
Jumat, 20 November 2009 | 02:53 WIB
Jakarta, Kompas -
Syafii menegaskan, sudah bukan saatnya lagi bagi Presiden Yudhoyono mengatakan dirinya tidak ingin dipaksa-paksa dalam membuat keputusan.
Pernyataan itu disampaikan Syafii, Kamis (19/11) di sela-sela diskusi bertema ”Skandal Korupsi Bank Century, Apa Solusinya?” oleh Grup Diskusi Aktivis 77-78. Hadir antara lain inisiator hak angket kasus Century, Maruarar Sirait (Fraksi PDI-P), Akbar Faisal (Fraksi Partai Hanura), Laode Ida (Wakil Ketua DPD), Suhardi (Ketua Umum Partai Gerindra), dan Dradjad Wibowo (pakar ekonomi dari Partai Amanat Nasional).
”Sekarang yang diperlukan itu langkah luar biasa untuk menyelesaikan kasus yang menghebohkan ini, dan itu akan menentukan apakah pemerintahan ini akan punya legitimasi moral dan sosial. Jika kedua itu hilang, legitimasi konstitusionalnya pasti akan ikut gugur,” ujar Syafii.
Menanggapi keprihatinan Presiden Yudhoyono terkait desas-desus terhadap dirinya dan keluarganya, Syafii menilai itu sah-sah saja. Namun, ia mempertanyakan, apakah keluhan itu tidak sebaiknya disampaikan pada kesempatan lain setelah persoalan utama, seperti melaksanakan rekomendasi Tim Delapan, dituntaskan dengan maksimal. Sebagai presiden terpilih, seharusnya Presiden Yudhoyono mendahulukan kepentingan rakyat.
”Jangan mengerjakan yang pinggir-pinggir dahulu. Rekomendasi Tim Delapan harus secepatnya dikerjakan. Kalau tidak, nanti rekomendasi itu akan jadi ’masuk angin’. Semakin lama, berbagai spekulasi liar akan bermunculan dan itu berbahaya sekali,” ujar Syafii.
Tim Delapan, menurut Syafii, adalah bentukan Presiden Yudhoyono sendiri sehingga hasil rekomendasinya dapat dipastikan tidak bertujuan ingin menjatuhkan pihak mana pun, termasuk Presiden.
Dihubungi secara terpisah, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ikrar Nusa Bhakti, menilai isi rekomendasi Tim Delapan sudah sangat moderat. Apalagi, para anggota tim itu bukan orang sembarangan.
”Bisa dibilang mereka adalah para resi di bidang masing-masing. Mereka menyusun rekomendasi tidak dengan emosional dan juga bukannya tanpa data. Mereka banyak melakukan cek dan cek ulang sehingga semua rekomendasi adalah yang terbaik dari yang bisa dibuat,” ujar