Rabu, 10 Februari 2010
SELAT SUNDA
Keberadaan Jembatan Belum Mendesak

Jumat, 20 November 2009 | 03:27 WIB

Jakarta, Kompas - Pembangunan Jembatan Selat Sunda melahirkan pro-kontra. Di satu sisi, ada yang menghendaki agar dana Rp 117 triliun untuk pembangunan jembatan itu dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur lain yang mendesak. Di sisi lain, pembangunan jembatan itu akan memperlancar arus barang Jawa-Sumatera.

Ahli transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, Kamis (19/11) di Semarang, menyatakan, dana untuk pembangunan jembatan itu sebaiknya untuk membangun infrastruktur yang lebih mendesak.

Infrastruktur mendesak yang belum terbangun, antara lain, adalah kereta api Bandara Soekarno-Hatta, revitalisasi kereta api, Tol Trans-Jawa, dan transportasi massal di kota-kota besar di Jawa dan Sumatera.

Menurut Wakil Ketua Umum Indonesian Ferry Association (IFA) Bambang Harjo, tingkat keterisian feri Merak-Bakauheni hanya 70 persen. Itu pun karena hanya 16 kapal dari 34 kapal yang beroperasi optimal karena terbatasnya dermaga. Ketika Dermaga V, VI, VII, dan VIII Merak selesai dibangun, tingkat keterisiannya tinggal 30 persen.

Dijelaskan, uang untuk investasi Jembatan Selat Sunda bisa untuk membeli 1.450 unit feri. Saat ini di Indonesia hanya ada 200 unit feri. ”Dengan Rp 117 triliun tak hanya menyelesaikan urusan transportasi di Selat Sunda, tetapi hingga pelosok Indonesia Timur,” kata Bambang.

Djoko mengingatkan, tanpa kesiapan infrastruktur jalan di Jawa dan Sumatera, Jembatan Selat Sunda akan sia-sia. ”Apakah pernah dihitung beban di persimpangan Tomang, ketika semua kendaraan dari Sumatera memasuki Jakarta,” ujarnya.

Menurut Djoko, barang dari Banda Aceh, Medan, atau Padang ke Pulau Jawa lebih efisien dengan kapal laut karena jaraknya hingga 1.000 kilometer. Adapun dari Sumatera Selatan dan Bengkulu, sepatutnya memberdayakan KA barang Lubuklinggau- Tanjung Karang dan Palembang-Tanjung Karang.

Namun, menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan, pembangunan Jembatan Selat Sunda memperlancar arus barang jadi maupun bahan baku. ”Dampak lebih luasnya, pengembangan kawasan industri. Tetapi harus diperhatikan, pembangunan Jembatan Selat Sunda tidak akan bermanfaat bila kondisi Jalan Lintas Sumatera tidak diperbaiki.

(OSA/RYO)

Share on Facebook
Nilai 4 A A A
Ada 5 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
pynky @ Jumat, 20 November 2009 | 17:59 WIB
betul, yabg perlu dibangun jalan tol da kereta api trans sumatera
akang @ Jumat, 20 November 2009 | 16:42 WIB
harusnya negeri ini memang memiliki jembatan yg menghubungi antar pulau besar terutama jawa-sumatera untuk meratakan pembangunan, gak hanya di jawa melulu.
riant @ Jumat, 20 November 2009 | 11:18 WIB
bwt pemerintah.klo bgun infrastruktur jgn hanya pulau jawa dan sumatera sj.perhatikan jg pulau yg lain.nti dpt menimbulkan sentimen negatif masyrkt daerah.
ismaill @ Jumat, 20 November 2009 | 10:31 WIB
Iya bener, sebaiknya jangan buru-buru dulu. Nanti jadi proyek mercu suar. Yang penting benahin dulu infrastruktur baik di sumatera maupun di jawa..............
dero @ Jumat, 20 November 2009 | 07:58 WIB
indonesia negara kepulauan dari taon jebot.. jadi hal itu lah yang harus di benahi dan majukan beserta kondisi jalan jalan negara yang rusak parah.....

Form Komentar

  • Silahkan isi nama Anda

  • Silahkan isi email Anda.

  • Silahkan isi komentar Anda.

INDEX LALU
Tanggal: