebelum laga melawan Cotto sudah menjadi pahlawan bagi bangsa Filipina, mengukuhkan dirinya sebagai pemersatu bangsa.

Pacquiao bukan sekadar petinju atau bintang olahraga. Ia sudah menjelma menjadi superstar global. Ia menyanyi dan menghasilkan sejumlah album yang dua di antaranya laku keras. Ketenaran Pacquiao membuat majalah Time memasukkannya dalam daftar tokoh dunia yang paling berpengaruh 2009. Penghargaan ini diberikan atas dedikasi Pac-Man pada olahraga tinju dan pengaruh prestasinya pada rakyat Filipina. Majalah Forbes juga memasukkan Pacquiao dalam daftar selebriti paling tajir 2009, bergabung dengan sejumlah pesohor Hollywood seperti Angelina Jolie dan superstar olahraga seperti Tiger Woods dan Kobe Bryant.

Forbes juga mendaftar nama Pacquiao sebagai atlet paling kaya nomor enam pada periode tengah tahun 2009 dengan kekayaan total 40 juta dollar AS. Pemilik nama lengkap Emmanuel Dapidran Pacquiao ini hanya kalah oleh Woods, Bryant, Michael Jordan, Kimi Raikkonen, dan David Beckham.

Terlahir dari keluarga miskin di wilayah kumuh Kibawe, di kota kecil Bukidnon di Mindanao, Pacquiao sudah terbiasa menghadapi kerasnya kehidupan. Ia kerap berkelahi hanya untuk mendapatkan makanan, bagi dirinya dan keluarganya. Ia berjualan pandesal, roti khas Filipina, di sudut jalan dekat rumahnya untuk menafkahi dirinya sendiri dan keluarganya.

Meski jago berkelahi, di lingkungan terdekat, Pacquiao kecil terkenal rendah hati dan suka menolong. Ia ingin menjadi pastor, tetapi sang ibu, Dionisa—yang membesarkan Pacquiao dengan empat saudara lain seorang diri—tak sanggup membiayainya sekolah. Pacquiao hanya lulus sekolah dasar dan melanjutkan ”sekolah” di sasana tinju.

Tumbuh dengan kerendahan hati orang tak berpunya, Pacquiao tak pernah melupakan asal usul dan kawan-kawan dekatnya. Saat berlaga melawan Oscar De La Hoya, Pacquiao mengirimkan uang setengah juta dollar AS lebih kepada sahabat masa kecilnya untuk membeli tiket pesawat ke AS.

Share on Facebook
A A A
Ada 1 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
leo christian l @ Jumat, 20 November 2009 | 00:52 WIB
salut u/ Mr.Pac-man. smoga Bang Chris Jhon bsa mengikuti jejalx..

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: